
Beberapa pekan kemudian.
Pemandangan serta suasana yang sangat dinanti-nantikan oleh seorang pangeran muda bernama Altezza di Kerajaan Zephyra. Sinar mentari yang terasa lembut, suasana hangat, dan salju-salju yang perlahan mulai mencari, memperlihatkan pemandangan hijau yang sebelumnya tertimbun dinginnya salju. Altezza berdiri di tengah taman bunga yang ada di samping istananya, dan memperhatikan bunga-bunga indah yang perlahan mulai kembali bermekaran.
Pagi yang indah di awal musim semi, musim yang sangat ditunggu oleh Altezza. Pangeran itu terlihat tidak sabar dan sangat antusias, karena sebentar lagi dirinya akan segera memulai perjalanan panjangnya menuju ke Benua Timur. Dirinya telah menentukan akan berangkat di sore hari, hari ini.
Altezza telah mengatur segala persiapannya, dan juga telah mengatur segala keperluannya yang harus ia tinggal di istana. Kenan dengan posisi jabatan barunya, menggantikan Altezza di balik meja kerjanya, dan siap bertanggung jawab atas segala tugas yang biasanya dilakukan oleh pangeran muda itu. Tidak ada orang lain, Altezza mempercayakan semua hal tersebut kepada Kenan.
"Ada yang sedang bersemangat dan antusias rupanya," cetus Raja Aiden, berjalan menghampiri putra bungsunya yang tengah menikmati suasana tenang dan hangat di antara bunga-bunga yang mulai bermekaran.
Altezza memandang ayahnya, tersenyum dan berkata, "terima kasih sudah mengizinkanku untuk pergi berkelana!"
Raja Aiden tampak tersenyum, berjalan beberapa langkah ke depan, kemudian berhenti, menatap langit biru yang indah dan cerah sembari berkata, "Caitlyn sudah berbicara banyak denganku mengenai impianmu menjadi pengembara."
Pria berjubah raja berwarna merah itu kemudian menoleh ke belakang, menatap putra bungsunya dan kembali berbicara, "pergilah ke tempat-tempat yang belum pernah kau jelajahi, belajarlah banyak hal, dan bertemanlah dengan banyak orang, Altezza."
"Aku sadar, kau sudah bukan lagi bocah laki-laki yang harus selalu diatur dalam segala hal," lanjut Raja Aiden, kembali menghampiri laki-laki tersebut, dan berdiri tepat di depannya.
"Jaga dirimu baik-baik, Altezza. Dan ingatlah, semua keputusan dan apapun yang kau lakukan hari ini, dapat mempengaruhi hari esok serta masa depan mu," lanjut Raja Aiden, kemudian tersenyum kecil dengan tatapan seriusnya seperti biasa.
Perasaan Altezza sangat tenang dan sejuk, apalagi ketika mendengar semua yang dikatakan oleh ayahnya. Di sisi lain, ia berpikir bahwa semua keputusan perizinan yang dibuat oleh Raja Aiden juga karena peran dari ibundanya.
__ADS_1
"Terima kasih, Ayah."
...
Waktu terus berjalan, dan tibalah saat di mana pangeran muda itu keluar dari benteng istananya. Di sore hari yang sangat amat cerah ini. Altezza sudah berdiri di depan gerbang benteng ibu kota, dihantar oleh Raja Aiden, Ratu Caitlyn, Pangeran Welt dan istrinya yaitu Clara, dan yang terakhir adalah Kenan. Tak hanya mereka berempat, namun juga menarik perhatian banyak rakyat kerajaan yang turut menyaksikan keberangkatan pangeran kedua Zephyra.
Altezza terlihat menggunakan pakaian sederhana, baju berwarna abu-abu dengan jubah berwarna hitam, celana panjang berwarna gelap, begitupula dengan sepatu yang ia pakai. Terdapat pedang yang tersarungkan rapi dan bergelantung di pinggangnya, dan sebuah tas ransel berwarna cokelat yang ia bawa di punggungnya.
Ratu Caitlyn tampak senang, tersenyum, namun dengan kedua mata berkaca-kaca. Ia memeluk putra bungsunya dan berkata, "jangan lama-lama perginya, dan jangan lupa sering-sering kirimkan surat ...!"
Altezza tertawa kecil, tersenyum dan menanggapi, "aku tidak bisa janji untuk tidak lama-lama, namun tentu aku akan kirimkan surat untuk kalian," sesaat setelah Caitlyn melepaskan pelukannya.
"Hati-hati, banyak orang jahat di luar sana, Altezza. Jangan segan terhadap mereka," cetus Welt, tersenyum kecil memandang ke arah adiknya.
Tak hanya Raja dan Ratu serta kakaknya yaitu Welt yang terlihat bersedih. Namun Clara dan Kenan juga tampak sedih dengan keputusan Altezza untuk pergi berkelana. Tentu akan membutuhkan waktu yang lama bagi Altezza untuk kembali.
"Cepatlah kembali, ya ...!" ujar Clara, tersenyum kecil kepada Altezza dengan tatapan sedikit berkaca-kaca.
Altezza hanya tersenyum kepada mereka, sebelum kemudian perhatiannya tertuju kepada Kenan yang terlihat ingin menangis di hadapannya. Pengawal setia yang hampir selalu menemaninya di manapun dan dalam keadaan apapun, kini terlihat sedih terhadap dirinya yang hendak berangkat.
"Kenan, aku akan kembali, jadi tidak perlu sampai terlalu dalam bersedih seperti itu," ucap Altezza, melangkah sedikit lebih dekat kepada Kenan.
__ADS_1
Kenan mencoba untuk tersenyum, "saya akan selalu menunggu kedatangan anda, Yang Mulia. Kapanpun itu, saya akan selalu ada di sini untuk anda," ucapnya, kemudian mengusap kedua matanya yang cukup basah dengan salah satu lengannya. Namun Altezza malah terlihat tersenyum dan tertawa kecil, lantaran dirinya belum pernah sama sekali melihat sosok kesatria terbaik kerajaan meneteskan air matanya.
Beberapa kata perpisahan telah disampaikan oleh keluarganya, kini waktu bagi Altezza untuk berangkat. Laki-laki itu sudah diambang gerbang besar benteng kerajaan miliknya, dan pandangannya sudah menatap hamparan hijau yang masih tampak basah karena salju-salju yang baru saja mencair. Langkah pertama dilakukan oleh Altezza dengan suasana hati yang sangat bersemangat dan antusias, ia perlahan berjalan melewati gerbang besar yang terbuka lebar tersebut.
"Tu-tunggu! Yang Mulia, tunggu!"
Suara yang tidak asing di kedua telinganya, membuat Altezza menghentikan langkahnya sejenak ketika baru saja beberapa langkah keluar dari gerbang tersebut. Ia kemudian menoleh ke belakang, dan melihat sosok Bianca yang berlari ke arahnya.
Bianca menghentikan langkahnya ketika sudah berada dekat di hadapan Altezza, dan tertunduk dengan napas tersengal-sengal. Pandangan mata perempuan itu kemudian menatap Altezza dan berkata, "saya kira saya akan terlambat."
"Yang Mulia, saya ingin memberikan ini kepada anda, anggap saja ini sebagai pengingat kampung halaman jika anda sedang merindukannya," lanjut Bianca, memberikan sebuah gelang sederhana berwarna hijau muda kepada Altezza.
Altezza tersenyum melihat usaha gadis berseragam petugas perpustakaan itu hingga berlari mengejar dirinya, "kamu membelikan ini untukku?" tanyanya, menerima gelang tersebut dengan salah satu tangannya.
"Saya membuatnya semalam, Yang Mulia." Bianca masih terengah-engah, menjawab pertanyaan tersebut.
Gelang hijau muda dengan tekstur yang terasa lembut seperti sutra yang dirajut kecil-kecil. Altezza tersenyum mendengar bahwa gelang tersebut adalah buatan tangan, "benarkah? Terima kasih, Bianca. Aku akan memakainya selalu," ucapnya, kemudian memakai gelang tersebut.
"Yang Mulia, jagalah diri anda baik-baik, dan jangan sampai sakit di tengah perjalanan anda. Saya akan menantikan kepulangan anda," ujar Bianca, menatap dalam-dalam Altezza dengan kedua iris mata indahnya berwarna cokelat muda yang tampak cukup berkaca-kaca.
Altezza tersenyum dengan tatapan lembutnya menjalin kontak mata dengan Bianca, "aku akan mengirim surat kepadamu, jadi jangan lupa dibalas, ya ...!" ucapnya.
__ADS_1
Bianca mengangguk antusias, tersenyum bahagia dan berkata, "saya akan menantikan surat anda, Yang Mulia!"