
Di dalam ruangan hampa, gelap, dan dingin. Tidak ada benda lain di dalam ruangan tersebut, dan tidak ada siapapun selain Aurora seorang diri yang berada di dalamnya. Nasib baik sepertinya sangat jauh dari sosok putri cantik bernama Aurora yang saat ini mendekam di dalam ruangan hampa tersebut. Bahkan kondisinya terlihat sangat lemah, terduduk di lantai dengan bersandar dinding, dan napas yang tidak beraturan.
Tidak ada sela kecil sedikitpun di dinding dalam ruangan tersebut, selain sebuah celah persegi panjang kecil yang berada di tengah-tengah pintu kayu ruangan yang hanya bisa dimasuki oleh satu telapak tangan saja. Meski pintu tersebut terbuat dari kayu yang terlihat bisa saja didobrak dan dirusak, namun penghalang sihir misterius dan transparan tampak melindunginya serta membuatnya semakin kuat, tidak bisa didobrak meski dengan tenaga besar seperti serudukan banteng sekalipun. Satu-satunya cara untuk bisa mendobrak pintu sihir itu hanyalah dengan kekuatan sihir--yang sayangnya hal tersebut tidak dimiliki lagi oleh Aurora saat ini.
Pangeran Asta atau Astaroth mengambil paksa energi sihir yang mendiami tubuhnya sejak lahir, dan akibat dari pengambilan paksa itu membuat tubuhnya kini terasa sangat lemas, untuk berdiri sekalipun tidak ada tenaga. Dadanya juga masih terasa sesak, sakit yang cukup dalam, pedih sehingga membuatnya sedikit kesulitan untuk bernapas.
Duduk di lantai dengan menekuk dan kemudian memeluk kedua lututnya, menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya. Napasnya perlahan terisak, dengan air mata yang tiba-tiba saja menetes membasahi pipinya. Putus asa adalah hal pertama yang dirasakan serta terlintas dalam benak Aurora. Tidak bisa berbuat apa-apa di kerajaan serta istananya sendiri tentu adalah mimpi buruk, dan hal tersebut dialami oleh Putri Aurora saat ini.
"Ibunda, aku merindukanmu," ujar Aurora dengan intonasi gemetar, perlahan terisak, dan masih dengan wajah yang ia sembunyikan, membiarkan rambutnya berwarna putih cantik terurai ke bawah.
"Apa yang harus aku lakukan di posisi seperti ini ...? Aku ... tidak tahu," lanjut Aurora, berbicara sendiri, masih dengan wajah yang tertunduk dan napas yang terisak tak beraturan.
BRAAKK ...!!
Aurora tercekat, terkejut pintu ruangan kembali dibuka dengan cara yang sangat kasar. Ia mengangkat pandangannya, dan melihat sosok mengerikan yang berdiri di depan pintu. Seorang pria berperawakan tinggi besar gagah, dengan kulit gelap, sorot mata merah, dan sepasang sayap hitam serta cakar di kedua kaki layaknya cakar elang namun berukuran besar. Pada kedua tangan milik pria tersebut membawa nampan yang berisikan roti gandum yang tampaknya beku, dan sebuah cangkir berisikan air yang juga setengah membeku.
Karena saking tingginya perawakan makhluk atau sesosok itu, membuatnya harus menundukkan kepala untuk bisa masuk ke dalam ruangan. Dengan intonasi yang terkesan menyeramkan, berat dan rendah ia berbicara, "kau seharusnya berterima kasih kepada Yang Mulia Astaroth karena beliau masih mempedulikan mu," sembari meletakkan nampan itu di atas lantai dingin begitu saja dengan kasar seperti memberi makan hewan peliharaan.
__ADS_1
Setelah itu, pria bertubuh tinggi besar itu berjalan keluar dari ruangan, sebelum akhirnya pintu ruangan kembali tertutup dengan kasar dan penghalang sihir aktif kembali, meninggalkan Aurora sendirian di dalam ruang hampa yang sangat gelap dan tidak luas.
***
Berdiri di dalam dinginnya ruang singgasana yang sangat besar dan megah dengan ornamen permata biru muda di langit-langit, dan pilar-pilar besar yang terbuat dari es yang sangat kokoh. Pangeran Asta berdiri di depan salah satu dari sekian banyaknya jendela besar yang ada di ruang singgasana tersebut seorang diri. Mahkota berwarna hitam yang ia pakai tampak berkilau ketika terkena pantulan cahaya dari banyaknya permata bersinar yang ada di ruangan itu. Zirah serta jubah berwarna hitam yang ia pakai juga terlihat sangat gagah, membuatnya memiliki perawakan yang bisa dikatakan sempurna sebagai seorang pangeran di mata orang awam.
Kedua iris mata milik Asta berwarna biru muda cerah, menandakan suasana hatinya saat ini yang sedang tenang dan tidak terlalu berkecamuk. Paras tampannya tampak sangat dingin, dengan tatapan datar memandangi pemandangan hujan salju yang cukup lebat di luar jendela istana. Semua yang ia lihat hanyalah warna putih dan biru muda, warna salju dan es yang menenuhi negeri tersebut.
"Bagaimana, Baltazhar?" cetus Asta, berbicara seorang diri, sebelum akhirnya sesosok pria berjubah hitam dengan aura kegelapan menyelimuti tubuhnya tiba-tiba saja muncul layaknya debu yang menggumpal tepat di belakang Asta.
"Pasukan sekutu dan pasukan anda telah siap kapanpun anda mau, Yang Mulia. Meski mereka kesulitan untuk memasuki dunia ini, namun Baginda Asmodeus telah bersedia untuk membantu dengan membukakan portal antara kedua dunia." Pria berjubah hitam dengan wujud serta wajah yang tidak terlihat karena tertutup pakaian gelapnya berbicara dan menjawab pertanyaan tersebut.
Baltazhar menundukkan kepalanya dan menjawab, "ada dua hal, Yang Mulia."
"Sebutkan!" pinta Asta langsung dengan pandangan kembali terlempar ke arah luar jendela.
"Beliau tidak ingin menunda terlalu lama rencana yang ada, serta tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama yang pernah dilakukan oleh Lucifer satu abad yang lalu." Baltazhar sedikit mengangkat kepalanya namun masih dengan pandangannya yang cenderung tertunduk, berbicara menjawab titah dari Pangeran Asta.
__ADS_1
"Dan yang kedua, beliau mengatakan ini adalah kesempatan kita untuk bisa menguasai benua utama, yaitu Benua Tengah," lanjut Baltazhar dengan intonasi rendah dan datar.
Pangeran Asta kembali melirik ke belakang, dan kembali bertanya, "menurutmu mengapa harus Benua Tengah?"
Baltazhar tampak sedikit tertunduk dan menjawab berdasarkan pendapat pribadi, "karena jika kita berhasil menguasai benua tersebut, kita akan mendapatkan posisi krusial dengan keuntungan yang sangat besar untuk lanjut menguasai benua lain, Yang Mulia."
"Jika memang seperti itu, menurutmu kira-kira kerajaan mana yang akan menyulitkan kita?" sahut Asta, kembali bertanya dan tampak ingin tahu pendapat dari salah satu anak buahnya.
Baltazhar diam sejenak dengan sedikit terkejut mendengar Pangeran Asta yang ingin mendengar jawaban serta pendapatnya mengenai hal tersebut. Dengan segala hormatnya, bahkan ia tidak berani mengangkat pandangannya untuk menatap langsung sosok Asta yang berdiri membelakanginya. Baltazhar menjawab, "berdasarkan data serta fakta yang ada, maka jawaban saya adalah Kerajaan Zephyra, Yang Mulia."
"Terlebih mengingat mereka memiliki pewaris permata alam yang berharga, yang dimana kekuatan tersebut pernah mengalahkan sekutu kita terdahulu yaitu Lucifer dan pasukan iblisnya," lanjut Baltazhar.
Pangeran Asta menghela napas panjang mendengar jawaban serta pendapat dari salah satu anak buahnya. Tatapan kedua iris mata birunya terlihat sungguh tajam, dan disusul olehnya yang tiba-tiba saja bergumam satu kalimat, "dia ... si pemilik kekuatan alam."
"Pastikan Raja Asmodeus mengetahui hal-hal penting tentang si pewaris permata alam itu, Baltazhar. Setelah itu, aku ingin kau menjalankan misi khusus dariku, yaitu mencari tahu tentang keberadaan si permata alam itu saat ini, dan apapun tentangnya," lanjut Astaroth dengan kedua iris mata perlahan berubah menjadi warna merah menyala.
"Kita tidak bisa menutup mata tentang keberadaannya," lanjut Asta dengan intonasi rendah dan tatapan tajam menyala merah api.
__ADS_1
Baltazhar menundukkan kepalanya dan menjawab, "baik, Yang Mulia," sebelum kemudian tubuhnya berubah menjadi abu-abu gelap beterbangan yang menggumpal, dan lenyap menghilang begitu saja dari sana.