
Bianca terlihat senang sekali, terlebih setelah melihat isi dari perpustakaan istana yang pada dasarnya orang sepertinya tidak diperbolehkan untuk melihatnya. Namun dengan izin serta ajakan dari Altezza, membuat dirinya mendapatkan kesempatan serta momen yang sangat berharga baginya. Namun meski begitu, perempuan itu tetap menaati peraturan-peraturan yang ada, salah satunya adalah peraturan soal bagian-bagian terlarang di perpustakaan.
Setelah dari perpustakaan, Altezza kemudian mengajak gadis bersamanya menuju ke halaman samping istana, mengingat ibundanya ingin berbincang-bincang di sana. Bianca yang terlihat senang, lagi-lagi dibuat kagum dengan kondisi taman samping istana yang terlihat tiga kali lipat lebih indah daripada biasanya. Taman bunga, air mancur, dan lampu-lampu taman yang dihiasi oleh pernak-pernik seperti permata bercahaya biru muda.
Ketika berjalan di antara taman bunga tersebut, bersama dengan Altezza tentunya. Selain kagum melihat betapa indahnya suasana taman di malam ini. Perhatian Bianca tertuju pada banyak sekali bangku dan meja bundar yang tersusun rapi di tepi taman, dan jumlahnya sangat banyak, untung saja halaman samping istana sangatlah luas dan muat untuk semua itu, bahkan ada sisa ruang.
"Apakah ... besok ... meja-meja itu akan penuh dengan para tamu?" tanya Bianca, berjalan mengikuti langkah Altezza menuju ke sebuah gazebo yang berkurang cukup besar dan memiliki ruang yang luas, dan belum ada kehadiran sosok ibundanya yakni Caitlyn di sana.
Altezza sedikit menoleh dan melirik perempuan tersebut sembari menjawab, "iya, karena tamu-tamu yang akan datang tidak hanya dari kerajaan-kerajaan dalam negeri."
"Apa mereka semua dari kalangan bangsawan?" tanya Bianca kembali, menghampiri gazebo tersebut, dan kemudian duduk di salah satu bangku keramik yang ada, tepat di sebelah Altezza.
"Kurasa seperti itu," jawab Altezza, kemudian menoleh dan tersenyum kepada perempuan tersebut.
Paras cantik Bianca sangat memperlihatkan bahwa dirinya menyimpan perasaan yang campur aduk. Gelisah, gugup, dan takut. Ketiga hal tersebut cukup menyelimuti benaknya. Altezza yang menyadari hal tersebut pun bertanya, "kenapa? Ada yang mengganggu pikiranmu?"
Bianca tersenyum kecil, dengan pandangan sedikit tertunduk dan berkata, "saya ... merasa takut."
"Takut? Takut terhadap apa?" sahut Altezza, terlihat bingung, sekaligus penasaran.
"Mungkin ... ini akan terasa konyol jika anda mendengar bahwa saya ... cukup menyimpan ketakutan terhadap bangsawan," jawab Bianca kemudian tertawa kecil dengan sendirinya.
__ADS_1
Hal tersebut tentu sempat mengundang gelak tawa Altezza yang mendengarnya, "namun sepertinya kamu tidak takut padaku," sahutnya.
"Tidak, sebenarnya ... atau lebih tepatnya ... saya tidak menyangka bahwa anda termasuk orang yang baik," ujar Bianca, menoleh dan menatap laki-laki yang duduk tepat di sampingnya.
"Baik?" gumam Altezza, memandang ke arah taman bunga yang ada di depannya sembari berkata, "kita baru kenal beberapa hari, sih. Mengapa kamu bisa langsung berpendapat demikian?"
"Aku tidak tahu, namun perasaan saya berpendapat seperti itu," jawab Bianca, kembali dengan pandangannya yang cenderung ke bawah.
"Lalu soal ... 'bangsawan' itu?" tanya Altezza kembali, terlihat menatap gadis di sampingnya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
Seolah terpancing dengan umpan yang dilemparkan oleh Altezza melalui pertanyaan tersebut. Perempuan itu secara perlahan mulai bercerita sedikit mengenai masa lalunya, sekaligus alasan yang mendasari rasa takutnya terhadap bangsawan.
"Dahulu ketika usia saya masih tujuh tahun, saya dan ibu saya pernah mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan dari salah satu keluarga bangsawan. Mereka memperbudak kami untuk bekerja mengurus kediaman mereka dengan penuh tekanan, intimidasi, hingga kekerasan, dan kami bekerja tanpa upah atau imbalan sedikitpun."
Altezza terdiam mendengar apa yang diceritakan oleh Bianca, dengan pandangan seolah sedang berpikir, mengingat-ingat sesuatu yang sudah sangat lama sekali dan mungkin juga sudah ia lupakan. Ketika perempuan itu selesai mengucapkan kalimat terakhirnya, dan mengakhiri ceritanya. Laki-laki itu pun mencetuskan sebuah pertanyaan, "apakah pengalaman serta kejadian itu terjadi di kerajaan ini?"
Ekspresi Bianca terlihat cukup terkejut, menoleh, menatap Altezza dengan tatapan ragu untuk memberikan jawaban. Namun ia merasa pertanyaan dari seorang pangeran harus dijawab, dan dirinya akhirnya menjawab dengan anggukan pelan serta pandangan ke bawah.
"Maaf, Yang Mulia," ucap Bianca, kemudian memalingkan pandangannya ke arah lain, merasa tidak enak hati setelah menjawab pertanyaan tersebut.
Altezza tertawa kecil, tersenyum lebar dan berkata, "mengapa harus minta maaf? Kamu tidak salah, Bianca. Karena memang kasus tersebut pernah terjadi, dan sempat menyibukkan Welt pada waktu itu, dan mereka berhak mendapat hukuman yang layak."
__ADS_1
"Seharusnya aku yang meminta maaf, karena harus membuatmu mengingat pengalaman buruk itu," lanjut Altezza, menundukkan pandangannya.
Bianca reflek menoleh, kembali menatap Altezza dengan berkata, "anda tidak perlu minta maaf, Yang Mulia!"
"Jujur saja ... saya cukup merasa lega, karena akhirnya setelah sekian lama saya mendapatkan tempat untuk bercerita tentang hal tersebut. Terima kasih sudah mau mendengarkan," lanjut gadis itu, tersenyum bahagia memandang ke arah Altezza yang duduk di sampingnya, sebelum kemudian kembali memandangi bunga-bunga taman yang terlihat indah meski di malam hari berkat cahaya-cahaya dari beberapa permata yang ada di sekitarnya.
Sepanjang perbincangan barusan sosok Caitlyn masih belum terlihat. Altezza pun melanjutkannya, menikmati momen berdua tersebut di antara taman bunga serta dekorasi pesta yang terlihat sangat cantik. Bianca juga tidak keberatan, bahkan beberapa kali ia tersenyum dan terlihat senang ketika bisa berbincang tenang beberapa hal dengan Altezza.
"Sebenarnya ... aku juga bukan seorang pangeran yang baik, karena pada dasarnya aku tetaplah seorang manusia yang sudah pasti tidak akan pernah luput dari kesalahan. Bahkan selama 18 tahun aku hidup sebagai pangeran, jujur saja aku telah melanggar banyak sekali peraturan yang ada." Altezza berbicara santai, bahkan sempat tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri setelah selesai mengucapkan kalimat terakhir yang ia bicarakan.
"Sungguh?!" sahut Bianca, menatap laki-laki itu dengan tatapan tidak menyangka.
"Hehehe, iya," jawab Altezza, terkekeh geli ketika mengakui betapa bandelnya dirinya sendiri.
"Ternyata ... anda sama seperti remaja-remaja yang lainnya, ya?" ujar Bianca, ikut tertawa kecil setelah mengetahui sedikit fakta tentang pangeran itu. Tawa tersebut bercampur dengan senyuman manisnya.
Angin berhembus lembut menerpa keduanya. Pandangan Altezza seolah terpana dan terhenti sejenak untuk memandangi pemandangan yang indah baginya. Rambut panjang berwarna cokelat kemerahan milik Bianca terurai, dan sedikit menari-nari terkena terpaan angin tersebut, sehingga membuat parasnya yang cantik semakin terlihat, apalagi dengan senyuman manisnya yang seolah sulit untuk pudar.
Laki-laki itu menghela napas, melemparkan pandangannya ke arah lain dan kemudian bergumam, "bisa-bisanya kau menggodaku ...?!" ucapnya berbicara sendiri, dengan intonasi yang sungguh pelan sehingga tidak dapat di dengar oleh Bianca, disusul dengan hembusan angin yang sempat memutari dirinya sebelum kemudian angin tersebut perlahan pergi.
"Apakah anda berbicara sesuatu, Yang Mulia?" cetus Bianca, menatap aneh Altezza, merasa kalau laki-laki itu berbicara sesuatu namun dirinya tidak begitu dengar karena hembusan angin tadi.
__ADS_1
"Ti-tidak! Tidak ada apa-apa," sahut Altezza menoleh dan menyanggah pertanyaan tersebut, kemudian tertawa kecil dengan sendirinya.