
Instruktur yang memimpin jalannya duel kemudian langsung memulai duel antara Altezza dengan Ray siswa peringkat dua akademi. Instruktur wanita itu segera mundur dan menepi, membiarkan mereka berdua beradu kekuatan hingga salah mereka menyerah.
Ekspresi wajah Altezza terlihat senang sekali, karena dirinya diperbolehkan untuk menggunakan sihir sebebasnya, kecuali sihir tingkat atas dan sihir-sihir terlarang. Ekspresi wajah seperti itu juga tampaknya dimiliki oleh Ray, apalagi setelah Altezza menantang dirinya untuk tidak menahan-nahan kekuatannya. Keduanya tidak menggunakan senjata tajam, bahkan Altezza sendiri tidak mempedulikan pedang miliknya yang bergelantung di ikat pinggangnya. Ray juga tidak terlihat membawa tongkat sihir atau semacamnya, hanya bermodalkan tangan kosong sama seperti Altezza.
"Jika anda tidak ingin memulainya, maka saya akan memulainya terlebih dahulu, Yang Mulia." Ray berbicara dengan tatapan tajamnya kepada Altezza, dan kemudian memejamkan kedua matanya diikuti bibirnya yang mulai komat-kamit merapalkan mantra dengan sangat cepat.
Altezza tidak terlihat bergerak sedikitpun dari posisinya, dan laki-laki itu juga tidak terlihat sedang merapalkan mantra. Namun sebuah angin yang bertiup sangat kencang dan kuat tiba-tiba saja datang, dan menciptakan sebuah pembatas angin menjulang tinggi yang muncul di setiap tepian lapangan, sehingga membuat lapangan tersebut seperti sebuah arena pertandingan. Tidak ada yang bisa melewati pembatas yang diciptakan oleh Altezza, juga peserta duel tidak bisa keluar atau melewati pembatas itu.
Tubuh siswa berseragam putih di hadapan Altezza seketika diselimuti oleh aura berwarna biru muda, dan sebuah lingkaran sihir dengan motif bintang lima sudut tepat di bawah kedua kakinya. Di saat itu juga muncul lima bola api namun dengan warna biru muda di sekelilingnya. Ray perlahan membuka kedua matanya, dengan sorot mata yang sudah berubah berwarna biru muda indah.
"Anda tidak akan siap untuk ini, Yang Mulia." Ray berbicara dengan intonasi rendah, dan mengancam.
Altezza tersenyum menanggapi, "oh, ya? Daripada banyak bicara, bagaimana kalau langsung saja dicoba?" dengan intonasi terkesan merendahkan dan memancing emosi lawannya.
Tanpa berbasa-basi lagi, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Altezza. Ray mengulurkan tangannya ke depan ke arah pangeran itu seperti ingin meraih sesuatu, sebelum kemudian lima bola api berwarna biru muda itu melesat dengan sangat cepat. Kecepatan yang di luar nalar, melesat begitu saja layaknya kilatan cahaya, sebelum kemudian menghantam Altezza hingga menciptakan ledakan berkali-kali.
__ADS_1
Semua yang menonton dibuat terkejut dengan serangan yang dilancarkan oleh siswa berseragam putih itu kepada Altezza. Bahkan Ray tidak berhenti sampai di situ saja, ia tetap terus menyerang Altezza dengan menciptakan bola api berwarna biru lain, hingga membuat kepulan asap yang sangat tebal menutupi keberadaan Altezza.
Semua penonton terlihat khawatir dengan keadaan Altezza, karena pangeran muda itu tidak memperlihatkan adanya perlawanan ketika mendapat semua serangan itu.
"Apakah Yang Mulia akan baik-baik saja?" cetus salah satu siswi yang menyaksikan duel tersebut dari pinggir lapangan, dan tanpa sengaja Welt mendengar kekhawatiran itu.
Bukannya khawatir, Welt justru terlihat diam dan santai meskipun dirinya melihat posisi adiknya yang sedang mendapatkan serangan bertubi-tubi. Ekspresi santai itu juga terlihat jelas di paras ketiga sahabatnya.
"Dia menyiapkan penghalang seperti ini, apakah dia ingin menggunakan sihir yang dahsyat?" gumam Azura, menerka-nerka langkah serta keputusan apa yang akan diambil oleh Altezza dalam duel tersebut.
Xavier menggelengkan kepalanya dan berkata, "entahlah, namun kurasa akan ada sedikit kejutan di sini."
Merasa tidak ada perlawanan, Ray menghentikan serangannya serta sihirnya, menatap serius ke arah asap tebal yang ada di hadapannya. Situasi kembali tenang sejenak, dan semua orang yang melihat berhasil dibuat berdebar melihat kepulan asap putih yang masih tebal itu.
WHUUSSHH ...!!!
__ADS_1
Angin tiba-tiba saja berhembus kencang, menerpa dan mengurai kepulan asap tersebut hingga memperlihatkan sosok Altezza kembali dengan ketenangannya yang luar biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Kedua mata Ray terbelalak terkejut, menyaksikan sebuah pelindung angin yang begitu kuat diciptakan mengelilingi pangeran kedua itu. Tak hanya itu, ia juga dibuat terkejut dengan apa yang ada tepat di atas telapak tangan kanan milik Altezza.
Altezza masih berdiri tegak, dan terlihat tenang serta sangat santai. Bahkan di atas telapak tangan kanannya terdapat sebuah pusaran angin kecil yang bercampur dengan api berwarna biru. Reaksi elemen, ya! Pangeran kedua Zephyra memanfaatkan keuntungan elemen anginnya yang dapat bereaksi dengan berbagai elemen.
Apa yang terjadi seketika membuat semua orang yang menonton berdecak kagum, bahkan terdengar lagi sorakan dukungan yang diberikan oleh para siswi kepada pangeran muda itu. Welt tersenyum kecil dengan ekspresi datarnya, seolah sudah menduga hal seperti itu akan terjadi. Begitupula reaksi ketiga sahabatnya.
"Terima kasih api birunya, sungguh sihir yang mengesankan," cetus Altezza, tersenyum kecil menatap kepada Ray yang masih terbelalak menatap dirinya.
"Mustahil! Bagaimana bisa?! Bagaimana anda bisa sempat menciptakan pelindung serta mengambil reaksi elemen, sedangkan serangan saya melebihi kecepatan kilat?" cetus Ray, benar-benar tidak menyangka dengan apa yang ia lihat, apalagi ketika dirinya melihat pangeran itu membawa sebuah pusaran api berwarna biru muda miliknya dengan sangat mudah.
Altezza mengangkat kedua bahunya, dan berbicara dengan intonasi serta ekspresi pura-pura tidak tahu, "entahlah, bagaimana caranya, ya?"
Tanpa berbicara lagi, Ray langsung mengulurkan kedua tangannya, dan menciptakan sebuah lingkaran sihir berwarna biru di depannya. Hanya berselang beberapa detik saja, sinar plasma berwarna biru langsung melesat dengan kecepatan cahaya ke arah Altezza. Ledakan kembali terjadi, namun kali ini berskala cukup besar dan sangat berpotensi mengancam nyawa para siswa-siswi yang menonton di tepi lapangan. Beruntung ada penghalang yang diciptakan oleh Altezza yang berhasil menahan serta membatasi skala dari ledakan tersebut untuk tetap berada di lapangan.
Kepulan asap berwarna hitam timbul dan sangat pekat. Namun dalam sekejap asap tersebut terurai dengan hembusan angin, dan menampakkan sosok Altezza yang dikelilingi oleh api berwarna biru muda. Tubuh pangeran muda itu tidak terluka, bahkan tidak tergores sedikitpun meski menerima serangan yang sangat dahsyat. Malah ia seolah mengendalikan api biru tersebut dengan angin miliknya, dan menggunakannya untuk melindungi diri dari serangan.
__ADS_1
Altezza menghela napas, berdiri di antara api berwarna biru muda yang terus mengelilingi dirinya. Pangeran itu terlihat dapat mengendalikan api biru milik Ray dengan sangat mudah, karena berkat reaksi elemen yang terjadi dengan angin miliknya.
"Baiklah, sekarang giliran ku ...!" cetus Altezza, dengan santainya mengulurkan salah satu tangannya ke depan, dan menatap tajam Ray.