Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Kawanan Anjing Berkepala Tiga #130


__ADS_3

Lolongan anjing terdengar berkali-kali, tiada henti. Setiap warga desa yang mendengar lolongan tersebut langsung masuk ke dalam rumah mereka masing-masing, menutup serta mengunci pintu dan jendela rapat-rapat. Tersisa para penjaga desa yang berada di luar ruangan, di bawah gelapnya langit malam tanpa bintang.


Altezza berdiri di depan gerbang desa bersama ketiga temannya. Tak hanya mereka berempat saja, namun juga bersama para penjaga desa yang ikut berkumpul di depan gerbang desa. Tertampak sangat jelas wajah-wajah cemas bercampur ketakutan dari setiap penjaga, bahkan tidak hanya para penjaga saja namun juga ketiga temannya. Berbeda dari mereka, Altezza justru santai dengan ketenangannya yang luar biasa.


"Satu peleton makhluk neraka akan tiba mendatangi kawannya, dan tidak lama lagi mereka akan marah kepada kita karena telah menyegel kawan mereka," ujar Legolas, berjalan mendekati Altezza dari belakang.


"Apakah dengan menghabisi kawanan makhluk itu akan menghentikan teror mereka kepada kalian?" cetus Altezza, tampak tidak begitu mempedulikan apa yang baru saja dikatakan oleh Legolas.


"Ya, akan tetapi akan sangat sulit karena mereka berkelompok," jawab Legolas, sudah berdiri tepat di sebelah Altezza.


"Kita lakukan sesuai rencana?" ujar Aaron, berdiri tepat di belakang Altezza dengan kedua buah belati yang sudah ia genggam di masing-masing tangannya.


Caelum yang kini berdiri tepat di sebelah Legolas pun mengangguk, menjawab apa yang dikatakan oleh Aaron, "kita lakukan sekarang!"


Mereka memulai pergerakan dengan mendaki beberapa bukit kecil yang berada tak jauh dari gerbang desa. Legolas memerintahkan para penjaga desa untuk selalu dekat dengan desa, sedangkan Caelum akan senantiasa bersama para pengembara berada di bukit. Rencana pertama dijalankan dengan baik dengan pengambilan posisi di setiap ruang krusial.


Altezza berdiri di puncak bukit yang ia pijak, dan melihat setiap pergerakan kecil yang dilakukan oleh makhluk besar yang disegel di puncak bukit tepat di depannya. Sekujur tubuh dari anjing besar berkepala tiga itu tampak perlahan mengeluarkan cahaya berwarna biru, menyala dan bersinar.


"Apakah itu normal?" tanya Eugene melihat anjing biru itu menyala.


Caelum yang ada di sebelah Eugene menjawab pertanyaan tersebut, "itu tanda-tandanya ketika hendak menggunakan sihir yang ada dalam tubuhnya."


Benar saja, apa yang dikatakan Caelum terjadi. Anjing berkepala tiga itu secara tiba-tiba mengeluarkan api berwarna biru dari masing-masing mulutnya, dan membuat puncak bukit yang ia duduk seketika terbakar mengepulkan asap tebal.

__ADS_1


"Mengerikan," bisik Alaia, memeluk tongkat emasnya dengan gelisah, dan berdiri semakin mendekat dengan Aaron.


Tak berselang lama, sekelompok anjing berkepala tiga muncul dari hutan yang ada di lereng bukit tersebut, dan mereka langsung menghampiri temannya yang tersegel tepat di puncak bukit itu. Jumlah mereka kurang lebih satu peleton, dan berukuran sangat besar. Dengan ukuran tersebut, mereka dapat dengan meratakan desa hanya dengan berlari-larian di desa. Anjing-anjing itu berbondong-bondong mengerumuni satu teman mereka yang tersegel, hingga membuat puncak bukit itu penuh dengan tubuh besar berwarna biru mereka.


"Apa yang sedang mereka lakukan?" tanya Aaron.


"Entahlah, mungkin berkomunikasi?" sahut Caelum, berpendapat saat menyaksikan momen tersebut.


Makhluk-makhluk itu berkerumun dan terpusat hanya pada puncak bukit tersebut, dan tak terlihat adanya indikasi akan melakukan penyerangan terhadap desa.


Melihat kesempatan dan peluang, Legolas muncul dari belakang para pengembara yang ada di puncak bukit itu sembari berlari menuju gerombolan makhluk neraka sembari berkata, "ini kesempatan kita, lakukan sesuai rencananya!"


Laki-laki Elf berambut pirang berpakaian cokelat itu berlari menuruni bukit hanya dengan busur dan anak panah sebagai senjata. Legolas menarik busur serta satu buah anak panahnya, mengarahkannya ke atas tepatnya kepada gerombolan anjing berkepala tiga itu, dan kemudian melepaskannya.


Tepat di lereng bukit, Caelum merapalkan sebuah mantra dengan sangat cepat hingga memunculkan sebuah lingkaran sihir berwarna emas yang berukuran sangat besar. Lingkaran tersebut mengelilingi gerombolan anjing berkepala tiga, dan hanya dalam sekejap sejumlah rantai tajam berwarna emas muncul, mengikat serta menyegel kurang lebih sepuluh dari mereka.


"Tidak cukup! Jumlah mereka terlalu banyak," ujar Caelum, tampak berkeringat dan terengah-engah.


"Serahkan sisanya padaku," ujar Altezza, beranjak menuruni bukit dengan langkah cepatnya.


"Tu-tunggu!" cetus Alaia, ikut berlari menyusul laki-laki berambut hitam itu. Tak hanya gadis berambut kelabu itu saja, namun Aaron dan Eugene juga ikut mengikuti langkah Altezza menuruni lereng bukit


"Alaia, tetaplah berada di dekat Eugene dan gunakan sihir pendukung mu untuk kami!" pinta Aaron kepada adiknya sembari terus berlari mengejar Altezza yang sudah jauh di depan.

__ADS_1


Sepuluh telah tertangkap oleh sihir segel yang diciptakan oleh Caelum, akan tetapi masih ada sepuluh ekor lagi yang masih bisa bergerak bebas. Altezza berlari, dan tepat di hadapannya adalah sepuluh makhluk berukuran besar itu. Mereka tampak sangat mengerikan, berkepala tiga, dan dengan mulut yang sudah berapi-api. Namun hal tersebut tampaknya tidak membuat Altezza gentar.


"Aku berharap kau ada di sini, Aerin. Mohon bantu aku ...!" ujar Altezza menghentikan langkahnya, dan berbicara dengan sendirinya.


Laki-laki berambut hitam itu menarik pedang yang bergelantung pada ikat pinggangnya, dan menghunuskan pedangnya pada salah satu anjing berkepala tiga yang sudah berdiri tepat di hadapannya. Menggeram, tampak sangat marah, tatapan tajam berwarna merah dari makhluk tersebut sangat lekat menatap Altezza yang berukuran jauh lebih kecil darinya.


Ketenangan yang luar biasa, membuat Altezza dapat mengaliri pedangnya dengan kekuatan magis miliknya. Aura berwarna hijau muda tampak indah, menyelimuti mata pedangnya, bahkan juga membuat gelang berwarna hijau yang ia kenakan pada pergelangan tangan kanannya ikut bercahaya hijau.


"Sudah lama aku tak merasakan sensasi ini, rasanya menggebu-gebu sekali!" gumam Altezza, tampak tersenyum lebar dengan tatapan tajamnya.


Belum ada beberapa detik setelah ia berbicara, makhluk itu menyerang lebih dahulu dengan menggunakan cakarnya. Sangat cepat, dan berhasil membuat Altezza refleks melompat dengan menggunakan kekuatan anginnya. Akan tetapi ketika ia melompat, semburan api berwarna biru muda tercipta sangat besar oleh salah satu kepala anjing itu, dan terarah akurat kepadanya.


Ledakan terjadi di langit hingga membuat kepulan asap hitam yang cukup tebal. Tidak terlihat sosok Altezza di sana, dan kejadian tersebut berhasil membuat Aaron, Alaia, Eugene, dan kedua Elf yakni Legolas beserta Caelum terdiam.


SLiingg ...!!!


Kilatan cahaya berwarna hijau tiba-tiba saja muncul di tengah asap berwarna hitam. Ketika asap tersebut perlahan terurai, terlihat sosok Altezza yang melayang di atas sana dengan tubuh diselimuti oleh hembusan angin lembut dan aura berwarna hijau muda. Laki-laki itu kemudian bergerak, melompat tepat di atas ketiga kepala anjing tersebut, dan kemudian mengayunkan pedangnya kuat-kuat hingga menciptakan hempasan angin yang sangat kencang dan tajam.


Satu anjing besar terpenggal dan terlumpuhkan. Peristiwa itu berhasil mengundang decak kagum siapapun yang menyaksikannya, termasuk ketiga pengembara yang satu kelompok dengan Altezza.


"Kurasa kita beruntung bisa mengenalnya," gumam Aaron, menatap kagum laki-laki berjubah hitam yang berdiri gagah di hadapan mayat anjing berkepala tiga itu.


Eugene mengangguk, "dan aku tidak ingin membuat masalah dengannya ...!" imbuhnya.

__ADS_1


__ADS_2