
Malam yang tenang di tengah hutan. Altezza benar-benar menikmati waktunya ketika berada di Benua Timur, benua yang menjadi tujuan dari petualangannya. Suasana di tengah hutannya sebenarnya kurang lebih sama seperti hutan-hutan yang ada di Negeri Zephyra. Akan tetapi tetap ada beberapa perbedaan, dari segi vegetasi terdapat beberapa tumbuhan yang jarang sekali terlihat di tanah kelahirannya. Selain dari segi vegetasi, satwa-satwa liar yang ada di hutan tersebut juga tampak sedikit berbeda dari satwa-satwa yang ada di hutan-hutan Negeri Zephyra.
Seperti malam sebelumnya, Altezza masih terjaga di kala kedua temannya sudah lelap tertidur di balik kantung tidur mereka yang hangat. Eugene dan Alaia sudah tidur di dekat api unggun yang sudah dipadamkan, sedangkan Aaron masih terjaga seperti Altezza. Mereka berdua sama-sama duduk di atas sebuah batu besar yang berada dekat dengan api unggun yang sudah padam, dan saling berbicara sembari menghabiskan malam.
"Dari kemarin kau terlihat gelisah saat malam, apakah ada sesuatu yang ingin diceritakan, Altezza? Siapa tahu itu bisa membuatmu sedikit lebih lega," ujar Aaron, menoleh kepada Altezza yang berada di sampingnya.
Altezza menghela napas berat, mengangkat kepalanya dan memandang ke arah gelapnya langit malam yang tampak berawan, "aku hanya rindu kampung halaman," ucapnya menjawab pertanyaan tersebut.
Aaron terkekeh kecil dan tersenyum mendengar jawaban tersebut, "tidak hanya dirimu, kami juga menyimpan perasaan yang sama."
Angin malam ini tidak terlalu terasa dingin, sejuk dan sungguh menenangkan siapapun dan apapun yang diterpanya. Gemerisik suara dedaunan pepohonan terdengar--berkali-kali seolah tidak ada hentinya tertiup oleh angin.
Tatapan Altezza masih memandangi langit malam, dan berharap-harap cemas sesuatu datang dari atas sana. Beberapa menit bahkan hingga satu jam telah berlalu, namun tidak kunjung datang sesuatu yang ia tunggu-tunggu itu. Laki-laki berambut hitam itu menoleh, menatap Aaron yang tampak sibuk membersihkan dua buah belati dengan sebuah kain berwarna abu-abu.
"Apakah kalian pernah menghubungi atau mengirim surat untuk seseorang di rumah kalian?" tanya Altezza.
Tanpa menoleh ataupun melirik--karena saking asyik dan fokusnya membersihkan senjata tersebut, Aaron menjawab pertanyaan itu dengan berkata, "menggunakan jasa pengiriman surat."
"Di mana itu?" sahut Altezza tampak sangat penasaran--karena dirinya juga belum pernah menggunakan jasa tersebut, selalu menggunakan bantuan dari Shiro si elang putih.
__ADS_1
Aaron menghentikan sejenak aktivitasnya, menoleh dan menjawab, "apa kau hendak mengirim surat?" bertanya.
Altezza kembali memandang ke arah langit malam, mengangguk dan menjawab, "iya."
"Aku tidak tahu apakah di desa-desa terdekat ada jasa itu atau tidak, namun jika di ibu kota sudah pasti ada." Aaron kembali melanjutkan kesibukannya dengan belati miliknya, kini ia lanjut pada belati yang kedua setelah yang pertama bersih.
"Lebih baik setelah sampai di ibu kota saja, kebetulan Alaia juga akan menggunakan jasa itu, dan jarak dari sini ke ibu kota juga hanya memerlukan sehari lagi jika dihitung dengan istirahat minimal 30 menit," lanjut Aaron berbicara.
Altezza tidak berkomentar lebih, memilih untuk mengikuti saran dari Aaron, meskipun pandangannya masih saja menatap langit malam dengan perasaan menanti-nanti sesuatu datang dari sana. Kebingungan sempat terlintas dalam benak Altezza, "angin tidak mengajakku berbicara, apa mungkin karena ada mereka? Lalu juga Shiro tidak datang, padahal biasanya setiap hatiku membutuhkannya dia selalu hadir," batin Altezza mempertanyakan hal-hal yang terasa janggal tidak seperti biasanya.
"Semoga semuanya baik-baik saja," gumam Altezza spontan dengan intonasi sangat rendah.
Altezza menggeleng dan menjawab, "tidak ada, aku hanya bicara sendiri kepada angin."
Aaron terkekeh kecil kemudian tersenyum, "apakah sudah menjadi kebiasaan atau tradisi orang-orang negeri angin berbicara kepada angin?" tanyanya.
"Kurang lebih begitulah," gumam Altezza tersenyum kecil, dan kini dengan pandangan tertunduk menatap tumbukan kayu bakar yang sudah gosong tanpa api.
***
__ADS_1
Kembali melanjutkan perjalanan saat pagi tiba, sekelompok pengembara berjumlah empat orang termasuk Altezza itu kini memasuki sebuah wilayah tropis dengan pemandangan alam indah yang dimiliki oleh Benua Timur. Berdiri di atas sebuah tebing kedua mata Altezza terbuka lebar dengan kedua pupil mata membesar, berdecak kagum menyaksikan tempat indah di depan matanya, tersihir oleh keindahan alam di wilayah tersebut.
Wilayah luas dengan kekayaaan serta pemandangan alam yang sungguh indah. Di tempat tersebut terdapat sebuah danau yang besar dan luas dengan air yang sangat jernih dan segar, beberapa perbukitan hijau serta dikelilingi oleh pegunungan, dan terdapat pedesaan yang didirikan tidak jauh dari danau tersebut. Di atas dari bukit-bukit tersebut tampak dimanfaatkan oleh sebagian penduduk desa untuk bertani, sedangkan di beberapa titik tepian danau tampak berdiri dermaga-dermaga kecil dengan perahu-perahu kayu yang bersandar di sana.
"Indahnya ...!!" seru Alaia, tersenyum bahagia dan tampak ceria. Begitupula dengan Eugene dan Aaron, mereka juga tampak sangat senang dan terpana sama seperti Altezza ketika memandangi pemandangan alam di depan mereka.
"Wilayah Arcadia, ini adalah wilayah tropis yang indah sebelum kita akan sampai di ibu kota," ujar Eugene, tersenyum lebar.
Seperti biasa laki-laki berambut pirang bernama Eugene itu bercerita mengenai wilayah tersebut kepada Altezza, "asal kau tahu, Altezza! Gunung-gunung yang mengelilingi wilayah Arcadia ini diartikan sebagai benteng alam, karena tampak seperti melindungi apapun yang ada di sekitar danau."
"Dan juga ada sejarah bahwa Kerajaan Neverley sempat mendirikan pangkalan militernya di sini saat perang besar satu abad yang lalu," lanjut Eugene.
"Mereka mendirikannya di sekitar danau itu, dan--"
Belum selesai berbicara, ucapan Eugene sudah terpotong dengan dengusan napas Aaron yang tampak beranjak menjauh bersama Alaia sembari berucap, "si paling sejarah mulai, deh ...!"
"Hei, tunggu dahulu! Aku belum selesai berbicara ...!" sahut Eugene berseru kepada Aaron dan Alaia yang sudah sedikit jauh berjalan menyusuri tepi tebing tersebut.
Altezza masih berdiri di dekat Eugene, dan hanya tersenyum serta tertawa melihat kelakuan para petualangan itu. Dirinya kemudian lanjut berjalan bersama Eugene, menyusul Aaron dan Alaia yang semakin jauh.
__ADS_1