
Altezza berjalan di area pinggiran kota bersama dengan Bianca. Mereka sebenarnya tidak merencanakan pertemuan, namun kebetulan saja ketika Altezza bermain-main dengan anak-anak itu, Bianca lewat dan tidak sengaja melihatnya. Pemandangan yang sangat langka itu ia temukan dan terjadi di kerajaan ini, di mana seorang pangeran bisa sangat dekat dan disenangi oleh rakyatnya terutama dari kalangan anak-anak.
"Apa yang membuat anda berada di pinggiran kota?" tanya Bianca, sempat menoleh dan tersenyum, berjalan melalui trotoar bersalju.
"Hanya ingin berjalan-jalan santai di sore hari, memangnya tidak boleh?" jawab Altezza, melirik kepada Bianca yang tampak hampir selalu tersenyum ketika bersamanya.
"Boleh saja, sih. Hanya saja saya cukup terkejut ketika melihat anda bermain bersama anak-anak itu, kalian terlihat cukup dekat," ucap Bianca, pandangannya cenderung ke bawah, memperhatikan kedua kakinya ketika melangkah bahkan hampir serasi dengan langkah Altezza yang berjalan tepat di sampingnya, "hanya saja saya jarang melihat interaksi bangsawan dan rakyat biasa yang sedekat itu, apalagi mereka anak-anak pinggiran kota," lanjutnya
Diam sejenak, Altezza hanya tersenyum kecil sebelum kemudian berkata, "sejak kecil aku dan Welt diajarkan untuk selalu merangkul siapapun tanpa memandang kasta oleh Raja Aiden dan Ratu Caitlyn, dan aku tidak ingin ada jarak dengan siapapun rakyatku."
"Dan itulah yang terjadi di Kerajaan Zephyra selama setengah abad terakhir, semuanya sama, dan tanpa adanya kesenjangan sosial, kita bisa hidup lebih damai dan bahagia, semua orang bisa tersenyum tanpa harus takut dan ragu," lanjut Altezza, memandangi suasana di sekitarnya. Ia dan Bianca sempat melalui banyak sekali orang, pria hingga wanita, dan yang anak-anak hingga dewasa, mereka semua terlihat tersenyum bahagia ketika melihat serta menyapa pangeran itu. Berkali-kali juga Altezza membalas mereka juga dengan senyumannya.
Bianca mengerti dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki itu, dan langsung terbukti. Banyak sekali rakyat menyapa Altezza dengan sangat ramah dan sopan penuh dengan hormat. Mereka tidak segan untuk menyunggingkan senyuman, untuk siapapun yang mereka temui, bahkan juga kepada Bianca.
"Anda sangat disukai banyak orang di kerajaan ini ya, Yang Mulia," cetus Bianca, tersenyum kecil dengan pandangan ke depan, dan kedua pipi tampak sedikit merona.
Altezza sedikit mengangkat pandangannya, menatap langit senja yang terlihat indah berwarna jingga cerah, sebelum kemudian berkata, "aku sangat bersyukur jika memang kehadiran ku bisa membuat orang lain merasa bahagia dan tersenyum."
__ADS_1
Bianca tersenyum diam-diam mendengar perkataan tersebut, terlebih gadis berpakaian hangat sederhana dengan syal berwarna merah yang melingkar di lehernya itu berkali-kali mencuri-curi pandang laki-laki yang berjalan bersamanya. Ia tidak berani untuk menoleh dan menatap langsung, hanya sekadar melirik untuk beberapa kali saat ada kesempatan, memandangi paras tampan pangeran itu dari samping.
"Ngomong-ngomong kau mau ke mana? Apakah pekerjaan mu sudah selesai sore ini?" tanya Altezza, tiba-tiba menoleh dan menatap Bianca, hingga membuat perempuan itu cukup terkejut karena pada waktu yang bersamaan dirinya diam-diam melirik pangeran muda itu.
"Eh! Um ... pekerjaan saya sudah selesai lebih awal, Yang Mulia. Kurasa saya akan kembali ke asrama untuk beristirahat," jawab Bianca sedikit gugup, "hari yang melelahkan dan dingin, rasanya ingin berdiam diri di dalam ruangan yang hangat," lanjutnya.
Altezza menghela napas dan mengimbuhkan, "kau benar, hari yang dingin seperti ini memang nyamannya di dalam ruangan yang hangat, baca novel ditemani secangkir cokelat hangat."
Bianca tertawa kecil dan berkata, "saya biasanya melakukan hal itu ketika di asrama."
"Benarkah?" sahut Altezza, menoleh menatap paras gadis itu yang tetap terlihat cantik meski dari samping.
***
Menjelang malam hari, di waktu petang setelah makan malam. Altezza sudah berada di istananya, tampak membawa sebuah ember besi berukuran kecil dan berisikan banyak sekali ikan-ikan segar yang masih hidup. Dengan senyuman serta wajah riang bahagia, pangeran muda itu berjalan ke taman samping istana, dan langsung disambut hangat oleh Shiro yang secara tiba-tiba terbang tepat di atas kepalanya, sedikit mengejutkan namun menyenangkan bagi Altezza.
Kembalinya Shiro membawa kebaikan pada suasana hati pangeran kedua, terlihat dari ekspresi riangnya ketika berada di istana, dan kembali bermain dengan Shiro di halaman samping istana. Ia melemparkan ikan-ikan kecil itu ke udara, dan ditangkap dengan cepat oleh kedua cengkraman kuat elang putih itu.
__ADS_1
"Dia sudah kembali?" tanya Caitlyn, berjalan perlahan mendekati putra bungsunya dari belakang.
"Iya, dia kembali," sahut Altezza, menoleh ke belakang, dan sedikit dibuat terkejut karena rupanya Ratu Caitlyn tidak datang sendiri, wanita berjubah hangat kerajaan berwarna putih itu tampak berjalan mendatanginya bersama Welt.
Tatapan Welt terlihat terpukau kagum dengan seekor elang berjambul serta berbulu putih yang tengah beterbangan di sekitar Altezza itu. Kedua iris mata berwarna hitam itu sempat terlihat berubah sejenak menjadi biru muda, melihat Shiro dengan menggunakan mata sihir, sebelum akhirnya kembali seperti semula.
"Apakah dia Shiro yang kau maksud?" tanya Welt, tersenyum kecil menatap Altezza.
Shiro perlahan mendarat dan hinggap pada lengan kanan milik Altezza, dan tampak memperlihatkan sikapnya yang jinak. Beberapa kali hewan itu memiringkan kepalanya, dan cenderung menatap Welt dengan iris mata tajam berwarna kuningnya.
"Iya, ini Shiro yang ku maksud," jawab singkat Altezza, disusul oleh suara Shiro yang berkicau layaknya burung biasa seperti paham kalau dirinya sedang diperkenalkan oleh tuannya.
Di mata Welt, Shiro benar-benar elang yang sangat unik dan istimewa. Dirinya dapat merasakan adanya kekuatan besar dan ajaib berasal dari dalam tubuh elang putih bernama Shiro itu--yang cukup memiliki kemiripan dengan kekuatan sihir milik adiknya yakni Altezza.
Welt perlahan mengulurkan tangan kanannya, dan hendak menyentuh Shiro. Namun niat tersebut seketika langsung ia urungkan, Shiro tiba-tiba galak bahkan sempat hampir mematuk dan membuat salah satu jari milik Welt terluka, untung saja tidak kena. Altezza cukup terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh Shiro, dan langsung menenangkannya dengan sedikit elusan lembut pada punggung elang tersebut.
"Pelan-pelan kalau mau menyentuhnya, jangan sembarangan!" cetus Caitlyn, tampak mengomeli putra sulungnya, dan kemudian memberikan contoh. Ia perlahan mengulurkan tangan kanannya, dan secara lembut menyentuh kepala elang tersebut--bahkan Shiro sendiri yang menyandarkan kepalanya pada telapak tangan milik Caitlyn yang terasa lembut dan hangat itu.
__ADS_1
Altezza tertawa kecil melihat sikap dari hewan tersebut, dan berakhir dengan senyuman karena berdasarkan gerak-gerik tersebut, elang berbulu putih itu memanglah Shiro yang ia kenal. Welt juga ikut tersenyum melihat betapa manja dan jinak sikap Shiro ketika mendapatkan kasih sayang dari Ratu Caitlyn.
Namun, tatapan Welt kemudian berubah tajam dan serius, menatap adiknya dan berkata, "Altezza, bisakah kita berbicara empat mata?"