Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Pertarungan Cepat #132


__ADS_3

Tidak ada lagi kesempatan bagi Alaia untuk berlari atau bahkan merapalkan mantra yang sama untuk membuat pelindung. Semburan api berwarna biru yang sangat cepat, bahkan baru saja ia menoleh api tersebut sudah berada satu meter di hadapannya. Gadis berambut kelabu itu tak berkutik dari posisinya, dengan tatapan terpejam takut dengan apa yang dihadapinya ia memeluk tongkat emasnya.


SET!


Api berwarna biru itu berkobar sangat besar, dan hanya dalam sekejap melahap seluruh tubuh Alaia hingga tidak terlihat lagi. Kejadian tersebut disaksikan tepat di depan mata Aaron dan Eugene yang tak bisa berbuat apa-apa. Mereka terpaku, bahkan Aaron sempat lemas hingga berlutut ke tanah ketika melihat adiknya lenyap di dalam ganasnya api tersebut.


Tak berselang lama, makhluk besar berkepala tiga itu menghentikan serangannya dan menyisakan kepulan asap menggumpal berwarna hitam pekat di sana. Tidak ada tanda-tanda dari keberadaan gadis tersebut, karena asap hitam itu sangat tebal dan masih lekat.


"Tidak ... mungkin ...!" terdengar Aaron berbicara dengan intonasi getir, dengan tatapan masih terbelalak menatap kepulan asap hitam tak jauh di depan matanya.


Aaron memutuskan untuk bergerak, ia berlari menuju kepulan asap tersebut untuk memastikan dan dengan harapan bahwa adik perempuannya baik-baik saja. Akan tetapi langkahnya dihentikan oleh Eugene yang menarik salah satu tangannya dan berkata, "terlalu berbahaya, Aaron! Makhluk itu masih berdiri di sana, ingat!!" tegasnya.


"Tetapi bagaimana dengan Alaia?! Apa kau gila akan membiarkannya begitu saja!?" sahut Aaron, menepis tangan Eugene dan tampak larut dalam emosi.


"Makhluk itu bisa kembali menyerang kita kapan saja, jangan sampai lengah!" sahut Eugene, tegas.


WHUSSHH ...!!!


Hembusan angin kencang menghentikan perdebatan mereka berdua, sekaligus mengurai tabir asap tebal berwarna hitam. Pandangan Aaron dan Eugene kembali dibuat terbelalak, terkejut melihat keajaiban yang terjadi di depan mereka. Tak hanya mereka berdua, Legolas dan Caelum juga menyaksikannya.

__ADS_1


Alaia tampak baik-baik saja, terduduk di atas tanah dengan memeluk tongkat berwarna emas miliknya. Tepat di depan Alaia terlihat sosok Altezza, berdiri di sana dengan sebuah pedang yang ia genggam dengan tangan kanannya. Keduanya selamat dari kobaran api yang sungguh besar dan ganas berkat sebuah pelindung yang terbuat dari angin, meski tampak jubah hitam yang dipakai oleh Altezza tampak sedikit terbakar di ujung.


Tatapan Altezza tajam, menatap makhluk besar berkepala tiga yang ada di hadapannya. Anjing itu tampak berbeda dari yang lain, memiliki warna bulu yang lebih gelap bahkan dominan hitam. Ketiga kepalanya tidak semuanya aktif, hanya kepala bagian tengah yang aktif dan memiliki sebuah pertama hitam di atasnya, di antara kedua bola matanya berwarna merah. Penampilan yang lebih garang daripada anjing berkepala tiga lainnya, dan ukuran yang jauh lebih besar.


"Altezza ...?" gumam Alaia, memandang kagum sosok yang telah menyelamatkan nyawanya.


"Kau tidak apa-apa, Alaia?" tanya Altezza dengan tenang dan santainya, menoleh ke belakang, melihat gadis berambut kelabu itu yang masih syok dengan apa yang baru saja terjadi.


"Ti-tidak apa, te-tetapi ... ba-bagaimana bisa ...!? Aku ... selamat ...?" sahut Alaia berbicara dengan cukup terbata, gugup, dan dengan ekspresi wajah masih tampak syok bercampur bingung, benaknya masih memproses apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.


Altezza tampak tersenyum kecil, senang melihat Alaia baik-baik saja di belakangnya. Ketika fokus Altezza masih kepada gadis tersebut. Anjing berkepala tiga yang ada di hadapannya kembali melakukan serangan dengan melancarkan bola api berwarna biru dari mulutnya.


"Awas!" pekik Alaia, panik.


"Tidak apa-apa, 'kan?" tanya Altezza, kembali menoleh dan menatap gadis yang masih terduduk di atas tanah tepat di belakangnya. Sikap laki-laki berambut hitam dan berjubah hitam itu tampak tenang, seolah tidak sedang terjadi apa-apa.


"Seharusnya aku yang bertanya itu padamu!" sahut Alaia, tampak cemas karena Altezza menggunakan energi sihirnya untuk mempertahankan pelindung tersebut.


Hanya berdecak dan tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh Alaia. Pandangan Altezza kembali menatap ke arah depan sembari berkata, "biar ku urus makhluk ini, Alaia. Saat aku melancarkan serangan, aku akan membuka kesempatan untukmu menjauh dari lokasi ini."

__ADS_1


"Jangan bercanda, Altezza! Kamu memutuskan untuk menghadapi makhluk itu sendirian?!" sahut Alaia, berdiri perlahan dengan menggunakan tongkatnya sebagai tumpuan, dan tampak tidak terlalu setuju dengan ide yang dimiliki oleh Altezza.


"Tidak ada waktu untuk berdebat," sahut Altezza dengan sikap tenang.


TAP ...!


Alaia tiba-tiba mengulurkan salah satu telapak tangan kananya, dan menyentuh punggung milik laki-laki tersebut sembari berbicara, "baiklah kalau begitu, biarkan aku membantumu juga ...!"


Sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Alaia, namun tak ada penolakan dari Altezza. Gadis berambut kelabu itu tampak merapalkan sebuah mantra, hingga menciptakan sebuah cahaya berwarna emas pada telapak tangan kanannya.


"Ini akan membantumu dalam bergerak, semoga bisa membantu," ujar Alaia, selesai, dan menurunkan kembali tangannya.


"Terima kasih," sahut Altezza.


Laki-laki itu kemudian menghunuskan pedangnya ke depan, mengarahkannya tepat pada kepala tengah dari anjing berkepala tiga itu. Hembusan angin semakin kencang, mengelilingi tubuh Altezza dan terpusat pada mata pedang miliknya. Tak ingin menunggu lama lagi, ia segera bergerak maju dengan sangat cepat layaknya hembusan angin, dan di saat itu juga Alaia segera pergi sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Altezza.


Kembali kepada Aaron, gadis itu sempat memeluk kakak laki-lakinya, sebelum kemudian menyaksikan pertarungan satu lawan satu antara Altezza dengan anjing berkepala tiga dari kejauhan. Pergerakan laki-laki berjubah hitam itu terlalu cepat, bergerak di antara kaki-kaki besar si anjing dengan terus menebaskan pedangnya, dan membuat anjing itu lumpuh tersungkur ke tanah. Kesempatan terbuka lebar, terlihat Altezza melompat dengan sangat tinggi seperti mengendarai angin, dan kemudian terjun serta menusukkan pedangnya tepat di atas kepala tengah anjing berkepala tiga tersebut hingga membuat kristal hitam yang ada di kepalanya pecah.


Mengerang kesakitan, sebelum kemudian benar-benar terbaring di atas tanah hingga tak bergerak lagi. Makhluk tersebut tidak berkutik oleh serangan cepat yang dilakukan oleh Altezza, dan hanya memerlukan waktu beberapa menit untuk membuatnya benar-benar tertidur selamanya.

__ADS_1


"Dia menghabisinya sendiri ...?" gumam Eugene, terpana menyaksikan aksi hebat di depan matanya.


"Altezza," gumam Alaia berada di dekat Aaron, dengan pandangan lekat memandangi sosok laki-laki berjubah hitam yang berdiri tepat di depan mayat anjing berkepala tiga itu.


__ADS_2