Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Perbatasan Selatan Zephyra #114


__ADS_3

Perbatasan Selatan Kerajaan Zephyra, Benua Tengah. Langit di wilayah tersebut tampak sangat tidak bersahabat, mengamuk dengan petir yang terus menyambar dan menggelegar, berwarna sangat gelap namun tidak menurunkan airnya. Perbandingannya dapat dilihat dengan jelas jika melihat langit di arah Utara yang masih berwarna jingga cerah daripada langit yang ada di Selatan. Meski hanya langit yang tampak gelap dan mengerikan itu, para penduduk yang tinggal di desa-desa setempat langsung memilih untuk angkat kaki dari sana dirundung oleh perasaan panik dan takut. Rombongan prajurit berkuda berjumlah ratusan orang berjalan melewati hamparan rumput di Selatan, dan di dalam rombongan tersebut terdapat Raja Aiden beserta Kenan yang ingin memastikan secara langsung bagaimana kondisi di Perbatasan Selatan negerinya.


Masih berada di atas kuda putihnya, Raja Aiden tampak menatap dengan tatapan tidak percaya ke arah Selatan. Ia tidak melihat hanya dengan mata biasa, melainkan juga menggunakan mata sihirnya. Entitas magis misterius berwarna gelap menyelimuti luar perbatasan, dan membuat kondisi di sekitarnya berubah dingin bahkan hingga membekukan hutan-hutan yang ada di perbatasan. Dari kejauhan sang raja juga dapat melihat rakyatnya yang tampak berhamburan keluar dari hutan-hutan tersebut menuju ke arahnya, mereka terlihat sangat kecil karena masih berjarak sangat jauh.


"Evakuasi para penduduk itu, pindahkan mereka ke tempat yang lebih aman!" titah pertama yang terlintas di dalam benak sang raja kepada para prajuritnya, "para pemanah dan ahli sihir ambil alih posisi-posisi tertinggi di perbatasan!" lanjut sang raja memberikan arahan.


Melaksanakan perintah tersebut, rombongan prajurit berkuda itu langsung berangkat lebih dahulu, menghampiri desa-desa yang dekat dengan perbatasan, dan membawa orang-orang dari sana ke tempat yang lebih aman. Kini hanya sisa sang raja dengan satu pengawalnya yang menunggangi kuda besar berwarna hitam gagah yakni Kenan. Kesatria terbaik kerajaan itu memang tidak melihat adanya kekuatan magis di balik gelapnya langit di wilayah Selatan, akan tetapi fenomena cuaca yang tidak pernah ia lihat membuatnya percaya bahwa Selatan sedang tidak baik-baik saja.


"Kenan, sepanjang hari ini apakah kau tidak menerima pesan apapun dari Kerajaan Mystick?" tanya Raja Aiden tanpa menoleh atau melirik sedikitpun kepada Kenan yang berada di sampingnya. Pandangan sang raja masih menatap tajam langit Selatan yang benar-benar pekat, sungguh gelap layaknya tabir tebal berwarna hitam.

__ADS_1


"Tidak ada sama sekali, Yang Mulia." Kenan menjawab pertanyaan tersebut. Sesaat kemudian, Franz datang dengan kudanya dan juga ditanyai hal yang sama oleh sang raja. Namun jawaban Franz juga sama dengan jawaban Kenan.


Situasi lengang sejenak, dengan angin yang berhembus cukup kencang di atas hamparan rumput hijau tersebut. Raja Aiden memantau seluruh pergerakan prajuritnya yang dapat terlihat dari posisinya saat ini, mereka bergerak layaknya semut karena jarak yang terpaut cukup jauh. Tak berselang lama, seorang pangeran dengan jubah putih berkuda di atas kuda yang memiliki warna sama seperti jubahnya tampak mendekati dari arah Utara. Pangeran tanpa mahkota tersebut adalah Welt yang baru saja datang dengan tongkat sihir berwarna perak yang ia bawa.


"Intensitas sihir yang sangat kuat dan sama persis dengan yang ditunjukkan oleh Kristal Sihir kita beberapa waktu sebelum, dan benar kekuatan tersebut memang berasal dari sana." Welt berbicara dengan kedua iris mata berwarna hijau muda indah, sebelum kemudian secara perlahan cahaya hijau tersebut memudar dan mengembalikan iris mata hitamnya seperti semula.


"Bagaimana menurutmu soal ini, Welt?" gumam Raja Aiden, melirik sedikit ke arah putra sulungnya yang kini berada dekat dengan dirinya.


Sang raja tampak menelan salivanya dengan raut wajah menyimpan kecemasan yang cukup mendalam atas apa yang ia lihat saat ini. Gemuruh petir kembali terdengar dan yang kali ini terdengar lebih keras hingga membuat keempat orang penting tersebut sama-sama terkejut. Suara menggelegar tersebut diikuti oleh kilatan cahaya berwarna biru yang muncul di ujung langit Selatan, dan memperlihatkan sesosok kecil yang tampak melayang di balik tabir gelap tersebut.

__ADS_1


"Franz, Kenan, beritahu pasukan untuk tarik mundur segera ...! Kawal para pengungsi ke ibu kota, kita akan meninggalkan Perbatasan Selatan Tanah Zephyra." Raja Aiden langsung memberikan arahan untuk kedua orang tersebut setelah melihat sesosok siluet hitam kecil yang terlihat berkat kilatan petir baru saja.


Kedua orang yang ia tunjuk segera melaksanakan perintahnya, sedangkan sang raja sendiri langsung memacu kudanya untuk kembali ke ibu kota yang berjarak ratusan kilometer dari posisinya saat ini. Welt mengejar kuda putih milik raja, dan mensejajarkan langkah dari kuda yang ia tunggangi.


"Apa keputusan mu?" tanya Welt, sedikit berteriak karena laju dari kedua kuda tersebut menimbulkan suara derap kaki yang sungguh kencang.


Tanpa menoleh dan melirik sedikitpun Raja Aiden menjawab, "Perbatasan Selatan Zephyra akan dipindahkan darurat ke Wilayah Mutiara, dan kita akan bangun pusat pemantauan serta pangkalan militer di wilayah tersebut!"


"Bisakah kau urus komunikasi dengan Lagarde dan Victoria?" lanjut Raja Aiden, menoleh, bertanya kepada Welt.

__ADS_1


Welt mengangguk, "kau bisa andalkan aku soal itu!" jawabnya dengan yakin.


__ADS_2