
Terbangun di antah berantah, di sebuah ruang hampa yang berwarna putih bersinar. Aurora membuka matanya lebar-lebar, dan seakan tidak percaya dengan keberadaan dirinya. Ruang hampa itu benar-benar bercahaya, semuanya serba putih seperti dress panjang yang ia kenakan saat ini. Menoleh untuk melihat sekitar, akan tetapi ia tidak menemukan apapun, bahkan dirinya tidak melihat adanya dinding ataupun pintu di tempat asing itu.
Satu hal dan pertanyaan yang pertama kali terlintas di dalam benaknya adalah, "apakah aku sudah mati?"
Tubuhnya terasa ringan, dan Aurora kini bisa bernapas dengan sangat lancar tanpa sesak sedikitpun, lebih baik daripada sebelumnya. Suhu di tempat yang sangat asing itu juga tidak terlalu dingin, terasa hangat dan nyaman sekali, lebih baik daripada ruangan kecil dan gelap yang digunakan oleh Asta untuk mengurung dirinya.
Putri cantik berambut putih bergelombang itu berinisiatif untuk melangkah, berjalan di antara ruang hampa yang tidak ada apapun selain dirinya. Ia juga tidak tahu harus ke arah mana, karena menatap ke arah langit pun juga memiliki warna yang sama yang mendominasi ruangan tersebut, semuanya serba putih dan bercahaya. Aurora tidak tahu apakah saat ini siang atau malam, namun yang jelas ruang hampa yang saat ini ia memijakkan kaki terlihat terang seperti di siang hari.
Banyak langkah sudah ia lalui, sebelum akhirnya langkah Aurora terhenti karena dikejutkan oleh sesuatu yang menyilaukan matanya. Sebuah cahaya berwarna hijau muda tiba-tiba saja muncul di depan, dan cahaya itu semakin mendekat hingga membuat kedua mata Aurora harus ditutupi oleh salah satu tangannya karena saking silaunya cahaya tersebut. Benar-benar dibuat tidak bisa melihat, kedua mata Aurora bahkan sampai terpejam.
"Aurora."
Suara wanita yang terdengar lembut dan anggun terdengar, dan seketika membuat Aurora membuka matanya. Gadis berambut putih itu merasa tidak asing dengan suara yang baru saja memanggil namanya.
Dari balik cahaya, seorang wanita cantik dengan gaun berwarna biru muda indah, dan sebuah mahkota emas di kepalanya tiba-tiba saja muncul. Wanita paruh baya itu berjalan mendekati sosok Aurora yang berdiri dan terdiam di sana. Ciri-ciri dari wanita yang baru saja muncul memiliki kesamaan dengan Putri Aurora. Rambutnya yang bergelombang indah berwarna putih, dan kedua iris mata berwarna biru indah yang sama seperti milik Aurora.
Ketika wanita itu sudah benar-benar dekat, bahkan berdiri hanya berjarak satu meter di depan Aurora. Kedua iris mata milik Aurora tiba-tiba saja tergenang hingga meneteskan air matanya, "ibunda?" ucapnya dengan intonasi getir.
__ADS_1
Aurora hendak meraih dan memeluk sosok yang ia sebut sebagai ibunda itu. Akan tetapi, kedua tangannya tidak bisa menyentuh tubuh dari ibunya, tembus begitu saja ketika ia berusaha menyentuh dan meraihnya, "kenapa? Mengapa aku tidak bisa menyentuhmu, ibu?" tanyanya dengan kedua pipi merona yang sudah basah.
Wanita itu adalah Ratu Eira, sosok cantik sekaligus ibu kandung dari Aurora yang sudah tiada karena sakit keras sejak Aurora masih berusia delapan tahun. Sang ibu yang selalu ia rindukan, kini berada berdiri tepat di hadapannya. Akan tetapi dirinya tidak dapat menyentuh keberadaan dari ibunda tercinta.
"Kita berbeda alam, Aurora. Itulah satu alasan kuat mengapa kamu tidak dapat menyentuhku," ucap Eira menjawab pertanyaan putri kesayangannya.
"Lalu apakah aku sudah mati? Mengapa aku ada di sini?" sahut Aurora langsung mempertanyakan hal yang sempat terlintas dalam benaknya ketika pertama kali menyadari bahwa dirinya ada di dalam tempat asing yang sangat luas ini, dan semuanya didominasi dengan cahaya putih.
Ratu Eira menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan tersebut. Ia tampak tersenyum bahagia dan kemudian berkata, "kamu hanya berada di dalam alam bawah sadar yang sama seperti orang-orang yang koma, Aurora."
"Tetapi kenapa aku bisa bertemu dengan ibu di sini?" tanya Aurora kembali.
Situasinya kembali lengang sejenak. Pandangan serta wajah Aurora kemudian tertunduk. Ia tidak terlihat senang, justru terlihat sedih. Perasaannya saat ini sedang bercampur aduk dan sangat rumit untuk dijelaskan. Ratu Eira seakan dapat mengerti apa yang sedang membuat hati putrinya gundah gulana, ia yang selalu tersenyum itu kemudian bertanya, "ada yang ingin kamu bicarakan?"
"Kerajaan Mystick tidak lagi seperti saat ketika ayah dan ibu masih sehat dahulu," ucap Aurora.
Ratu Eira perlahan beranjak, melewati putrinya sembari berbicara, "mari ikuti ibu ...!"
__ADS_1
Aurora pun mengikuti langkah ibundanya, hingga sebuah bangku taman dengan cat putih tiba-tiba saja muncul dari gumpalan cahaya berwarna kuning keemasan. Ratu Eira duduk di bangku panjang itu, kemudian disusul oleh Aurora yang duduk tepat di sebelahnya.
"Kurasa ibu tahu apa yang sedang terjadi," ujar Eira dengan intonasi serta sikap yang tenang dan santai, bahkan dengan senyuman. Aurora langsung menoleh, menatap ibundanya dengan tatapan bingung. Namun gadis berambut putih itu tidak berbicara atau bertanya, ia membiarkan situasinya lengang sejenak sampai pada akhirnya Ratu Eira yang memberikan kejelasannya.
Pandangan Ratu Eira sedikit terarah ke atas, dengan wajah cantik yang tampak santai ia mulai berbicara tentang masa lalu. Masa yang menceritakan asal-usul Asta sebelum laki-laki itu menjalani kehidupan di istana Kerajaan Mystick, dan menjadi seperti sekarang.
"Asta, ibu dan ayahmu menemukan bayi kecil Asta menangis dengan sangat kencang di antara tumpukan salju di dalam sebuah goa di salah satu pegunungan tertinggi di Benua Selatan. Bayi itu kedinginan, bahkan kukunya sampai membeku. Ketika ibu dan ayah kamu menemukannya, kami berinisiatif untuk memberikan pertolongan dan membawanya kembali ke istana untuk merawatnya."
"Pada saat itu ibu belum mengandung sosok dirimu, Aurora."
Ratu Eira berbicara soal masa lalu dengan tenang dan santai. Putri Aurora tampak tidak menyangka dengan apa yang baru saja ia dengar, "tetapi ibu tahu dia adalah iblis, bukan?! Mengapa ibu dan ayah membawa Asta ke istana?!" cetusnya dengan intonasi sedikit kesal.
Pandangan dari Ratu Eira tertunduk, tersenyum kecil dan menjawab, "kami tidak tahu soal itu sama sekali, karena memang tidak ada tanda-tanda baik fisik ataupun sihir yang ada di dalam diri Asta."
"Namun kejanggalan-kejanggalan mulai terjadi setelah ibu melahirkan dirimu, Aurora. Sampai pada akhirnya ketika kamu menginjak usia delapan tahun," lanjut Eira.
"Ibu sakit keras," sahut Aurora dengan pandangan tertunduk, memotong pembicaraan ibundanya.
__ADS_1
"Maafkan ibu dan ayahmu karena telah membawa masalah untuk kerajaan, dan telah membebani hidupmu, Aurora. Kami benar-benar tidak tahu kalau ternyata Asta adalah Astaroth si pangeran iblis," ujar Ratu Eira, menoleh, menatap putrinya dengan tatapan berkaca-kaca. Ingin sekali dirinya bisa menyentuh sosok cantik Putri Aurora, akan tetapi itu tidak bisa ia lakukan.