
Matahari tepat di sebelah barat dengan langit yang sudah berubah berwarna jingga cerah. Di sore hari ini Altezza kembali mendapatkan panggilan untuk menghadap kepada Raja Aiden dan Ratu Caitlyn. Kedua pemimpin Kerajaan Zephyra itu ingin berbicara dengannya, dan hanya secara enam mata. Sekembalinya Altezza dari pelabuhan, dirinya harus segera menemui kedua orang tuanya di ruang singgasana.
Ketika berada di dalam ruang singgasana tersebut, Altezza disambut dengan tatapan tajam dari Raja Aiden, sedangkan tatapan penuh dengan kekhawatiran dari Ratu Caitlyn. Tidak ada orang lain di ruang singgasana yang sangat luas itu, hanya ada mereka bertiga di dalam ruangan tersebut.
Raja Aiden menggeleng dengan tatapan tajamnya ketika putra bungsunya sudah berada tepat di hadapannya dalam keadaan berlutut, "apakah kau sadar akan tindakan mu, Pangeran Kedua Altezza Zachery Zephyra?" tanya Aiden, menyebut lengkap nama serta gelar putra bungsunya.
Altezza mengangkat kepalanya dan menjawab, "tentu, saya melakukannya dalam keadaan sadar sepenuhnya."
"Lalu mengapa kau memilih untuk menggunakan sihir tersebut? Bisakah kau memberikan penjelasan?" sahut Aiden, ketus.
Dengan sikapnya yang tenang seperti biasa, Altezza hanya memberikan jawaban sekaligus penjelasan singkat, "karena aku tidak ingin membuang banyak waktu."
Raja Aiden terlihat menghela napas berat, bersandar dan berusaha santai di kursi singgasananya. Ratu Caitlyn yang duduk di sampingnya terlihat menatap khawatir putra bungsunya.
"Mereka sangat berbahaya, bisa menggunakan sihir peningkatan, dan dapat dengan mudah membunuhku jika aku tidak segera menyelesaikannya. Kalian tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di lapangan, lagipula berkat sihir itu mereka berhasil diringkus."
Altezza merasa dipojokkan dan disalahkan di mata kedua orang tuanya. Tentu mereka telah mengetahui bahwa dirinya menggunakan sihir tingkat atas itu. Pangeran muda itu terlihat sedang melakukan pembelaan. Pandangannya kembali tertunduk dan lanjut berkata, "ya, walaupun aku mengakui kesalahan ku telah membakar hutan itu," dengan intonasi rendah.
"Bukan itu semua yang menjadi masalah, sayang. Kami tidak sedang menyalahkan mu untuk menggunakan semua sihir yang kamu kuasai, karena kami selalu percaya dan yakin bahwa kemampuan mu adalah satu-satunya yang terbaik di negeri ini." Caitlyn angkat bicara, beranjak dari kursi singgasana Ratu miliknya, berjalan menuruni beberapa anak tangga, dan kemudian menyuruh putra bungsunya untuk berdiri.
"Lalu? Mengapa kalian seolah sedang memojokkan ku?" sahut Altezza, menatap ibundanya dengan tatapan penuh tanya.
Caitlyn sempat menoleh dan menatap ke arah suaminya yang duduk di singgasana, sebelum kemudian kembali menatap putranya dan menjawab, "ada sesuatu yang tidak kami duga, saat atau mungkin setelah kamu menggunakan sihir sehebat itu."
__ADS_1
Altezza langsung dibuat bingung dengan apa yang dikatakan, apa maksudnya. Laki-laki itu segera menatap Raja Aiden dan bertanya, "apa maksudnya?"
Di saat yang bersamaan, pintu ruang singgasana yang berukuran amat besar itu terbuka, lalu masuklah pangeran pertama yaitu Welt dengan sikap tenangnya seperti biasa. Kedatangan Welt langsung menjadi jawaban dari Raja Aiden atas pertanyaan dari putra bungsunya, "biarkan Welt yang menjelaskannya padamu," ucapnya.
"Bagaimana keadaanmu, Altezza?" sapa Welt kepada adik kandungnya.
"Jawabannya seperti yang kau saksikan saat ini," sahut Altezza, berdiri tegap, tidak ada luka dan menunjukkan bahwa dirinya baik-baik.
"Baik, aku akan langsung menjelaskannya padamu mengenai kekhawatiran Raja dan Ratu." Welt mengulurkan kedua tangannya ke depan, dan secara tiba-tiba memunculkan sebuah genangan air kecil di atas karpet merah itu.
Pantulan yang ada di genangan air tersebut bukanlah atap ruang singgasana yang bercahaya keemasan, namun seekor burung berukuran amat besar dan berwarna hitam yang sedang terbang. Tidak asing dengan ciri-ciri fisik dari hewan tersebut, burung raksasa itu adalah pemuncak predator angkasa yaitu burung elang.
"Gunakanlah mata sihir mu, dan lihat hewan itu ...!" pinta Welt kepada Altezza.
Kedua mata milik Altezza terbelalak, terkejut. Aura hitam pekat, sangat jahat dan mengerikan mengelilingi tubuh hewan itu. Iris mata tajam yang elang itu miliki juga terlihat bercahaya berwarna merah menyeramkan. Dengan begitu elang tersebut sudah dapat dipastikan bukan elang biasa.
"Kau menemukan elang ini ada di mana?" cetus Altezza, menetralkan sihirnya dan mengembalikan kedua iris matanya normal, dan kemudian menoleh kepada Welt yang berdiri tepat di sampingnya.
"Kami pihak sihir kerajaan mendeteksi adanya sihir tingkat atas yang sedang digunakan, dan rupanya sihir tersebut adalah sihir milikmu. Namun ketika kami mendeteksi sihirmu, kami juga mendeteksi adanya sihir lain yang sangat pekat dan berat, dan sihir tersebut berasal dari elang ini."
"Makhluk itu terbang di atas awan, dan hanya berkeliling di hutan tersebut seperti sedang melakukan pemantauan terhadap sihir besar yang kau gunakan, Altezza."
Welt langsung menjawab pertanyaan Altezza, dan kemudian memberikan kejelasan atas kebingungan pangeran kedua itu. Mendengar penjelasan tersebut Altezza langsung kembali bertanya "lalu apa yang terjadi padanya setelah aku selesai?"
__ADS_1
Welt menghela napas, menggeleng dan menjawab, "setelah sihir milikmu kembali netral, elang itu menghilang tanpa jejak di balik awan," jawabnya di saat yang bersamaan genangan air yang ia ciptakan juga ikut menghilang.
"Kita masih tidak memiliki banyak informasi mengenai asal-usul elang itu, dan sihir apa yang melapisi tubuhnya. Namun dugaan kami dia membawa pertanda buruk, Altezza. Sebisa mungkin kedepannya jangan gunakan sihir tingkat atas jika tidak benar-benar diperlukan!" lanjut Welt, menoleh, menatap penuh perhatian adiknya.
"Baik," sahut Altezza, memandang ke bawah, dan masih tampak bingung dengan apa yang sebenarnya telah ia lihat.
***
Berjalan melalui pinggir taman kecil yang ada di tengah-tengah istana. Altezza terlihat ditemani oleh Welt untuk menuju ke lorong yang akan membawanya ke aula utama. Ketika di taman tersebut sempat terjadi beberapa perbincangan dengan topik yang masih membahas soal elang hitam itu.
"Apakah ada orang yang mengendalikan elang itu, lalu melakukan pemantauan kepada diriku?" tanya Altezza, berjalan melalui pilar-pilar keramik di samping taman.
"Bisa jadi seperti itu, namun juga tidak menutup kemungkinan bahwa elang tersebut adalah makhluk jelmaan," jawab Welt, sempat menoleh kepada Altezza.
"Hewan yang menarik, seperti Shiro namun berbeda warna dan yang ini tidak ada jambulnya," ujar Altezza memperlambat langkahnya, bergumam dan berbicara sendiri dengan intonasi berbisik. Laki-laki berseragam putih itu terlihat sedang berpikir dan menerka-nerka soal elang hitam itu
"Shiro? Siapa itu?" sahut Welt tidak sengaja mendengarnya, menghentikan langkahnya, dan menoleh menatap saudaranya.
Altezza terkejut ketika Welt mendengar apa yang baru saja ia katakan ketika berbicara dengan dirinya sendiri. Mau tidak mau ia harus memberikan jawaban serta kejelasan. Orang di istana yang tahu soal Shiro hanyalah ibundanya, dan tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Tetapi kali ini sepertinya akan bertambah.
"Altezza ...?" cetus Welt, menatap curiga Altezza yang terlihat terdiam dan melamun.
"B-baiklah, aku akan memperkenalkan mu dengannya," sahut Altezza kemudian menghela napas berat.
__ADS_1