Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Akademi Kerajaan Zephyra #47


__ADS_3

Hari berikutnya. Istana Kerajaan Zephyra tampak sibuk, para pekerja istana membereskan beberapa dekorasi pesta yang sudah selesai diselenggarakan bahkan hingga tengah malam kemarin. Di pagi ini, Altezza berencana untuk mengunjungi Akademi Kerajaan Zephyra--sebenarnya itu juga karena ajakan dari Welt, jika bukan karena ajakan dirinya berencana pergi ke serikat petualang untuk mencari tahu beberapa hal soal menjadi pengembara.


Cuaca di pagi ini angin berhembus lembut, dan terasa dingin, lebih dingin daripada hari-hari biasanya. Altezza berjalan didampingi oleh Kenan seperti biasa, menyusuri jalanan tepat di luar benteng istana, dan menuju ke arah akademi kerajaan. Seperti biasa, banyak rakyat yang berlalu-lalang, berpapasan dan dilewati oleh Altezza, mereka menundukkan kepala serta menyapa ramah dirinya dengan penuh hormat. Laki-laki berpakaian formal pangeran berwarna biru muda itu hanya melemparkan senyuman, serta beberapa kali menyapa balik mereka.


Pagi yang dingin, semua orang memakai pakaian hangat mereka ketika beraktivitas di luar ruangan, termasuk Altezza yang terlihat mengenakan sebuah syal berwarna biru muda di lehernya. Perubahan cuaca yang cukup drastis daripada hari sebelumnya, namun ini termasuk normal karena musim dingin akan datang dalam beberapa hari lagi.


"Angin dari barat perlahan mulai terasa ya, Yang Mulia." Kenan berbicara ketika berjalan tepat di samping Altezza.


"Ya, sebentar lagi seluruh kota akan terselimuti oleh warna putih salju," sahut Altezza, tersenyum.


Kenan beberapa kali melirik pangerannya, dan bertanya-tanya dalam benaknya. Ekspresi pangeran muda itu pagi ini terlihat sungguh bahagia atau senang. Suasana hati pangeran muda itu tampaknya sedang sangat baik. Meski bingung, Kenan memilih untuk diam dan tidak bertanya atau berkomentar apapun mengenai hal tersebut, tidak ingin merusak suasana hati yang sedang baik itu.


Tidak lama kemudian, langkah mereka berdua akhirnya sampai juga tepat di depan gerbang halaman akademi yang sangat luas dan besar itu. Altezza menghentikan langkahnya tepat di ambang gerbang besar yang sudah terbuka, menatap pengawal setianya dan berkata, "bisakah aku meminta bantuan padamu, Kenan?"


"Tentu saja, Yang Mulia!" sahut Kenan, tersenyum senang, menundukkan kepalanya.


"Pergilah ke serikat petualang, dan cari informasi pendaftaran yang ada di sana!" pinta Altezza.


Kenan menatap bingung tuannya, seolah ingin bertanya, "untuk apa Yang Mulia menginginkan informasi mengenai pendaftaran di serikat petualang?" Namun pertanyaan itu hanya ia pendam di dalam benaknya saja. Laki-laki berseragam kesatria kerajaan itu menundukkan kepalanya dan menjawab, "baik, Yang Mulia. Serahkan saja kepada saya!"

__ADS_1


Kenan kemudian beranjak pergi dari sana, meninggalkan Altezza sesuai dengan perintah yang ia terima. Sedangkan Altezza, dirinya beranjak masuk ke halaman akademi tersebut, berjalan melalui taman depan akademi dan masuk ke dalam gedung akademi.


Akademi Pedang dan Sihir Kerajaan Zephyra, adalah salah satu dari beberapa akademi pendidikan terbaik di kerajaan ini. Tak hanya menjadi akademi terbaik di antara akademi-akademi yang dimiliki oleh Kerajaan Zephyra. Akademi tersebut juga menjadi salah satu dari yang terbaik di seluruh penjuru negeri.


Akademi tersebut meskipun dari depan terlihat sepi di pagi hari ini. Namun ketika Altezza masuk ke dalam gedung, berjalan melalui lorong depan hingga ke taman tengah akademi, dirinya bertemu serta berpapasan dengan banyak sekali siswa-siswi yang ada di sana. Kehadiran pangeran kedua tentu langsung menjadi pusat perhatian, terutama dari kalangan para siswi akademi yang langsung menyapa dan tersenyum ramah padanya.


"Selamat pagi, Yang Mulia!"


"Yang Mulia ada apa gerangan mendatangi akademi pagi ini?"


"Kabar anda sehat selalu 'kan, Yang Mulia?"


"Welt," sapa Altezza, menghela napas lega ketika melihat kehadiran Welt yang langsung mendatanginya.


"Kembalilah ke kelas kalian masing-masing! Jangan lupakan pelajaran pertama yang sebentar lagi akan dimulai!" ucap Welt, tegas kepada para siswa-siswi yang sebelumnya mendekati Altezza.


"Baik, Yang Mulia." Mereka semua terlihat patuh dengan perintah tersebut, dan langsung membubarkan diri. Namun ketika membubarkan diri, beberapa siswi yang berjalan melewati Altezza sempat tersenyum dan berkata, "kami permisi, Yang Mulia."


Welt segera berjalan mengajak Altezza keluar dari gedung utama, melalui sebuah lapangan, dan menuju ke gedung belakang atau gedung kedua. Ketika berjalan menuju ke gedung kedua, Altezza sempat bertanya, "apakah menjadi kepala akademi itu menyenangkan?"

__ADS_1


Welt tertawa kecil sejenak dan menjawab, "yang namanya pekerjaan pasti bisa melelahkan dan merepotkan, namun aku tetap menyukai pekerjaan ini."


Pangeran pertama atau Welt, dia adalah orang yang dipercaya langsung oleh Raja Aiden untuk mengendalikan akademi tersebut. Tidak hanya sebagai orang yang mengendalikan para penyihir kerajaan atau kepala kementerian sihir kerajaan. Welt juga menjadi kepala Akademi Pedang dan Sihir Kerajaan Zephyra.


Altezza tidak heran jika kakaknya dipercaya serta diberikan amanah untuk mengendalikan semua yang berurusan dengan sihir, bahkan dirinya sendiri sangat kagum dengan sosok Welt. Dirinya juga mengakui kalau ilmu pengetahuan Welt dalam hal sihir sudah tidak dapat diragukan lagi, dan belum ada orang di Kerajaan Zephyra yang dapat menandinginya.


"Bagaimana Shiro? Apakah kau sudah menemukannya?" tanya Welt, memasuki gedung kedua, melalui lorong-lorong kelas.


Altezza memandang ke bawah, menggeleng dan menjawab, "belum ada tanda-tanda darinya, aku masih bingung ke mana makhluk itu pergi."


Ketika berada di halaman serta lapangan belakang akademi. Altezza cukup dibuat terkejut dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi di sana, tepatnya di tengah-tengah lapangan yang sangat luas tersebut. Dua orang siswa dengan seragam hitam dan putih saling berhadapan satu sama lain. Keduanya sama-sama membawa sebuah tongkat sihir panjang, namun dengan bentuk serta warna yang berbeda.


Siswa berseragam hitam membawa tongkat panjang dengan warna hitam pekat, berliku di gagang tongkat, dan motif bintang enam sudut di ujung atas tongkat. Sedangkan siswa berseragam putih membawa tongkat panjang berwarna kuning keemasan, dengan gagang yang sangat lurus, dan motif bintang lima sudut di ujung atas tongkatnya.


Berdiri di antara mereka berdua terdapat seorang instruktur perempuan, dan di sisi pinggir lapangan tepat setelah pintu keluar gedung terdapat banyak siswa-siswi yang sepertinya sedang menonton. Tak hanya para siswa, namun ketiga pangeran sahabat Welt dan Altezza juga ada di sana.


"Ada apa ini?" tanya Altezza, berjalan mengikuti Welt dan bergabung bersama Pangeran Azura, Pangeran Xavier, dan Pangeran Cedric.


"Lihat saja, mereka sedang uji coba," sahut Welt, tersenyum tipis, kemudian memandang ke arah dua siswa yang sedang saling berdiri berhadapan di tengah lapangan itu.

__ADS_1


__ADS_2