
"Saya akan membawa anda kembali ke ibu kota, Yang Mulia."
Kenan menuntun Raja Aiden yang tampak terluka cukup parah untuk pergi meninggalkan pertempuran di Mutiara, ia terus berjalan membawa sang raja menaiki sebuah bukit yang berada cukup jauh di Utara dari wilayah atau medan pertempuran tersebut.
Napas terengah-engah, darah mengalir dari pelipis, keluar juga darah dari mulut dan hidung, luka bakar sekaligus terbuka pada lengan kiri dan kaki kirinya yang juga tampak mengeluarkan darah cukup banyak. Jubah putih yang dipakainya sudah tak lagi putih suci, ternodai oleh tanah, abu berwarna hitam, dan tentunya merah darah dari darahnya sendiri. Raja Aiden berdiri di puncak bukit tersebut bersama Kenan yang tak melepaskan genggamannya dari lengan kanannya, dan memandang ke arah Wilayah Mutiara yang sudah menjadi lautan mayat.
Di bawah hujan deras yang masih mengguyur. Tanah di wilayah tersebut tak lagi hijau, semuanya menjadi merah dengan jasad para prajurit aliansi dari kerajaan manusia. Pasukan Aliansi yang dipimpin oleh Raja Aiden, telah ditaklukkan dengan mudah oleh sebuah ledakan besar yang tiba-tiba saja menyerang barisan belakang pasukannya. Ledakan besar itu dalam sekejap melumpuhkan dan menewaskan hampir seluruh prajurit yang ada di sana. Selain itu, ledakan tersebut juga telah menghancurkan beberapa bukit kecil di sekitarnya, hingga menciptakan cekungan tanah berdiameter kurang lebih 100 meter luas dan kedalamannya, dan menciptakan beberapa sumber api yang tampak terus berkobar meski diguyur oleh derasnya hujan.
"Mereka yang selamat ... bagaimana?" tanya Raja Aiden tampak masih mempedulikan prajuritnya yang masih selamat--mungkin seperti dirinya saat ini, meski dengan luka-luka memenuhi hampir sekujur tubuh.
Kenan menghela napas berat, "maafkan saya, Yang Mulia. Kuantitas saya hanya bisa membawa satu orang untuk pergi dari pertempuran itu, jadi saya memutuskan untuk membawa anda pergi."
"Saya tak bisa membawa semua korban selamat untuk pergi karena tekanan dari pasukan musuh yang tak pernah berhenti menyerang," lanjut Kenan.
Sorak-sorai dari pasukan panji hitam perlahan terdengar dengan sangat jelas, mereka mengangkat persenjataan ke langit, berseru di bawah hujan yang masih mengguyur wilayah tersebut. Kemenangan dari pasukan kegelapan telah diraih dengan takluknya pasukan aliansi di Wilayah Mutiara, Perbatasan Selatan Zephyra.
"Panggil ... merpati kerajaan, Kenan ...! Kita harus ... mengirimkan surat ... ke ibu kota," pinta Raja Aiden kepada kesatrianya dengan intonasi gemetar dan merintih kesakitan.
__ADS_1
"Saya akan memanggilnya sembari kita berjalan, Yang Mulia," sahut Kenan, kemudian bergegas menuntun sang raja untuk berjalan, menuruni bukit tersebut dan menuju ke arah Utara.
...
Langkah sang raja sangat tertatih-tatih, dan mulai memasuki sebuah hutan. Raja Aiden langsung terduduk di tanah karena kaki kirinya yang sudah tak mampu menopang tubuhnya. Luka pada salah satu kaki tersebut tampaknya cukup parah, bahkan Raja Aiden tak bisa merasakan atau menggerakkan kaki kirinya.
Kenan mau tidak mau harus menghentikan langkahnya sejenak, dan beristirahat di bawah salah satu pohon besar yang rindang serta tinggi menjulang, pohon yang menjadi sandaran sang raja yang saat ini hanya bisa terduduk di tanah. Tak ada air, tak ada perbekalan. Semua suplai tersebut telah hancur, atau mungkin telah jatuh di tangan pasukan kegelapan.
Kesatria tampan berambut hitam itu bersuit hingga menciptakan bunyi layaknya peluit dengan menggunakan salah satu tangannya, sebelum akhirnya seekor merpati berbulu putih cantik terbang mendekat dan hinggap pada salah satu lengannya.
"Silakan pakai kain ini, Yang Mulia." Kenan mengambil dan memberikan kain berwarna putih yang ia simpan di kantong celananya, kain yang seharusnya digunakan untuk mengelap dan membersihkan pedang miliknya, "namun saya tak memiliki tinta," lanjutnya setelah Raja Aiden menerima sehelai kain tersebut.
Kenan hanya bisa diam, meringis dengan sendirinya ketika melihat sang raja mengambil tetes-tetes darah yang keluar dari kaki kirinya, dan kemudian menuliskan kalimat pada kain putih tersebut dengan darah itu.
Setelah selesai, Raja Aiden tampak menggunakan sihir angin pada telapak tangan kanannya untuk mengeringkan darah yang ada pada kain tersebut. Sekiranya sudah cukup kering, ia segera menggulung kain putih bercak merah itu, dan kemudian memberikannya kepada Kenan sebelum akhirnya diteruskan salah satu cengkraman merpati yang hinggap pada salah satu lengannya. Menerima surat yang hendak dikirimkan, merpati itu segera mengepakkan sayapnya dan terbang setinggi-tingginya dengan membawa pesan tersebut menuju Ibu Kota Zephyra.
...
__ADS_1
Hembusan angin terasa lembut dan menenangkan, hingga menimbulkan suara gesekan dedaunan di sela-sela ranting pepohonan hutan. Raja Aiden bersandar di bawah pohon rindang tersebut dengan pandangan terangkat ke atas, melihat langit di atasnya yang sudah tak lagi menurunkan airnya, hanya saja langit di atas sana masih terlihat abu-abu gelap.
Pria tampan yang paling dihormati satu Kerajaan Zephyra itu tampak tak lagi meringis kesakitan--karena sudah saking sakitnya ia sampai mati rasa oleh tubuhnya yang penuh luka itu. Pandangannya kemudian tertuju kepada Kenan yang masih berdiri tegap di hadapannya dengan zirah besi yang dipenuhi oleh goresan. Kenan tampak tak beranjak dari sana, dan tetap berdiri tegap dengan gagahnya.
"Aku tak bisa berjalan, Kenan. Pergilah lebih dahulu ke ibu kota, dan sampaikan apa yang terjadi di Muti--"
"Maaf, Yang Mulia. Namun saya akan dengan tegas menolak perintah anda untuk meninggalkan anda di sini!" sahut Kenan, dengan lancang dan tegasnya memotong perkataan sang raja.
Bukannya tajam dan marah, pandangan serta tatapan Raja Aiden justru melembut melihat kesetiaan yang ditunjukkan oleh Kenan padanya. Tatapan tersebut perlahan berubah menjadi berkaca-kaca, "tetapi--"
"Saya bisa membawa anda kembali ke ibu kota, Yang Mulia." Kenan langsung berbicara, lagi-lagi memotong perkataan sang raja, dan kemudian menundukkan kepalanya di hadapan sang raja yang masih terduduk di atas tanah.
"Apapun caranya, kalau perlu saya bersedia untuk membopong anda. Saya tidak akan meninggalkan anda di sini!" lanjut Kenan, mengangkat kembali kepalanya, dan menatap tajam serius kepada sang raja.
Raja Aiden mengangguk paham, dan tersenyum kecil. Ia tampak berusaha kembali bangkit dengan tangan kanan memegangi batang pohon meski terlihat cukup kesulitan. Kenan dengan sigap membantunya kembali berdiri, sebelum kemudian melingkarkan tangan kanan sang raja di atas lehernya, menuntunnya untuk berdiri dan berjalan.
"Sebelum ke ibu kota, bawa aku ke bukit Timur dari wilayah Zephyria terlebih dahulu, ada yang harus ku lakukan di sana," ucap Raja Aiden, menoleh dan berbicara kepada Kenan.
__ADS_1
Kenan mengangguk, "baik, Yang Mulia. Saya akan membawa anda ke sana."