Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Perusakan Ladang #82


__ADS_3

Kedatangan Altezza di desa tersebut disambut dengan sangat baik dan hangat, apalagi mengetahui bahwa dirinya adalah pengembara pertama yang datang di awal musim semi ini. Tujuannya datang ke Desa Blissville adalah untuk membeli beberapa bahan makanan yang tentunya akan sangat berguna untuk perjalanan panjangnya.


Di ruang tamu dari rumah sederhana milik keluarga Iris. Altezza tampak sedang berbincang asyik dengan ibu dari Iris dan Iris sendiri, sekaligus menunggu Aria kembali bersama ayahnya dari ladang. Sebelumnya ibu dari Iris memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada Altezza, "sebelumnya perkenalkan terlebih dahulu, saya Olivia, ibu kandung Iris dan Aria," ucap wanita paruh baya itu dengan sopan dan ramah, tersenyum kepada Altezza.


"Ke mana tujuanmu selanjutnya setelah dari desa ini?" lanjut Olivia tampak antusias bertanya kepada Altezza.


"Saya akan pergi menuju Pelabuhan Aetheria untuk lanjut menuju ke Benua Timur," jawab Altezza, tersenyum.


"Benua Timur?" sahut Olivia, terlihat sedikit terkejut dengan tujuan dari perjalanan Altezza yang sangatlah jauh, "itu tempat yang sangatlah jauh, bahkan harus menyebrangi samudra terlebih dahulu untuk bisa sampai ke sana," lanjutnya.


"Apa yang kamu cari di sana? Sampai-sampai kamu rela melakukan perjalanan jauh untuk sampai ke benua itu?" tanya Iris, tampak penasaran.


"Saya penasaran dengan salah satu dongeng sekaligus sebuah mitologi yang sangat terkenal di sana," ujar Altezza menjawab pertanyaan tersebut.


Perbincangan itu terus berlanjut dengan santai. Olivia tampak sangat antusias dan senang bisa menerima pendatang lagi seperti Altezza. Di sela-sela perbincangan, Iris sempat menjelaskan kepada Altezza mengapa ibunya tampak sangat antusias dalam menjamu pendatang.


"Ibu sangat senang setelah musim dingin berakhir, kami bisa kembali menerima pendatang. Kebiasaan ibu memang mengajak pengembara yang datang untuk ngobrol bersama seperti saat ini, ditambah kamu adalah pengembara pertama yang datang di musim semi ini," ujar Iris.


"Apakah itu salah satu tradisi di sini?" tanya Altezza.

__ADS_1


Olivia menggeleng, menjawab pertanyaan tersebut, "sebenarnya tidak ada tradisi seperti itu di desa ini, Nak Altezza. Aku hanya senang ketika bisa menyambut dan berbincang dengan pendatang-pendatang dari jauh, meskipun tidak mengenal mereka, dengan begini aku bisa berkenalan dengan mereka," ucapnya.


Tak hanya berbincang dengan kedua tuan rumah. Altezza tampak juga menikmati makanan dan minuman yang sudah diberikan untuknya. Biskuit sederhana namun terasa manis dan hangat, jarang-jarang dirinya memakan biskuit seperti itu. Jika dibandingkan dengan biskuit yang biasa disajikan di istananya, tentu sangat jauh berbeda, dan lebih mewah miliknya. Namun dari segi rasa, keduanya memiliki rasa yang sama, manis dan enak serta cukup renyah dan lembut.


"Bolehkah aku bertanya kepadamu, Nak Altezza?" tanya Olivia, menatap dirinya dengan tatapan penasaran.


"Tentu saja," jawab Altezza menghentikan aktivitas makannya sejenak.


"Di Negeri Zephyra, kamu tinggal di bagian mana, ya? Aku merasa tidak asing dengan wajahmu," tanya Olivia.


Pertanyaan tersebut cukup membuat Altezza terkejut mendengarnya. Tak hanya dirinya, Iris juga terkejut sekaligus bingung dengan maksud dari pertanyaan itu, "kenapa ibu bertanya seperti itu? Jangan membuat tamu kita tidak nyaman, ibu ...!" ujar gadis berambut kemerahan itu.


Altezza turut ikut tertawa santai, dan menjawab pertanyaan tersebut, "saya memang tinggal di ibu kota kerajaan, dan saya sering jalan-jalan di kota itu," ucapnya.


"Berarti benar! Aku ingat sekali, kamu pada saat itu pakai baju berwarna krem dan jubah berwarna cokelat, apakah itu benar?" ujar Olivia sembari mengingat-ingat, dan tampak ingin memastikan, "pada saat itu aku melihatmu di pasar ibu kota itu," lanjutnya.


Terkejut dan tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh ibu dari Iris yaitu Olivia, itulah yang dilakukan oleh Altezza saat ini. Dirinya tahu apa yang dimaksudkan oleh Olivia, dan sekaligus merasa beruntung karena beliau melihat dirinya ketika dalam penyamaran sebagai warga biasa.


"Mungkin benar, sebelum musim dingin, saya memang sering pergi ke pasar pada saat itu," ujar Altezza tersenyum santai.

__ADS_1


Di tengah perbincangan yang sangat asyik itu. Tiba-tiba dentang lonceng terdengar dua kali dari kejauhan, dan menarik perhatian Iris dan Olivia yang mendengarnya. Olivia tampak menghela napas mendengar dentang lonceng tersebut, "Iris, pergilah ke ladang ...!" pintanya.


"Baik," jawab Iris, kemudian langsung beranjak dari tempatnya duduk.


"Ada apa?" tanya Altezza kepada Olivia.


Olivia menatap kepada Altezza dan menjawab, "aku tidak tahu, tetapi peringatan itu kedengarannya sedang ada masalah di ladang pertanian desa."


Olivia juga ikut beranjak dari ruang tamu rumahnya, begitu pula dengan Altezza. Mereka berdua langsung berjalan mendatangi sumber suara, dan menuju ladang pertanian desa tersebut. Tidak tahu apa yang sedang terjadi, namun Altezza hanya mengikuti langkah Olivia berjalan.


Ketika sampai di ladang, kedua mata Altezza tampak terkejut melihat banyak sekali kelelawar yang beterbangan di atas tanah terasering milik warga desa. Beberapa tumbuhan yang ada di tanah itu langsung rusak, dan beberapa benih yang baru saja ditanam awal musim ini langsung lenyap seolah dimakan oleh rombongan kelelawar tersebut.


Para petani hanya bisa berdiri di tepi ladang mereka, dan tidak tahu harus berbuat apa. Jumlah kelelawar yang datang sangatlah banyak, bahkan mungkin menyentuh angka ratusan lebih kelelawar.


"Mengapa kelelawar muncul di pagi menjelang siang? Bukankah seharusnya mereka tidur saat seperti ini?" tanya Altezza, mengerutkan dahinya, menatap kebingungan dengan apa yang sedang terjadi di sana.


Olivia menggelengkan kepalanya, "kami tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada hewan-hewan itu, mereka keluar dari hutan dan menyerang pertanian sejak kemarin, dan merusak tumbuhan serta benih-benih yang baru saja kami tanam," ucapnya.


"Mereka tidak datang di pagi hari, namun juga di malam hari," lanjut Olivia, tampak pasrah sama seperti para petani yang hanya bisa berdiri di tepi ladang mereka, menyaksikan tanaman-tanaman yang mereka rawat dirusak oleh rombongan kelelawar itu.

__ADS_1


__ADS_2