Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Busur Ajaib #68


__ADS_3

Musim dingin yang membosankan bagi Altezza, karena memang sangat sedikit yang bisa ia lakukan selain tetap berlatih pedang di halaman belakang istana. Beruntung dirinya tidak sendirian, karena ada Kenan yang selalu ada menemaninya berlatih. Di atas dinginnya salju putih yang menyelimuti seluruh halaman istana, Altezza menebas beberapa patung tiruan yang terbuat dari kayu hanya menggunakan pedangnya.


"Yang Mulia, apakah anda tidak tertarik berlatih memanah?" cetus Kenan kembali menyarungkan pedangnya, dan tiba-tiba bertanya demikian.


Altezza menghela napas dingin, menghentikan aktivitas berlatihnya sejenak dan menjawab, "hanya membidik dari kejauhan, itu terlalu membosankan bagiku."


Meskipun berjam-jam ia habiskan untuk berlatih bahkan hingga siang hari. Altezza tidak terlihat berkeringat karena saking dinginnya iklim pada musim dingin, bahkan meskipun ia sudah banyak gerak, keringat yang muncul seolah akan langsung kering berkat cuaca yang dingin.


"Namun apakah anda sudah pernah mencobanya?" tanya Kenan.


Pangeran muda itu menoleh dan menatap pengawal setianya, "tentu saja, bahkan aku pernah mengikuti kompetisi memanah antar kerajaan di saat usia 10 tahun," jawabnya.


"Benarkah?" sahut Kenan, menatap pangerannya dengan tatapan tidak percaya.


Altezza kemudian melirik ke arah sebuah gudang kecil yang terletak di sudut halaman dan berkata, "akan ku tunjukkan sesuatu padamu," kemudian berjalan mendekati gudang kecil itu, diikuti oleh Kenan.


Ketika berada di depan pintu gudang yang tertutup dan terkunci, Altezza meletakkan telapak tangannya pada pintu yang terbuat dari besi itu hingga memunculkan sebuah lingkaran sihir berwarna hijau muda, dan sesaat kemudian pintu besi itu dapat terbuka dengan mudah.

__ADS_1


Kenan terlihat cukup kagum dengan isi dari gudang persenjataan itu, "baru kali ini saya melihat isi dari gudang ini," ucapnya melihat rak pedang, tombak, dan busur yang terisi.


"Ini semua senjata yang biasa digunakan untuk berlatih, semuanya disimpan di sini," ucap Altezza masuk ke dalam gudang yang cukup besar itu.


Perhatian Kenan tertuju pada sebuah pedang yang tampak rusak atau pecah di atas sebuah meja kayu yang terletak di sudut gudang, "Yang Mulia, kenapa pedang ini bisa sampai rusak?" tanyanya menghampiri pedang yang terpecah menjadi berkeping-keping tersebut.


"Oh, ini pedang pertamaku pada usia 10 tahun yang sudah tidak bisa diperbaiki," ucap Altezza kemudian lanjut berkata, "aku tidak sengaja menyalurkan sihir peningkatan yang terlalu berlebih hingga membuat pedang ini pecah."


Langkah dari Altezza lanjut berjalan, menghampiri sebuah tirai berwarna merah di ujung gudang sembari berbicara, "seharusnya busur itu ada di sini," ucapnya sembari mendekati tirai tersebut.


"Mengesankan! Saya merasa ada sesuatu yang menyelimuti busur ini, Yang Mulia." Kenan terlihat sangat terkesan melihat busur sederhana tersebut, terlebih ketika busur itu berada di kedua tangan milik Altezza, seolah angin tiba-tiba saja terasa lembut masuk ke dalam gudang dan kemudian berpusat pada busur tersebut.


Altezza membawa busur yang sedikit berdebu tersebut keluar dari gudang. Perasaan yang sangat familier bercampur nostalgia tiba-tiba saja terasa ketika ia menggenggam busur itu dengan salah satu tangannya. Rasa ingin mencoba kembali kemampuan membidiknya, pangeran muda itu berdiri di tepi lapangan dan menatap ke arah sebuah boneka tiruan yang berdiri di sisi lain lapangan dengan jarak yang cukup jauh.


"Yang Mulia, apakah anda ingin mencobanya?" tanya Kenan berdiri di samping Altezza.


"Ya, kira-kira apakah aku masih bisa menggunakannya atau tidak, aku ingin mengetahuinya," jawab Altezza menatap busur yang kini ia pegang dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Namun bukankah busur memerlukan pegas yang terikat di masing-masing ujung? Lagipula kita belum mengambil anak panah," sahut Kenan.


Kedua iris mata berwarna hitam pekat milik Altezza secara perlahan berubah menjadi warna hijau muda, dan melihat dengan saksama busur yang memiliki warna yang sama dengan mata sihirnya saat ini, "seingatku ... hal yang seperti itu tidak diperlukan untuk mengoperasikan busur ini," ucapnya.


Kenan seketika mengerutkan dahinya, dibuat bingung dengan apa yang diucapkan oleh Altezza, "maksudnya?" cetusnya secara spontan.


Dengan santainya Altezza mengangkat kedua bahunya setelah selesai menggunakan mata sihir untuk melihat busurnya, "entahlah, makanya aku ingin mencoba," ucapnya.


Secara perlahan angin kembali terasa datang, berhembus dengan sangat lembut, mengelilingi tubuh milik Altezza, dan berakhir berkeliling pada busur hijau yang ia pegang. Seperti teraliri oleh sihir peningkatan, busur tersebut terlihat menyala terang dengan warna hijau muda yang membawa kesan sungguh indah. Di saat itu juga sebuah tali pegas tiba-tiba saja muncul, terikat dari ujung ke ujung, dan terselimuti oleh cahaya berwarna perak.


Altezza menoleh kepada Kenan yang terlihat hanya bisa diam membisu, menatap kagum apa yang ia lihat, "magis," ucapnya singkat dengan nada sedikit berbisik ketika melihat ekspresi terkagum-kagum itu.


Laki-laki berjubah putih kerajaan itu kemudian mengangkat busur dengan kedua tangannya, dan menatap tajam sasaran yang akan ia bidik. Tanpa sedikitpun merapalkan atau menuturkan mantra, sebuah anak panah tiba-tiba saja muncul dengan cahaya yang cukup terang berwarna hijau cerah. Jangankan Kenan, Altezza sendiri saja terlihat terkesan dengan busur miliknya. Laki-laki itu tidak ingin berlama-lama, dirinya segera membidik dan melepaskan anak panah tersebut mengarah ke boneka kayu. Anak panah tersebut melesat dengan sangat cepat, dan kekuatan angin yang berhembus kencang mengelilinginya. Ketika tabrakan terjadi, anak panah itu menabrak boneka kayu tersebut, sebuah pusaran angin seolah timbul mengelilingi anak panah itu, sebelum akhirnya boneka kayu itu hancur berkeping-keping.


Keduanya sama-sama terdiam dengan tatapan kagum melihat busur serta anak panah yang menyimpan kekuatan alam itu, yakni sihir angin. Kenan menoleh perlahan, menatap Altezza dan kemudian berkata, "apakah itu busur ajaib, Yang Mulia?" tanyanya datar dengan tatapan masih terbelalak terkesan.


"Entahlah, aku saja lupa kalau busur ini bisa seperti itu," sahut Altezza.

__ADS_1


__ADS_2