
Setelah menghabiskan perjalanan selama satu hari, Altezza bersama teman-temannya akhirnya sampai juga di Kota Beladon tepat di sore hari, tempat di mana mereka akan mencari tumpangan kapal untuk bisa berlayar kembali ke Benua Tengah. Ketika sampai di kota tersebut, terlihat ada banyak kelompok petualang yang berlalu-lalang mengisi trotoar jalan yang sangat amat ramai.
"Aku akan coba cari tahu soal tumpangan yang bisa membawa kita kembali ke Benua Tengah." Aaron langsung berinisiatif untuk pergi mencari informasi mengenai beberapa kapal layar yang memungkinkan untuk membawa mereka pergi ke Benua Tengah.
"Oke, hati-hati! Kita bertemu lagi di titik ini," ujar Eugene, menunjuk perempatan jalan tepat di depan pintu masuk pelabuhan tersebut sebagai titik kumpul atau bertemu kembali bagi Aaron.
Aaron kemudian pergi masuk ke area pelabuhan, sedangkan Eugene, Alaia, dan Altezza memutuskan untuk pergi mencari camilan. Perjalanan panjang yang cukup melelahkan tentunya, ditambah perbekalan yang sudah semakin menipis. Membeli beberapa camilan termasuk makanan yang dapat disimpan adalah pilihan yang terbaik.
Berjalan menyusuri kota, di antara kepadatan aktivitas masyarakat. Altezza bersama kedua temannya mulai mengunjungi satu per satu kios dan kedai untuk mencari dan membeli makanan-makanan enak di kota tersebut. Namun ketika berjalan melewati kios koran, langkah Altezza berhasil dibuat berhenti oleh salah satu topik pemberitaan teratas yang ditawarkan.
"Kalian duluan saja, aku ingin membaca koran-koran di sini sebentar," ujar Altezza kepada kedua temannya.
"Baik! Jangan sampai tersesat, ya ...!" sahut Alaia, menoleh ke belakang, tersenyum, dan melambaikan satu tangannya.
Laki-laki berambut hitam itu memutuskan untuk membaca beberapa koran yang ada di sana, bersama dengan beberapa pejalan kaki yang kebetulan juga lewat. Kios tersebut sangat ramai, bahkan Altezza saja harus rela sedikit berdesakan untuk bisa membaca dan mengetahui apa berita yang sedang panas.
__ADS_1
"Kegelapan telah datang!! Kegelapan telah datang!!"
Seorang pria penjaga kios dengan gencar dan lantang menyerukan salah satu berita yang sedang panas sembari mengangkat salah satu lembaran koran yang memuat artikel mengenai hal tersebut.
"Benua Tengah dalam keadaan darurat!! Perang besar melawan Bangsa Iblis telah dimulai!! Apakah pengulangan sejarah akan terjadi???" ujar sang penjaga kios, sembari melakukan transaksi jual beli kepada banyak pembeli yang mau membeli koran miliknya.
Altezza terdiam tepat di depan kios tersebut, dan membaca salah satu lembaran koran yang terpampang di sana. Perhatiannya berhasil tercuri oleh satu artikel koran berukuran besar yang bertuliskan, "Kerajaan Zephyra bersama Kerajaan Victoria dan Kerajaan Lagarde tengah terlibat pertempuran hebat dengan Pasukan Kegelapan yang berhasil menyerbu Tanah Zephyra. Namun gelombang pasukan dari ketiga kerajaan tersebut telah takluk ketika pertempuran pertama terjadi di Wilayah Mutiara, dan dengan terpaksa wilayah itu harus jatuh di tangan Pasukan Kegelapan."
Terdiam dan terpaku, Altezza benar-benar dibuat membisu setelah membaca salah satu artikel yang tertulis pada koran itu, sebelum kemudian tubuhnya secara terpaksa harus tergeser oleh banyak orang yang hendak membeli koran di kios tersebut.
Di saat yang bersamaan, gemuruh langkah pasukan berkuda terdengar, mereka yang berjumlah lebih dari puluhan itu melintas di jalanan tepat di hadapan Altezza, membuat laki-laki itu kemudian memandang ke arah pintu masuk pelabuhan yang sudah dipenuhi oleh banyak sekali prajurit dari Kerajaan Neverley. Altezza memutuskan untuk melangkah, kembali ke titik awal atau titik temu yang ditentukan oleh teman-temannya.
"Mereka ramai sekali, tampaknya mereka akan berlayar ke Benua Tengah. Kira-kira sedang terjadi apa, ya ...?" gumam Aaron, tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Altezza dengan memandang ke arah dermaga-dermaga di pelabuhan.
Selain kapal-kapal layar yang memuat barang dan penumpang sipil. Dermaga-dermaga di pelabuhan tersebut tampak juga dipenuhi oleh banyak sekali kapal-kapal perang berukuran besar milik Kerajaan Neverley, terlihat dari layar kapal-kapal itu menggambarkan logo Kerajaan Neverley yakni matahari.
__ADS_1
"Apakah kita sudah mendapatkan kapal?" tanya Altezza, menoleh dan menatap Aaron di sebelahnya.
Aaron mengangguk, "kita bisa berangkat tepat ketika matahari tenggelam."
"Matahari tenggelam, ya ...?" gumam Altezza dengan pandangan cenderung ke bawah, dan kedua lengan terlipat di atas dada. Ia terlihat sangat gelisah, tidak bisa tenang dan sabar.
"Apakah ada masalah?" tanya Aaron, menoleh dan menatap Altezza dengan tatapan aneh sekaligus penasaran.
Altezza menggelengkan kepalanya dan menjawab, "ti-tidak," dengan penuh keraguan, "ku harap ...," lanjutnya dengan nada berbisik tanpa terdengar oleh Aaron, dan memalingkan wajahnya sedikit ke arah yang berlawanan ketika bergumam.
"Lihat, bukankah itu kapal bangsawan?" cetus Aaron, menunjuk ke arah salah satu dermaga. Di dermaga tersebut terlihat sebuah kapal mewah berlapis emas yang dipenuhi oleh banyak sekali prajurit berzirah.
"Kapal milik Istana Neverley," ujar Altezza, memandang datar tanpa ekspresi ketika melihat kapal mewah tersebut--ekspresi yang sangat berbanding jauh dengan Aaron yang tampak terkagum.
"Apakah tuan putri naik di kapal itu?" tanya Aaron, menoleh dan menatap Altezza.
__ADS_1
"Mungkin," jawaban singkat Altezza, menoleh dan tersenyum tipis kemudian.