
"Sudah? Tidak ada yang ketinggalan?" tanya Aaron kepada Altezza yang baru saja kembali, dan bergabung kembali dengan ketiga rekannya yang tampak sabar menunggu di depan kantor pos tersebut.
Altezza tersenyum dan berkata, "sudah, tadi aku melupakan sesuatu dalam surat yang hendak ku kirim. Maaf membuat kalian menunggu."
Eugene tersenyum lebar, "baiklah, karena hari juga sudah semakin malam, bagaimana kalau sekarang kita cari penginapan di sekitar sini?"
"Setuju! Rasanya aku ingin segera bisa merebahkan tubuhku di atas sesuatu yang empuk," seru Alaia, tersenyum riang, setuju dengan pendapat Eugene.
Keempat pengembara itu segera beranjak dari sana, berjalan di tengah keramaian ibu kota yang semakin meningkat. Matahari perlahan turun, sudah berada di kaki cakrawala sebelah barat, dan tampak indah dengan cahayanya yang berwarna jingga terang. Intensitas keramaian di ibu kota juga tampaknya kian meningkat, seiring dengan hari yang perlahan menjelang malam.
Tepat ketika sampai di sebuah perempatan besar jalanan utama ibu kota, Altezza dan teman-temannya melihat adanya banyak sekali keramaian yang memenuhi hampir seluruh sisi trotoar jalan. Warga-warga ibu kota berdiri memenuhi setiap trotoar jalan, dan tampak menunggu sesuatu melintas dengan segala sorak-sorai kebanggaan.
"Di depan ada apa?" tanya Alaia, melihat keramaian tersebut dengan penuh rasa penasaran.
"Mungkin saja sedang ada pawai? Mari kita lihat!" sahut Eugene, memutuskan untuk mempercepat langkahnya, menuju dan bergabung pada keramaian tersebut.
Tidak ada pilihan, Altezza memutuskan untuk ikut bersama teman-temannya, meskipun dirinya tidak terlalu tertarik dan penasaran dengan keramaian yang sedang terjadi di sana. Laki-laki berambut hitam itu berjalan mengikuti langkah Eugene dan Aaron dari belakang, bersama Alaia yang berjalan tepat bersebelahan dengan dirinya.
Berdiri di antara kerumunan orang di salah satu sisi trotoar jalan, Alaia tampak beberapa kali berjinjit, berusaha mendapatkan posisi untuk melihat dari belakang orang-orang dewasa yang jauh lebih tinggi dari dirinya. Gadis berambut kelabu itu tampak sebal kemudian, karena tubuhnya yang pendek, sehingga ia tak bisa menyaksikan apa yang sedang melintas.
"Ada apa di sana? Altezza, beritahu aku!" pinta Alaia, berkali-kali berjinjit berusaha melihat sesuatu yang sedang melintas.
"Kereta kuda kerajaan, dua buah, ditarik oleh empat kuda berwarna putih pada masing-masing kereta," jawab Altezza, sesuai dengan apa yang sedang ia lihat.
__ADS_1
"Ih, kesal! Aku tak bisa melihat!!!" gusar Alaia, menghela napas berat, menyerah dan berhenti berjinjit.
Aaron dan Eugene hanya tertawa melihat sikap gadis berambut kelabu yang sedang terlihat kesal. Mereka berdua kemudian mengajak Alaia untuk berpindah posisi, mencari posisi yang jauh lebih baik bagi Alaia untuk bisa melihat. Altezza memutuskan tidak ikut mereka bertiga, memilih untuk tetap berdiri pada posisinya saat ini.
Setelah dua kereta kuda kerajaan yang tampak mewah dan elegan dengan dominasi warna putihnya. Sekelompok prajurit berkuda berjumlah lebih dari sepuluh orang perlahan terlihat, melintas dengan penuh kewibawaan dan kegagahan di tengah jalan tersebut. Tak jauh di belakang sekelompok prajurit berkuda itu, tampak banyak sekali prajurit berzirah perak dengan corak berwarna kuning berjalan, dan mereka semua lengkap dengan membawa berbagai macam persenjataan. Pedang, tameng, tombak, dan busur.
Beberapa saat setelah prajurit-prajurit itu berjalan dengan suara langkah yang terdengar sangat jelas dan keras. Sekelompok pasukan penyihir kerajaan tampak terlihat, mereka mengenakan jubah berwarna putih dengan corak berwarna kuning keemasan, dan selalu membawa tongkat-tongkat sihir mereka. Tak hanya laki-laki, namun pasukan tersebut juga diisi oleh prajurit-prajurit perempuan.
Sorak-sorai selalu terdengar, dan tidak pernah berhenti sepanjang pasukan kerajaan itu melintas. Jumlah prajurit-prajurit itu sangat banyak, lebih dari ratusan orang, bahkan mungkin hingga ribuan. Butuh waktu yang cukup lama untuk bisa menyaksikan para prajurit itu sepenuhnya habis.
"Prajurit sebanyak ini ... apa yang sedang Neverley lakukan ...?" gumam Altezza, mengerutkan dahinya, menatap curiga, menyaksikan rombongan pasukan itu sedari tadi di antara kerumunan warga ibu kota.
Tak berselang lama setelah Altezza berbicara dengan dirinya sendiri. Sorak-sorai warga semakin kencang, mereka tampak sangat senang dan bangga ketika menyaksikan sosok yang paling dihormati seluruh penjuru Kerajaan Neverley melintas di rombongan prajurit berkuda paling belakang. Sosok tersebut juga berhasil menyita serta menarik perhatian Altezza.
"Yang Mulai!"
"Cantik sekali!"
"Tuhan senantiasa menyertai anda, Yang Mulia!"
Banyak sorak-sorai warga ibu kota, sekaligus doa-doa baik dipanjatkan untuk gadis cantik itu. Sosok yang sangat dihormati, seorang putri raja itu tampak sangat ramah, beberapa kali ia melemparkan senyuman dan melambaikan tangannya kepada rakyatnya.
"Kiara ...?" gumam Altezza dengan tatapan kagum, tampak mengenal gadis berambut perak yang saat ini sedang melintas tepat di depan kedua matanya. Tepat di saat itu juga, sosok cantik bernama Kiara itu menoleh dan menatap ke arahnya.
__ADS_1
WUUSSHH ...!!!
Angin langsung bertiup dengan cukup kencang. Kiara tampak menghentikan kuda yang ia tunggangi, sehingga sempat membuat kebingungan di antara prajurit berkuda yang ada di sekitarnya. Pandangannya tertuju ke trotoar sebelah kanan jalan dengan tatapan bingung, seolah melihat seseorang yang tidak asing baginya.
"Ada apa, Yang Mulia?" tanya salah seorang prajurit berkuda laki-laki yang berada tepat di sebelah kanannya.
Kiara menggelengkan kepalanya, tak menemukan sosok yang sempat menyita perhatiannya di antara kerumunan masyarakat, "tidak ada apa-apa, kita lanjut menuju Beladon ...!" ucapnya, memandang ke depan dan kemudian kembali lanjut menjalankan rombongannya.
Rombongan terakhir telah lewat, dan perlahan kerumunan masyarakat kembali terurai secara merata. Alaia, Aaron, dan Eugene tampak senang sekaligus masih menaruh rasa kagum ketika melihat pasukan yang baru saja melintas. Akan tetapi sepertinya perhatian mereka bertiga lebih tertuju pada rombongan terakhir, atau tepatnya pada sang tuan putri yang baru saja melintas.
"Dia cantik sekali! Aku jadi iri," ujar Alaia, terkesima dengan kecantikan sosok Kiara.
Eugene mengangguk, "andai aku seorang pangeran, mungkin sudah aku dekati tuan putri itu," ujarnya.
"Jangan banyak berhalusinasi, lebih baik sadar diri!" sahut Aaron, langsung mematahkan segala bayangan serta mimpi Eugene yang baru saja berlalu-lalang di dalam benaknya, sebelum kemudian tertawa setelah selesai berkata.
"Altezza! Kamu melihatnya, bukan? Ternyata apa yang kamu katakan itu benar, sosok cantik itu berambut perak!" cetus Alaia, melihat Altezza perlahan berjalan mendekat dari dalam sebuah gang yang berada tak jauh dari sana.
"Tebakanku ternyata tidak meleset, hehe!" sahut Altezza kemudian tertawa kecil dan tersenyum.
"Kau habis dari mana? Kok dari gang?" tanya Eugene, memandang ke arah gang gelap yang berada di belakang Altezza.
Dengan santainya Altezza menjawab, "saat menonton rombongan pasukan itu, tiba-tiba ada sesuatu yang tak bisa ku tahan. Alhasil aku harus mencari toilet terdekat."
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu kita lanjut cari penginapan! Hari juga sudah mulai malam," ucap Aaron, memandang ke arah langit senja yang perlahan larut dan gelap.