
Berlayar, menumpang di atas salah satu kapal dagang yang hendak berlabuh di Pelabuhan Aetheria. Altezza bersama ketiga temannya akhirnya sampai di pelabuhan milik Kerajaan Lagarde itu setelah terombang-ambing di atas lautan tenang. Suasana pelabuhan dan kota kecilnya yang terasa menenangkan, meski dengan keramaian yang seolah belum berhenti. Malam menjelang, lampu-lampu kota perlahan menyala, api-api obor yang terpasang di setiap bangunan serta pintu masuk Pelabuhan Aetheria juga menyala.
Altezza berjalan menyusuri jalanan Aetheria yang tidak terlalu besar, bersama dengan ketiga temannya. Dalam hatinya tergerak untuk terus berjalan untuk bisa segera pulang, kembali ke kerajaan dan istananya. Akan tetapi ketiga temannya lebih memutuskan untuk menyewa kamar di salah satu penginapan di Aetheria. Tidak enak hati bila dirinya sendiri yang memutuskan untuk pergi mendahului teman-temannya, dengan cukup terpaksa dirinya memilih untuk ikut dan berusaha untuk bersabar.
Seperti di penginapan sebelumnya ketika berada di Neverley, Altezza satu kamar dengan laki-laki berambut pirang bernama Eugene yang tampak sudah rebahan di ranjang pertama dekat pintu. Eugene tampak menghela napas berat, lelah setelah melakukan perjalanan jauh antarbenua.
"Altezza, kau tidak ingin segera merebahkan tubuhmu? Rasanya enak sekali, seolah-olah tulang-tulang di dalam tubuh ini kembali lurus." Eugene berbicara dengan intonasi senang, tersenyum, serta memandang ke langit-langit kamar yang terbuat dari kayu-kayu kokoh.
Laki-laki berambut hitam, dan masih mengenakan jubahnya. Sama seperti ketika berada di penginapan sebelumnya, Altezza lebih tertarik menghabiskan waktu malamnya dengan bersandar di jendela kamar, memandangi langit malam. Namun pemandangan langit malam ini jauh berbeda dari beberapa malam sebelumnya. Gelap, pekat, dan hembusan angin yang terasa tak beraturan. Tak ada bintang, apalagi bulan di malam ini.
"Jika terjadi sesuatu yang sangat buruk di kampung halaman mu, apa yang akan kau lakukan, Eugene?" cetus Altezza tiba-tiba angkat suara dan bertanya. Pandangannya tidak menatap kepada Eugene, tubuhnya lebih cenderung menghadap ke arah luar jendela dengan kedua mata yang tak bisa lepas dari langit malam yang sungguh pekat.
"Tergantung apa yang terjadi, sih." Eugene menjawab pertanyaan tersebut, kemudian perlahan ia bangkit dan duduk di atas ranjangnya sembari bertanya, "memangnya apa yang sebenarnya terjadi di kampung halamanmu? Apakah hal itu yang selalu membuatmu gelisah dan tidak tenang di setiap malam?"
Altezza tampak hanyut memandangi langit hitam di atas sana, dan kemudian menjawab, "dikabarkan, kegelapan telah tiba di dunia ini, dan negeriku salah satunya yang terancam."
"Apa yang kau katakan ...?!" sahut Eugene, melompat, beranjak dari ranjangnya, dan kemudian berdiri tepat di sebelah Altezza, "kegelapan apa yang kau maksud?" lanjutnya.
__ADS_1
Dari balik jubah hitamnya, Altezza mengambil sebuah lembaran koran, dan kemudian memberikan surat kabar tersebut kepada Eugene di sebelahnya. Surat tersebut berisikan artikel pemberitaan mengenai apa yang terjadi di Benua Tengah, atau tepatnya di Negeri Zephyra.
"Kegelapan perlahan menyelimuti Benua Tengah, dan menyerang Kerajaan Zephyra. Tidak menutup kemungkinan Kegelapan juga akan menyerang dan menyelimuti wilayah lain." Mulut Eugene komat-kamit, membaca salah satu judul artikel yang dituliskan dengan huruf kapital dan tinta yang tebal.
"Apakah yang dikatakan oleh Legolas itu benar? Makhluk-makhluk yang kita hadapi di Arcadia, mereka adalah pertanda bahwa Kegelapan akan datang?" gumam Eugene, menatap Altezza dari samping dengan wajah yang tampak sedang berpikir, bertanya-tanya.
Namun tak ada jawaban dari Altezza. Laki-laki berambut hitam itu hanya diam, dengan pandangan yang masih lekat menatap gelapnya langit malam. Ia perlahan memejamkan kedua matanya, dan merasakan hembusan angin yang tak beraturan. Sembari terpejam, di dalam hatinya, Altezza memohon dan berdoa, "Ya Tuhan, lindungilah kerajaan ku, semua rakyat ku, dan orang-orang berharga yang ku miliki."
Angin seketika berhembus dengan lebih kencang daripada sebelumnya ketika Altezza sedang berdoa di dalam hatinya. Rambutnya bergelombang melambai-lambai, begitu juga dengan rambut pirang milik Eugene. Rasanya sungguh tenang dan sejuk, tidak terlalu dingin. Eugene sedikit dibuat terkejut dan terpana ketika angin tersebut berhembus masuk ke dalam kamar melalui jendela yang terbuka lebar, karena hembusan angin tersebut berhasil membawakan suasana tenang di dalam hatinya.
***
Pangeran Welt masih bersama Pangeran Azura dan Pangeran Xavier, berjaga di atas gerbang benteng ibu kota bersama ribuan pasukannya. Tidak ada yang bisa terlepas dari penjagaan prajurit yang sangat banyak itu, mereka benar-benar mengisi di setiap sudut benteng kerajaan.
"Terlalu tenang," gumam Welt dengan pandangan tak bisa lepas memandangi wilayah Selatan dari kerajaannya. Pemandangan gelap di bawah gulita langit malam yang tidak ada bulan ataupun bintang, sang pangeran pertama dari Kerajaan Zephyra itu terus menggunakan mata sihirnya guna melihat menembus kegelapan malam.
"Para pemanah dan penyihir sudah di posisi mereka," ujar Xavier, kemudian disusul oleh Pangeran Azura yang berkata, "alutsista perang kita juga sudah dipersiapkan."
__ADS_1
"Apakah sudah ada kabar dari Neverley, Arandelle, dan Flowring?" tanya Welt kepada kedua sahabatnya.
Azura menggelengkan kepalanya, "Victoria belum menerima surat apapun dari Flowring dan Arandelle."
"Neverley telah mengirimkan suratnya ke Istana Lagarde sore ini, di bawah kepemimpinan Kiara pasukan mereka telah mengarungi lautan dan tiba di Pelabuhan Aetheria. Kemungkinan memerlukan waktu dua hari untuk bisa sampai ke sini," timpal Xavier, mengambil secarik surat dari kantong celananya putihnya, dan menyerahkan surat tersebut kepada Welt.
"Dua hari adalah waktu yang lama, terlebih kita tidak tahu kapan dan seperti apa pertempuran nanti," ujar Welt, memilih untuk mengantongi surat yang diberikan oleh Xavier.
"Kita juga minim informasi mengenai seperti apa pasukan musuh, dan kemampuan serta kelemahan mereka. Ini bisa sangat merepotkan," sahut Azura, melipat kedua lengannya dan bersandar pada batu-batu pembatas di atas benteng tersebut.
"Kita juga tidak tahu seperti apa Asta sebenarnya, selama kita bersama belasan tahun, Asta tidak pernah memperlihatkan kemampuan serta kekuatannya, dia lebih suka untuk diam," timpal Xavier.
"Apakah Baginda Raja tak kunjung sadar?" tanya Azura menoleh dan menatap Welt.
Pangeran Welt menggelengkan kepalanya, "belum, tetapi kondisinya bisa dikatakan lebih baik daripada sebelumnya."
Xavier menghela napas berat dan berkata, "kita belum bisa bertanya kepada beliau soal pasukan musuh yang akan kita hadapi."
__ADS_1
Ketiga pangeran itu sama-sama dibuat berpikir. Mereka tidak memiliki banyak informasi mengenai pasukan musuh, ditambah hanya dua orang penyintas dari Pertempuran Mutiara yang berhasil kembali ke ibu kota dalam keadaan selamat. Raja Aiden yang masih tak kunjung sadarkan diri, dan seorang kesatria bernama Kenan yang telah pergi meninggalkan ibu kota karena mengemban tugas yang diberikan oleh Ratu Caitlyn.
"Ini pengalaman pertama aku menghadapi situasi yang sangat serius seperti ini. Ayahanda, apa yang harus ku lakukan? Aku belum siap menjadi seorang pemimpin ...!" batin Pangeran Welt, penuh dengan keraguan yang tak bisa lepas menyelimuti dirinya.