
Ratusan bahkan ribuan kelelawar itu tak kunjung pergi, malahan semakin meluas dan merambat merusak ladang-ladang pertanian yang dekat dengan desa. Banyak warga desa yang berusaha untuk menghalau, bahkan mereka sudah membawa beberapa obor untuk mengusir kelelawar yang tak seharusnya berkeliaran di tengah matahari sedang bersinar. Namun usaha tersebut tak membawakan hasil alias nihil, malah justru membuat para kelelawar kecil itu semakin mengganas merusak pertanian.
Altezza berinisiatif untuk membantu, ia berjalan menuruni sedikit lereng bukit, dan berjalan di jalan setapak tanah menuju ke ladang terasering itu. Laki-laki berbaju abu-abu dan mengenakan jubah berwarna hitam itu kini berdiri di bagian paling atas terasering, dan berjarak sangat dekat dengan ribuan kelelawar yang masih merusak tumbuhan.
Pedangnya masih tersarungkan secara rapi, bergelantung di ikat pinggangnya. Tanpa senjata tajam tersebut, Altezza hanya mengulurkan salah satu tangannya seperti hendak meraih sesuatu, dan memejamkan matanya sejenak. Hanya dalam hitungan beberapa detik, sebuah hembusan angin lembut mulai terasa dan semakin kencang, menciptakan sebuah penghalang yang menghalangi rombongan kelelawar itu agar tak bisa menyerang tumbuhan lagi.
Seluruh warga desa yang melihatnya hanya bisa terdiam, tertegun kagum menyaksikan sebuah kekuatan magis yang jarang sekali mereka lihat, lantaran ladang pertanian milik mereka seakan memiliki sebuah pelindung yang terbuat dari angin dan membatasi serta membuat pergerakan para kelelawar tidak bisa lagi menyerang tumbuhan mereka.
"Bagaimana dia bisa melakukan itu?" tanya Iris, berdiri di samping ibunya bersama adik kecilnya yakni Aria.
"Roh angin!! Ibu, Kakak, Roh angin datang!" seru Aria dengan tatapan berseri-seri, menatap ke arah Altezza yang berdiri cukup jauh di ladang terasering paling atas.
Seorang pria dengan pakaian kotor lumpur baju berwarna putih dan celana berwarna cokelat mendatangi Olivia sembari bertanya, "siapa pemuda itu?"
"Dia pengembara dari Zephyra yang baru saja mampir ke desa kita," jawab Olivia.
"Papa, lihat! Kak Altezza dikelilingi roh angin," cetus Aria, menunjuk ke arah Altezza.
"Altezza ...?"
Altezza hanya berdiri di sana, bahkan tanpa bergerak sedikitpun. Ketenangannya yang sungguh luar biasa, bahkan tubuhnya saat ini dapat terlihat dikelilingi oleh tiupan angin lembut. Rombongan kelelawar itu tak sanggup menyentuh sedikitpun tumbuhan yang ada di ladang pertanian itu, dan akhirnya mereka pun menyerah, terbang kembali masuk ke dalam hutan yang terletak tak jauh dari sana.
Angin yang sebelumnya bertiup kencang, kini perlahan melamban dan kembali seperti normal. Kedua mata Altezza perlahan terbuka, dan menatap ke arah hutan di mana para kelelawar itu pergi dengan tatapan curiga, sebelum kemudian dirinya kembali ke arah Olivia dan keluarganya.
__ADS_1
"Terima kasih sudah membantu membuat mereka pergi," ujar pria itu kepada Altezza, "dari kemarin mereka sering sekali mengusik pertanian kami," lanjutnya.
Altezza hanya tersenyum dan kemudian berkata, "sepertinya ada yang membuat mereka resah, sehingga mereka sering masuk dan mengusik pemukiman."
"Kak, kakak keren sekali memanggil roh angin itu dan mengusir mereka!" cetus Aria, tiba-tiba sudah berdiri tepat di samping Altezza, sedikit menengadahkan kepalanya untuk bisa menatap laki-laki itu. Altezza hanya tertawa kecil, begitu pula dengan Olivia dan Iris ketika menyaksikan Aria yang terlihat senang sekali melihat sosok Altezza di hadapannya.
"Perkenalkan, aku adalah kepala desa Blissville, namaku Liam," ujar pria bernama Liam, yang ternyata adalah kepala desa.
"Kepala desa ...?" gumam Altezza tampak cukup tidak menyangka dengan apa yang ia dengar.
...
Setelah dari ladang, dan semua warga kembali memperbaiki seluruh kerusakan yang dialami pada pertanian mereka. Altezza kembali ke rumah yang rupanya adalah rumah milik kepala desa, dan dirinya baru mengetahui hal tersebut setelah beberapa jam berlalu.
"Sebuah kehormatan bagi saya bisa bertemu langsung dengan anda," ujar Altezza kepada Liam, kepala desa di desa tersebut.
"Katamu ada yang membuat para kelelawar itu resah, sehingga mereka mengusik pertanian serta pemukiman kami. Apakah itu benar?" tanya Liam, serius, karena permasalahan ini akan sangat menghambat pertumbuhan pertanian di desanya jika tak segera terselesaikan.
Altezza mengangguk dan berkata sesuai dengan apa yang ia lihat, "iya, gerak-gerik mereka tak seperti kelelawar pada umumnya, apalagi mereka secara bergerombol terbang di bawah teriknya matahari," ucapnya.
Liam melipat kedua lengannya di atas dada, dan tampak sedang berpikir-pikir. Iris mendatangi mereka berdua dengan membawa nampan kosong di salah satu tangannya, sebelum kemudian mengisi nampan tersebut dengan cangkir milik Altezza dan Liam yang sudah kosong sembari berkata, "akan ku isi ulang kembali."
"Terima kasih," ujar Altezza.
__ADS_1
"Kalau tidak salah Kerajaan Lagarde sedang memiliki proyek goa pertambangan yang lokasinya tidak jauh dari desa ini, apakah hal itu ada hubungannya dengan para kelelawar ini?" ucap Liam, kemudian bertanya dengan menatap Altezza.
Altezza sendiri tidak tahu-menahu soal proyek pertambangan tersebut, namun sepertinya hal itu masuk akal, "mungkin saja bisa," ucapnya namun kemudian bertanya, "memangnya di mana letak goa yang anda maksud? Apakah itu dekat dengan desa ini?"
Liam mengangguk, "iya, besok aku akan menunjukkan tempatnya, tidak perlu lebih dari lima belas menit dari desa ini untuk bisa sampai ke goa tersebut," jawabnya.
Di tengah perbincangan yang perlahan sudah mulai lengang. Aria semakin mendekat dan bertanya kepada Altezza, "apakah kakak bisa menunjukkan roh angin itu lagi?" dengan tatapannya seolah memohon hal tersebut dikabulkan.
Altezza tersenyum memandangi Aria, dan seolah teringat kepada anak-anak di kerajaannya beberapa waktu lalu ketika mengajaknya bermain salju. Laki-laki itu kemudian menjawab, "baiklah!"
Aria tampak tersenyum senang, dan tidak sabar melihat sihir angin yang ia sebut sebagai roh angin itu. Altezza sedikit mengangkat tangan kanannya, dan kemudian hanya sekadar menjentikkan jarinya sekali. Hembusan angin perlahan terasa lembut, dan terpusat pada telapak tangan kanannya hingga menciptakan sebuah pusaran angin kecil.
"Roh angin!!" seru Aria, senang sekali melihat trik magis yang ditunjukkan oleh Altezza.
"Apakah aku bisa menyentuhnya?" tanya Aria, menatap Altezza dengan jarak yang cukup dekat.
"Tentu! Angin ini tidak akan melukaimu," jawab Altezza.
Aria mengulurkan jari telunjuknya, dan secara perlahan mendekatkan jarinya ke pusaran angin yang tercipta di atas telapak tangan kanan milik Altezza. Gadis kecil itu tampak sedikit takut, namun ketakutannya tertimbun oleh rasa penasaran yang jauh lebih tinggi. Ketika jari telunjuk mungil itu menyentuh pusaran angin, angin seketika terpecah, dan perlahan merambat mengelilingi jari hingga tangannya dengan hembusan yang terasa sangat lembut.
"Angin menyukaimu, Aria," ucap Altezza.
Tersenyum riang, itulah ekspresi gembira Aria saat ini ketika tangan kanannya terselimuti oleh hembusan angin lembut yang dapat ia rasakan, "Papa, lihat! Aria bermain dengan roh angin!" serunya.
__ADS_1
Liam turut tersenyum melihat putri kecilnya senang. Ia kemudian menatap ke arah Altezza dan berkata, "terima kasih sudah membuatnya senang."
"Kak Iris, lihat! Roh angin ada di tangan Aria!" cetus Aria ketika melihat sosok kakaknya yang datang dengan dua cangkir berisikan sirup ada di atas nampannya. Gadis kecil itu menunjukkan bagaimana sihir angin menyelimuti tangan kanannya kepada Iris.