
Perapian telah dibuat dengan tumpukan kayu bakar di tengah hutan yang sangat gelap dan lebat. Eugene tampak sudah lelap di dalam kantung tidurnya yang hangat, sedangkan Aaron dan Alaia masih terjaga di sepertiga malam menjelang pagi, begitupula dengan Altezza. Laki-laki berambut hitam itu duduk di atas sebuah kayu besar yang tergeletak di sekitar perapian, dan tampak gelisah dengan sendirinya. Alaia yang hampir selalu memperhatikan laki-laki itupun memilih untuk mendekatinya dan menanyakan, "kamu tidak tidur?"
Altezza tersenyum, menggeleng dan menjawab, "entahlah, aku tiba-tiba sulit untuk tidur."
Alaia terkekeh kecil dan tersenyum manis. Pandangan dari gadis berambut kelabu itu kemudian teralih menuju langit malam ini yang tampak sedikit berawan. Masih dengan senyuman yang terukir pada parasnya, perempuan itu berkata, "tidur di tengah hutan seperti ini memang sulit rasanya, apalagi kita tidak pernah tahu apa yang ada di balik kegelapan hutan," sembari menoleh memandang hutan di sekitarnya.
Dari sisi jauh tampak Aaron bersandar pada salah satu pohon, dan secara diam-diam menyimak serta memantau Alaia yang sedang asyik mengajak berbincang Altezza di sana. Altezza sendiri menyadari hal tersebut--rasanya seperti sedang diperhatikan oleh sesuatu yang mengerikan.
"Tetapi kamu tetap harus berisitirahat, karena kita akan berjalan jauh lagi," lanjut Alaia, berakhir dengan memandang wajah Altezza yang duduk di sampingnya dan tersenyum padanya.
Altezza mengangguk paham, tersenyum dan berkata, "terima kasih sudah mengingatkan."
Sesaat kemudian Alaia memutuskan untuk beristirahat, ia beranjak menuju kantung tidur hangat miliknya yang berada tidak jauh dari Eugene, dan segera membungkus tubuhnya dengan kantung tidur tersebut. Kini hanya tinggal Altezza dan Aaron yang masih terjaga. Aaron yang dari tadi hanya memantau dari jauh, sekarang memutuskan untuk mendekat dan duduk tepat di samping Altezza.
Suasananya sangat lengang, hanya terdengar suara jangkrik dan hewan-hewan yang ada di dalam hutan, serta suara dedaunan yang saling bergesekan karena terkena hembusan angin malam yang terasa dingin. Di antara kesunyian malam tersebut, Aaron mengajak Altezza untuk berbincang sedikit di sepertiga malam ini.
"Belum bisa tidur?" pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Aaron kepada Altezza.
__ADS_1
"Begitulah," jawab singkat Altezza dengan pandangan cenderung ke bawah, memandangi api unggun yang masih menyala hingga bersuara gemeretak kayu yang terbakar terdengar berkali-kali.
Laki-laki berambut pirang bernama Aaron itu juga memandangi api unggun di hadapannya sebelum kemudian berbicara, "maaf bila aku membuatmu tidak nyaman karena aku terus memperhatikanmu sejak kita bertemu."
"Aku hanya tidak ingin kami apalagi Alaia bersama orang yang salah," lanjut Aaron, melirik kepada Altezza yang duduk di sampingnya, dan kemudian tersenyum kecil setelah selesai berbicara.
Dengan sikap tenang dan santainya Altezza tersenyum, "tidak apa-apa, aku merasa itu adalah hal yang wajar karena kalian baru mengenalku beberapa waktu lalu."
Sikap Aaron yang awalnya tampak kaku dan dingin, perlahan berubah menjadi lebih santai. Perbincangan mereka berdua tidak hanya sampai di situ, masih terus berlanjut membahas beberapa hal tentang satu sama lain, hingga benar-benar lupa dengan waktu.
***
Raja Aiden berserta pasukannya sudah ada di wilayah atau perbatasan tersebut dari pagi buta, dan membangun beberapa pos penjagaan yang dijaga oleh regu-regu penyihir yang telah dibagi. Warga dari beberapa pedesaan yang tinggal di dekat dengan teluk tersebut sempat kebingungan karena kedatangan rombongan prajurit berjumlah ribuan dari ibu kota kerajaan. Akan tetapi kebingungan mereka terjawab langsung oleh Raja Aiden yang memilih untuk angkat bicara di depan rakyatnya mengenai apa yang terjadi.
Seluruh warga desa yang berjumlah kurang lebih 300 orang dikumpulkan di pesisir teluk, dan di sanalah Raja Aiden berbicara mengenai apa yang terjadi di Selatan tanpa ada yang ditutup-tutupi. Ketakutan, kekhawatiran, kedua hal tersebut merundung perasaan setiap orang yang mendengar, apalagi mereka tahu berita tentang apa yang terjadi di Selatan dari mulut sang raja itu sendiri.
"Bagaimana dengan kita?"
__ADS_1
"Nasib kita bagaimana?"
"Apakah akan terjadi peperangan?"
Bisik-bisik terdengar di antara sekumpulan masyarakat desa setelah Raja Aiden menyampaikan beberapa hal di hadapan mereka. Untuk meredam ketakutan serta kecemasan rakyatnya, sang raja pun berkata, "aku akan memindahkan kalian ke Lembah Anai di Wilayah Zephyria, di sana adalah tempat yang aman, lebih aman daripada Wilayah Mutiara saat ini."
"Keamanan sepanjang perjalanan akan dijamin, jadi kalian tak perlu khawatir ...!" lanjut Raja Aiden, kemudian melirik seorang kepercayaannya yakni Weiz yang berdiri tidak jauh di sampingnya.
Salah satu di antara sekumpulan orang itu ada yang mengangkat satu tangan, dan yang lain langsung menepi memberikan ruang untuknya. Ia seorang pria tua berambut putih, dan tampaknya dirinya adalah orang yang dihormati oleh masyarakat desa di Teluk Mutiara itu. Dengan senang hati Raja Aiden memberikan kesempatan kepada pria paruh baya itu untuk berbicara.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Bagaimana dengan tempat tinggal kami? Kenyamanan akan sangat penting, terlebih kami tidak hanya terdiri dari orang-orang dewasa, namun juga ada banyak wanita dan anak-anak." Pria paruh baya itu berbicara, menundukkan pandangannya sebagai tanda hormatnya kepada sang raja.
Raja Aiden tampak tersenyum kecil dengan pandangan melihat setiap orang yang ada di hadapannya. Apa yang dikatakan oleh pria tersebut memang benar, dirinya bisa melihat ada banyak anak-anak bahkan beberapa masih bayi. Tentu kenyamanan mereka menjadi prioritas.
"Tidak perlu khawatir soal itu," ucap Raja Aiden melangkah mendekati pria tersebut, sebelum kemudian ia berkata, "aku sudah menyiapkan kurang lebih kebutuhan dasar yang dibutuhkan, sekaligus persediaan untuk perjalanan kalian menuju Zephyria."
Tak hanya pria paruh baya itu yang tampak tersenyum dan senang, namun semua warga desa yang dikumpulkan di pesisir Teluk Mutiara juga merasakan hal yang sama. Mewakili masyarakatnya, pria paruh baya itu kembali menundukkan kepalanya dan mengucap, "terima kasih banyak, Yang Mulia. Semoga alam dan angin senantiasa melindungi serta menjaga anda."
__ADS_1
Setelah perbincangan tersebut, Raja Aiden menghampiri Weiz dan segera menyuruhnya untuk mempersiapkan semuanya. Tak lupa ia juga membagi pasukan yang akan melakukan pengawalan di sepanjang perjalanan hingga sampai tujuan. Tentu dirinya mau rakyatnya aman, dan sampai dalam keadaan selamat.