Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Pasukan Kegelapan Telah Tiba #143


__ADS_3

Fenomena alam yang sangat luar biasa terjadi di langit Selatan wilayah Zephyra. Langit terlihat sangat gelap meski di pagi hari, dengan gumpalan awan berwarna abu-abu gelap, berputar secara vertikal, berukuran sangat besar dan tebal berdiri tegak di atas langit dengan pusat yang mendalam. Saking besar skala awan tersebut, hampir seluruh langit di wilayah Selatan tertutupi oleh kegelapan serta badai yang dibawa oleh awan itu.


Tepat di bawah langit gelap yang masih enggan menghentikan petir serta hujan derasnya, terlihat pergerakan pasukan berjumlah ribuan yang tengah bergerak mengarah Utara. Pasukan-pasukan itu sudah seperti semut jika dilihat dari atas, di bawah panji-panji hitam, dan berjumlah sangat banyak hingga menyentuh angka ribuan. Prajurit-prajurit di dalamnya juga tampak bermacam-macam, atau lebih tepatnya cenderung aneh. Berbagai macam makhluk berukuran besar dan memiliki bentuk yang sangat mengerikan serta menjijikkan ada di dalam barisan ribuan pasukan tersebut. Jumlah mereka juga tak kalah banyak dari prajurit-prajurit manusia serta iblis yang berada di darat maupun udara.


Derap langkah kaki pasukan tersebut terdengar sangat jelas, dan akan meluluhlantakan nyali serta keberanian siapapun prajurit lawan yang mendengarnya. Terlebih di dalam pasukan tersebut terdapat monster-monster berukuran besar dengan bentuk yang aneh-aneh. Ada sekawanan makhluk raksasa yang berbetuk seperti anjing namun memiliki tiga kepala dan ujung ekor yang runcing setajam jarum. Selain itu juga terlihat kumpulan makhluk raksasa berkaki dua dan bertangan empat, berbadan gemuk, memiliki satu mata pada kepalanya, dan selalu membawa-bawa senjata besar berupa palu gada dengan ujung palu terdapat banyak sekali besi-besi tajam yang panas.


Tidak menghentikan langkah sedikitpun, pasukan dalam jumlah besar itu terus bergerak meskipun alam yang sedang mengamuk tampak berusaha menghentikan mereka. Berkali-kali petir menyambar hingga ke tanah, membakar bukit-bukit yang mereka lalui, bahkan sempat mengenai beberapa kompi prajurit. Akan tetapi pasukan panji-panji hitam itu terus berjalan maju.


Tepat di atas prajurit-prajurit panji hitam yang berjumlah sangat banyak itu, terlihat seorang laki-laki dengan zirah dan jubah berwarna hitam melayang terbang di atas mereka. Kedua iris mata milik laki-laki berambut hitam itu tampak berwarna biru, dan semakin indah serta menyala seiring dengan lebatnya hujan serta badai yang menerjang.


Astaroth tampak sungguh tenang di tengah-tengah badai yang saat ini tengah menerjang. Tak hanya menerjang, langit seolah ingin menjatuhkannya dengan sambaran petirnya berkali-kali ke tubuh Astaroth. Akan tetapi semua petir yang menyambar tertangkis dengan sangat mudah oleh sebuah pelindung transparan yang mengelilingi tubuh Asta.


"Alam tidak akan bisa menghalangiku, tidak akan pernah bisa ...!" gumam Astaroth dengan kedua iris matanya yang tampak menyala.

__ADS_1


Kedua tangan milik Astaroth perlahan terulur ke depan, dengan kedua telapak tangan terbuka seolah hendak meraih sesuatu. Tanpa merapalkan sedikit mantra dari mulutnya, kedua telapak tangannya perlahan bercahaya biru muda, dan dalam waktu sekejap mengubah setiap tetes air hujan di sekitarnya menjadi butiran-butiran salju dan es berukuran kecil.


Kedua tangan Astaroth kembali diturunkan, dan ia sempat memejamkan kedua matanya dalam beberapa detik. Laki-laki berambut hitam itu tampak menyeringai kemudian, perlahan membuka kembali kedua iris matanya yang sudah berubah menjadi berwarna merah menyala.


"Zephyra, mau diubah menjadi lautan salju, atau lautan api ...?" gumam laki-laki berambut hitam itu, terus melayang dengan tenang di atas pergerakan ribuan pasukannya. Astaroth tiba-tiba tertawa angkuh setelah berbicara dengan sendirinya, "ini menarik, sangat menarik!" serunya.


***


Berdiri di salah satu tepi pagar kayu-kayu tajam, Raja Aiden bersama kesatrianya yaitu Kenan memandang ke arah Selatan tanpa mempedulikan meski seluruh tubuhnya saat ini basah kuyup karena badai yang tak kunjung mereda. Suara guntur tidak berhenti menggelegar. Langit di Selatan sangat gelap, pekat berwarna hitam seperti langit malam yang tertutup oleh awan. Berbeda sekali dengan langit yang saat ini berada di atas Wilayah Mutiara, masih terlihat abu-abu walaupun semakin gelap dengan intensitas hujan yang semakin lebat.


Beberapa detik telah berlalu, dan sang raja masih terdiam di sana dengan terus memasang tatapan waspada. Sejauh matanya memandang belum terlihat hal yang mencurigakan seperti yang dilaporkan. Semuanya hanyalah pemandangan gelap dan keganasan badai yang sangat lebat, bahkan sampai memangkas jarak pandang.


Raja Aiden berdiri di sana dengan sebuah perasaan yang cukup rumit. Tak dapat dipungkiri, tersimpan cukup ketakutan di dalam hatinya sama seperti prajurit-prajurit lain. Namun masih dengan sikapnya yang tenang, ia tampak tidak akan gentar dengan apapun yang ada di balik lebatnya badai di wilayah Selatan.

__ADS_1


"Nyalakan suar peringatan, dan siapkan seluruh altusista yang kita miliki segera ...!" titah turun dari Raja Aiden kepada Kenan dan Franz.


Franz segera beranjak menuju ke salah satu menara, dan memberikan kode kepada seorang penyihir yang berjaga di atas menara tersebut. Laki-laki berjubah putih di atas sana langsung paham, langsung mengayunkan tongkat sihirnya, dan berakhir dengan memunculkan cahaya berwarna merah melayang di atas langit.


Seluruh prajurit yang berada di Wilayah Mutiara dapat melihat suar peringatan tersebut. Mereka segera mempersenjatai diri, dan langsung merapat hingga menciptakan banyak barisan prajurit berzirah di sepanjang perbukitan. Berbagai alutsista seperti meriam, pelontar, dan balista juga langsung dikerahkan mengisi beberapa posisi di atas beberapa bukit. Kenan turut turun tangan untuk memberikan arahan kepada para prajurit yang menggerakkan semua alutsista tersebut.


Semua prajurit sudah bersiap, berbaris gagah, dan berdiri di sepanjang pagar perbatasan. Pedang, tombak, dan para pemanah, semuanya dikerahkan untuk menghadapi segala kemungkinan.


"Semuanya telah siap, Yang Mulia. Akan tetapi pasukan dari Barat, Timur, dan Utara belum datang. Di sisi lain jumlah kita saat ini hanya menyentuh sekitar 990 prajurit, dan itu sudah termasuk para penyihir kerajaan." Kenan kembali mendatangi Raja Aiden setelah mempersiapkan segala alutsista perang, dan melaporkan hal tersebut kepada sang raja.


"Pasukan kita sekaligus pasukan Victoria dan Lagarde masih terbagi-bagi, dan semuanya masih dalam perjalanan dari ibu kota menuju ke sini," lanjut Kenan.


Pandangan sang raja masih lekat, tak bisa lepas memandangi pemandangan Selatan yang sangat amat mengerikan. Petir di sana tidak pernah berhenti menyambar, bahkan hingga menciptakan berbagai cabang yang sangat besar dan melebar di cakrawala yang gelap dan dipenuhi awan badai.

__ADS_1


Tak berselang lama, perlahan terlihat seperti rombongan semut yang berjumlah sangat-sangat banyak, keluar dari balik bukit-bukit di sebelah Selatan. Pasukan kegelapan telah terlihat, dan mereka sudah berjarak puluhan kilometer saja dari Perbatasan Mutiara. Kedua mata Raja Aiden juga dapat melihat adanya berbagai makhluk berukuran besar, dan makhluk-makhluk yang beterbangan di atas mereka. Semuanya masih terlihat kecil karena terpaut oleh jarak yang masih sangat jauh.


"Namun apapun yang terjadi kita harus tetap berjuang di sini, Kenan. Jika perbatasan ini jatuh, maka kegelapan akan memasuki Zephyra dengan sangat mudah," ujar Raja Aiden, sudah siap menggenggam gagang pedangnya yang masih tersarungkan bergelantung pada pinggangnya.


__ADS_2