
Putri Aurora kini hidup dengan dikurung di dalam kamar istananya, lebih baik daripada sebelumnya mendekam di dalam penjara, namun juga tidak terlalu baik karena dirinya sekaligus kerajaannya masih hidup di bawah tirani seorang pangeran yang sangat mengerikan. Sudah lebih dari lima tahun Kerajaan Mystick mengalami kehidupan yang sangat mengenaskan, dan sampai sekarang mimpi buruk tersebut masih berlanjut.
Gadis berambut putih panjang itu beranjak dari ranjangnya menuju ke arah jendela kamar. Jendela berukuran besar itu bisa dengan mudahnya ia buka menggunakan kedua tangannya, akan tetapi ketika kaca jendela benar-benar terbuka lebar, kedua iris mata berwarna biru milik Aurora melihat adanya keanehan dengan pemandangan luar jendelanya, seperti ada yang menghalangi namun masih transparan.
Aurora menoleh ke arah sebuah meja belajar yang terletak tepat di samping ranjang, dan mengambil sebuah kertas dari atas sana yang kemudian ia meremas kertas tersebut hingga menjadi gumpalan. Ketika gumpalan kertas sudah berada dalam genggaman tangannya, Aurora memandang ke arah luar jendela dan kemudian melemparkannya.
Kedua mata milik Aurora terbelalak terkejut, melihat gumpalan kertas yang ia lemparkan seperti membentur sesuatu yang tidak terlihat, sebelum akhirnya terbakar dan berubah menjadi abu lalu tertiup oleh angin hanya dalam sekejap. Kejadian tersebut terjadi dalam waktu yang sangat singkat, dan sangat cepat hingga bisa membuatnya terkejut. Gumpalan kertas miliknya terbakar habis hingga menjadi abu dan menghilang.
"Lenyap ...."
Hanya satu kata yang keluar dari bibir merah muda milik Aurora, masih dengan tatapannya yang terpaku memandangi pemandangan luar jendela kamarnya. Dengan mata biasa atau mata orang awam, dirinya bisa melihat adanya pemandangan taman belakang istana yang tampak luas dan indah dari jendela tersebut. Akan tetapi jika dilihat dengan saksama, terlihat ada seperti sebuah penghalang transparan yang membatasinya, dan menghancurkan bahkan melenyapkan apapun yang menabraknya.
__ADS_1
Aurora kembali beranjak ke ranjang empuknya, dan kemudian duduk di tepi ranjang tersebut dengan ekspresi serta perasaan pasrah. Pandangannya cenderung tertunduk, dengan ekspresi wajah yang tentu saja tidak sedang senang, terlihat murung.
"Apakah Asta membatasi segala yang ada di dalam istana ini? Atau cuma kamarku saja yang dia batasi?" gumam Aurora, tampak berpikir namun dengan tatapan sendu tak bersemangat.
Merebahkan tubuhnya di atas kasur yang nyaman, namun tidak dengan suasana serta situasi yang sebenarnya sedang terjadi. Aurora menghela napas berat dengan sedikit gemetar, dan kemudian bergumam, "apa yang harus ku lakukan ...?" dengan tatapan putus asa ke arah langit-langit kamar yang tampak mewah dengan dekorasi pernak-pernik permata biru.
BRuukKk ...!!
Tiba-tiba saja terdengar suara buku terjatuh, dan itu berasal dari salah satu rak buku yang terletak di ujung kamarnya. Aurora kembali beranjak dari kasurnya, dan kemudian menghampiri sebuah buku yang terjatuh sembari berbicara, "mengapa kau bisa terjatuh? Aneh sekali ...!" sebelum kemudian mengambil buku bersampul hijau tersebut dari atas lantai.
"Kehancuran mengancam dunia, dan Kekuatan Alam yang berhasil meredakannya serta memulihkan semuanya. Meski begitu, Kekuatan Alam tidak akan ada artinya tanpa usaha serta perjuangan dari banyak pihak yang terlibat," gumam Aurora membaca kalimat singkat yang ia lihat.
__ADS_1
Pandangan Aurora perlahan terangkat dengan tatapan yakin akan suatu hal. Aurora menutup kembali buku itu, dan kemudian mengembalikannya ke tempat asalnya yaitu di rak buku tersebut. Gadis berambut perak itu kembali berdiri tepat di depan jendela kamarnya, dan kemudian menatap ke arah sebuah penghalang tidak terlihat yang membatasi dirinya.
"Kekuatan Alam tidak akan ada artinya tanpa usaha serta perjuangan, bukan?" ujar Aurora berbicara dengan sendirinya, mengingat kembali apa yang ia baca dari buku barusan.
Aurora kemudian sedikit menunduk, menatap kedua telapak tangannya sembari berkata, "kalau begitu aku juga harus melakukan hal yang sama!" sebelum kemudian ia mengulurkan kedua tangannya ke depan, dan tampak merapalkan sebuah mantra.
Perlahan kedua telapak tangannya memancarkan cahaya berwarna biru muda, sebelum kemudian cahaya tersebut melesat dan menabrak hingga memperlihatkan sebuah dinding penghalang yang memiliki aura gelap yang sangat pekat dan mengerikan. Penghalang tersebut seketika membeku, sebelum akhirnya retak dan pecah, runtuh menjadi bongkahan es.
Tatapan Aurora terlihat tidak menyangka kalau dirinya akan berhasil menghancurkan penghalang tersebut. Mengetahui sebuah kesempatan terbuka di depan matanya, gadis berambut putih itu tidak ingin berbasa-basi dan menyia-nyiakannya. Putri Aurora tampak sedikit menyingsingkan dress putih miliknya, sebelum kemudian dengan yakin mengambil langkah, melompat dari jendela kamar yang posisinya berada di lantai dua istananya. Cukup tinggi, namun beruntung tanah di negerinya rata-rata adalah tumpukan salju yang sangat tebal, sehingga menciptakan tanah yang cukup empuk bahkan bisa membuat tubuh manusia tenggelam jika sembarangan menginjak salju-salju itu.
***
__ADS_1
Pangeran Asta yang dari tadi tampak tenang berjalan bersama seorang pria berjubah hitam di halaman depan istananya, seketika dibuat terkejut dengan sebuah perasaan yang tiba-tiba saja terlintas. Ia menoleh ke belakang sebelum kemudian berlari masuk ke dalam istana sembari berkata, "Baltazhar, penghalang dirusak oleh putri merepotkan itu, kau segera panggil para penunggang kuda untuk bersiap segala kemungkinan!" dengan tegas kepada pria berjubah hitam bernama Baltazhar itu.
"Baik, Yang Mulia," jawah Baltazhar, sebelum kemudian melenyapkan tubuhnya yang terselimuti oleh jubah hitam di saat itu juga, menghilang di tempat dengan sangat cepat.