Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Astaroth dan Asmodeus #136


__ADS_3

Berjalan keluar dari tendanya, Astaroth mengajak sang raja terhormat yakni Asmodeus untuk berkeliling kamp pasukannya. Sosok Asmodeus tampak tidak terlalu nyaman dengan wujudnya sebagai seorang manusia, beberapa kali ia melirik dan keheranan dengan Astaroth yang tampak terbiasa dengan tubuh lemah tersebut. Akan tetapi hal itu tidak mengurangi kewibawaan serta keangkuhannya sebagai raja iblis. Setiap prajurit iblis dan manusia yang ia lalui, mereka selalu bertekuk lutut dan tunduk padanya--sikap yang sangat berbeda jika hanya Astaroth yang lewat di hadapan mereka, mereka hanya sekadar membungkukkan badan dan menundukkan kepala.


Kamp yang sangat besar dan luas, didirikan di atas Tanah Selatan Zephyra yang tampak tandus serta membeku. Tidak ada keindahan di wilayah itu, hamparan hijau yang luas tidak terlihat lagi. Bukit-bukit kecil yang ada di wilayah tersebut dijadikan perkemahan oleh Astaroth dan pihaknya. Di perkemahan yang cukup besar dan luas itu, pasukan milik Astaroth tampaknya juga mempersiapkan berbagai macam alutsista tempur yang berukuran sangat besar.


Aroma kematian dan kehancuran, aura kegelapan, ditambah dengan langit yang senantiasa gelap di atas wilayah tersebut. Tanah yang menjadi tandus, rerumputan yang membeku atau mati, dan tidak ada kehidupan lain seperti tumbuhan atau hewan sedikitpun semenjak pasukan milik Astaroth menginjakkan kaki mereka di tanah tersebut. Alam seolah sangat enggan untuk hidup berdampingan dengan mereka.


"Bagaimana dengan Benua Selatan? Kudengar dari Baltazhar kau menyegel benua itu?" tanya Asmodeus, berjalan menyusuri perkemahan bersama Astaroth.


Astaroth menganggukkan kepalanya dan menjawab, "ya, aku menyegel benua tersebut, termasuk rakyat Kerajaan Mystick, raja, dan putri raja mereka. Aku tak ingin putri raja tua itu melakukan hal yang dapat berpotensi menggagalkan rencana kita."


"Mengapa kau tidak mempengaruhi pikirannya? Atau mungkin menghabisinya?" tanya Asmodeus kembali, melirik dengan lirikan tajam sepasang mata berwarna merah itu.


Astaroth menggelengkan kepalanya dan menjawab, "putri itu istimewa, tidak bisa dipengaruhi, juga tak bisa sembarangan untuk dibunuh. Jika aku melakukannya, maka pengaruh ku pada seluruh manusia di kerajaan itu akan hilang, dan mereka akan dengan cepat menyadari siapa aku sebenarnya. Tentu itu akan sangat buruk."

__ADS_1


"Kau tahu, kekuatanku di dunia ini terbatas, apalagi dengan tubuh yang terbuat dari tanah ini," lanjut Astaroth, memandang ke bawah, memperhatikan tubuh manusianya yang tampak gagah sempurna


"Kau benar, sih. Aku saja merasa jika ku gunakan seluruh kekuatan ku di sini, tubuh manusia ini akan hancur," imbuh pria dengan sepasang sayap hitam dan tanduk di atas kepalanya, tampak cukup mengeluhkan hal tersebut.


Astaroth kemudian menoleh dan dengan tatapan tajamnya ia berkata kepada sosok Asmodeus, "maka dari itu, aku tidak sembarangan menggunakan kekuatanku, jikalau itu harus juga aku tidak akan menggunakan sepenuhnya."


Kedua sosok penting dari Bangsa Iblis itu terus melangkah, berjalan hingga pada akhirnya mereka sampai di puncak salah satu bukit. Di atas bukit tersebut didirikan sebuah menara pantau yang cukup tinggi, dan terbuat dari kayu-kayu kokoh yang berduri. Astaroth dan Asmodeus berjalan menaiki anak tangga kecil yang terbuat dari kayu, menaiki menara pantau itu.


"Bagaimana? Ini adalah Zephyra, negeri yang menjadi saksi di mana bangsa kita pernah dikalahkan 100 tahun yang lalu." Astaroth berbicara dengan sikapnya yang tenang dan dingin kepada Asmodeus yang saat ini berdiri di sampingnya.


Tatapan Asmodeus tampak sangat tajam, dengan kedua iris mata yang semakin menyala. Sosok bermahkota emas dan berzirah hitam itu tampak menyimpan sebuah ambisi tersendiri ketika memandangi sebuah negeri yang sangat luas dan indah di hadapannya.


"Bagaimana soal si pemilik kekuatan alam itu?" pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Asmodeus ketika memandangi pemandangan di Negeri Zephyra.

__ADS_1


Astaroth masih dengan sikapnya yang sungguh tenang dan terkesan dingin menjawab sesuai dengan informasi yang pernah ia terima dari informannya yakni Baltazhar, "si pemilik kekuatan itu sedang berada jauh dari negerinya, menurut informasi dari Baltazhar si pemilik kekuatan itu telah menyeberangi samudra," jawab Astaroth.


Asmodeus menoleh, menatap tajam sosok Astaroth yang berada di sampingnya dan kemudian melemparkan pertanyaan, "kau mengetahui siapa dan seperti apa si pemilik kekuatan alam itu?"


Kedua iris berwarna biru milik Astaroth sempat melirik kedua iris mata tajam berwarna merah yang menyorot ke arah dirinya, sebelum kemudian dirinya menjawab pertanyaan itu. Namun jawaban yang diberikan hanyalah berupa anggukan kepala pelan, tanpa sedikitpun menyebut atau berbicara.


"Jangan khawatir, Yang Mulia. Aku sudah mengantongi beberapa informasi penting mengenai dirinya, baik itu kekuatannya, sampai kelemahannya," ujar Astaroth kemudian ketika menyaksikan kewaspadaan Asmodeus terhadap si pemilik kekuatan, sembari memalingkan pandangannya kembali ke depan.


Laki-laki berambut hitam berzirah serta jubah serba hitam itu kemudian berbalik badan, memandangi perkemahan pasukannya yang tampak sangat luas dan terlihat jelas dari puncak menara tersebut sembari berkata, "sekarang aku hanya perlu perintahmu untuk menggerakkan pasukan sebanyak ini, Yang Mulia Asmodeus."


"Lakukan saja dalam waktu dekat ini, Astaroth, dan jangan terlalu lama ...!" sahut Asmodeus, tanpa ikut berbalik badan, dirinya hanya menoleh dan menatap laki-laki itu dari samping dan lanjut berkata, "aku juga akan membantumu dengan memanggil makhluk-makhluk suruhan ku."


Menyeringai, senang mendengar soal bantuan yang akan diberikan oleh Asmodeus. Astaroth kemudian berbicara, "dengan senang hati menerima bantuan anda, Yang Mulia. Tentu pasukan ini tak akan lengkap tanpa kehadiran makhluk-makhluk suruhan anda."

__ADS_1


__ADS_2