Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Di Atas Salju #63


__ADS_3

Bianca hanya diam sepanjang Altezza bercerita mengenai keputusan serta rencananya untuk pergi meninggalkan kerajaan dan negeri ini, berkelana ke tempat-tempat yang jauh. Reaksi awal yang ditunjukkan oleh Bianca ketika mendengar hal tersebut tentu terkejut dan tidak menyangka. Ketika Altezza selesai berbicara dan ada waktu serta momen untuk Bianca bertanya, perempuan itu langsung menggunakan kesempatannya untuk berbicara.


"Memangnya apa tujuan serta alasan anda, Yang Mulia? Anda terlihat sangat tertarik sekali untuk bisa berkelana," ucap Bianca, menoleh dan menatap lembut laki-laki yang berdiri tepat di sampingnya.


Altezza tersenyum mendengar pertanyaan tersebut, pertanyaan yang sebenarnya dirinya merasa sulit untuk memberikan jawaban dari kedua pertanyaan itu. Laki-laki itu tampak memandang ke arah langit yang tidak terlalu cerah, berawan, dan terlihat tersenyum sebelum kemudian angkat bicara mengenai jawaban dari dua pertanyaan itu.


"Tujuan? Jujur saja aku tidak memiliki tujuan pasti, karena tujuan dalam berkelana itu biasanya akan muncul di tengah perjalanan." Laki-laki itu berbicara, kemudian menoleh, menatap hangat serta tersenyum kepada perempuan yang berdiri di sampingnya sembari lanjut berbicara, "namun yang jelas aku akan berkelana antara ke arah Barat atau Timur, tergantung bagaimana keputusan akhir ku di akhir musim dingin ini."


"Lalu untuk alasan," ujar Altezza kembali berbicara, memandang ke arah danau yang beku di depannya dan kemudian lanjut berkata, "aku ingin belajar serta mengetahui banyak hal, apalagi menjadi seorang pengembara adalah pengalaman yang belum pernah aku miliki sepanjang hidupku, jadi setidaknya aku ingin memilikinya walaupun paling sedikit cuma satu kali."


Bianca memandang ke arah yang sama dengan Altezza, tersenyum kecil dan kemudian berkata, "kembali ke pertanyaan awal anda yaitu mempertanyakan pendapat saya, saya rasa Baginda Raja akan paham dengan alasan yang anda berikan."


Menghela napas lega, itu yang dilakukan oleh Altezza setelah mendengar pendapat Bianca mengenai keraguannya atas keputusan raja apakah akan mengizinkan dirinya untuk berkelana atau tidak.


"Lagipula menjadi seorang pengembara adalah salah satu cita-cita yang menurut saya sangat bernilai, karena kita bisa menjelajahi berbagai tempat, mendapatkan banyak sekali pengalaman baru, teman baru, ilmu serta pengetahuan baru, dan masih banyak hal yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata," ucap Bianca memandang ke arah danau beku itu, dan terlihat tersenyum ketika berbicara. Sedangkan Altezza hanya bisa terdiam, apalagi ketika menyaksikan ekspresi bahagia yang sangat terlihat pada paras cantik milik Bianca.


"Saya sendiri mendukung keputusan anda, selama itu baik untuk anda juga, Yang Mulia," lanjut Bianca, menoleh dan tersenyum lebar kepada Altezza.


Altezza tersenyum, merasa tidak asing dengan kata-kata tersebut. Laki-laki itu menoleh, menatap paras cantik yang tampak ceria serta begitu antusias mendukung keputusannya, "terima kasih, Bianca," ucapnya.

__ADS_1


"Untuk?" sahut Bianca, menatap dengan ekspresi bingung.


Kembali memalingkan pandangannya ke arah danau yang beku, Altezza menjawab, "ini pertama kalinya dalam hidupku berbincang dengan perempuan selain pelayan di istana."


"Sungguh?! Anda sungguh tertutup sekali ya, Yang Mulia?" cetus Bianca, terlihat tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


Tidak salah, Altezza tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Bianca, "menjadi bagian dari istana tidak seindah orang lain bayangkan," ucapnya kemudian.


"Selain tanggung jawab, ada banyak sekali peraturan, adat, ketentuan, syarat, dan berbagai batasan-batasan yang wajib ditaati oleh keluarga kerajaan, termasuk diriku. Dengan banyaknya hal yang sangat mengekang, tentu membuatku sangat jarang sekali memiliki waktu luang seperti saat ini, ini pun karena awal musim dingin," lanjut Altezza, tampak sangat serius ketika mencurahkan isi hatinya, bercerita kepada Bianca yang tampak saksama mendengarkan serta memperhatikan dirinya.


"Maka dari itu aku ingin sekali-kali merasakan kebebasan, dan mengetahui apa saja yang ada di luar sana," lanjut pangeran muda itu, memandang ke arah langit berawan, mengakhiri kalimatnya.


"Mengapa? Apakah karena aku seorang pangeran?" sahut Altezza, tersenyum tipis, melirik kepada Bianca yang berdiri di sampingnya.


"Menurut saya, anda itu pangeran yang unik, Yang Mulia." Bianca seketika cenderung memandang ke bawah, dan tersenyum kecil ketika memberikan jawaban tersebut.


"Unik ...?!" gumam Altezza, terlihat bingung mendengar hal tersebut.


Bianca tertawa kecil mendengar serta melihat kebingungan Altezza terhadap maksud dari perkataannya, "maafkan saya bila saya lancang, Yang Mulia. Namun di mata saya anda itu sangat berbeda dari pangeran dari kerajaan-kerajaan di luar sana."

__ADS_1


"Apa bedanya?" tanya Altezza, terlihat masih tidak mengerti apa maksud dari perkataan Bianca.


"Entahlah!" sahut Bianca, menoleh, tersenyum hingga terlihat gigi-gigi putihnya yang rapi lalu lanjut berkata, "mungkin suatu saat nanti anda akan mengerti sendiri," diakhiri dengan tawa kecilnya.


"Bikin bingung," gumam Altezza, melipat kedua lengannya, dan melirik curiga perempuan yang ada di sampingnya. Namun Bianca hanya tertawa, cengar-cengir dengan riangnya, apalagi melihat ekspresi bingung pangeran itu.


Perbincangan mereka terus berlanjut dengan sangat asyik, bahkan tidak jarang Bianca ataupun Altezza sendiri mencetuskan beberapa topik serta gurauan yang mengundang gelak tawa. Bahkan tidak hanya dermaga itu saja yang menjadi tempat atau saksi topik-topik menggelikan mereka berdua. Mereka berdua juga sempat berjalan di atas salju tebal yang ada di tepi danau yang beku itu, bahkan beberapa kali Bianca memainkan salju-salju tersebut, membentuk sebuah bola dan melemparkannya ke arah Altezza, begitu pula sebaliknya.


Setelah bermain-main dengan salju-salju lembut dan dingin itu, dan mengingat waktu yang perlahan semakin siang. Hembusan angin pelan nan lembut perlahan terasa, dan tidak lama kemudian kuda putih milik pangeran muda itu berjalan datang dari antara pepohonan lebat terselimuti salju.


"Dia datang dengan sendirinya?!" cetus Bianca, tampak terkejut sekaligus kagum melihat seekor kuda yang pergi dan datang dengan sendirinya ketika dibutuhkan oleh tuannya yakni Altezza.


Altezza tersenyum kecil dan menjawab, "bagaimana, keren, bukan?!" sembari berjalan mendekati kudanya yang sangat menurut kepada dirinya, apalagi ketika ia sentuh kepala kuda tersebut.


Bianca masih terlihat kagum dengan kuda tersebut, dan mendekatinya serta juga ikut menyentuh kepala milik kuda putih tersebut. Ketika Altezza membenarkan pelana yang ada di atas kuda miliknya, dirinya tiba-tiba saja terlintas ide, "Bianca, kamu belum pernah mengendarai kuda, bukan?" tanyanya, menoleh kepada Bianca yang terlihat asyik mengelus lembut rambut putih yang cukup panjang pada kepala kuda tersebut.


"Iya, Yang Mulia. Memangnya ada apa?" jawab Bianca, masih terlihat asyik, bahkan tidak melirik atau menatap laki-laki tersebut.


"Bagaimana kalau perjalanan kita ke ibu kota, kuda ini kamu yang kendarai?" cetus Altezza, kemudian menoleh, dan tersenyum tipis kepada Bianca.

__ADS_1


"Saya?!"


__ADS_2