
Mendengkur seperti seekor singa atau harimau yang sedang tertidur. Anjing besar itu tampak sangat garang dan mengerikan. Ia memiliki tiga kepala dengan sepasang mata yang sama-sama aktif di setiap kepala. Bulunya berwarna biru muda di bagian kepala, dan berangsur biru tua di bagian tubuh hingga satu ekor yang terlihat sangat gelap. Keempat kakinya dilengkapi dengan cakar-cakar tajam.
Legolas bersama teman Elf nya menjelaskan tentang makhluk itu kepada sekelompok pengembara, terutama Altezza. Kedua Elf itu tampak santai ketika berbicara, meski mereka berjarak sangat dekat membelakangi makhluk yang seukuran kereta kuda.
"Apakah anda yakin dia tidak akan bangun?" tanya Alaia tampak cemas, sekaligus ketakutan.
Legolas menjawab, "saat ini makhluk ini disegel dengan sihir suci milik kami Bangsa Elf, segel yang tidak akan pernah bisa dipecahkan kecuali oleh sebangsa kami yaitu Elf."
"Katakan soal makhluk itu pada kami ...!" pinta Altezza.
"Anjing Biru dari Neraka, mengapa namanya demikian? Karena dalam buku atau kitab kepercayaan kami, makhluk ini akan diturunkan dari neraka ke dunia sebagai pertanda bahwa kegelapan akan datang dan dunia akan musnah. Selain itu bulunya berwarna biru, jelas." Legolas berbicara terlebih dahulu, menjawab permintaan Altezza yang ingin dijelaskan soal makhluk tersebut.
"Pada buku ramalan yang sempat aku tunjukkan kepada kalian saat di kedai. Di sana tertulis akan ada seorang pemuda laki-laki yang ciri-cirinya sama persis seperti denganmu, Altezza. Pemuda itu akan datang ke desa ini, dan memiliki peran penting dalam menumpas kawanan dari makhluk neraka ini, dan dia kami sebut sebagai Permata Alam," lanjut Legolas.
Gadis berambut kelabu bernama Alaia itu tampak melipat kedua lengannya di atas dada, memeluk tongkat emasnya, dan bersandar pada bahu kakaknya yakni Aaron sembari menyimak dengan saksama penjelasan dari Legolas. Eugene yang berdiri di sebelah Altezza juga tampak diam menyimak, bahkan beberapa kali ia melirik laki-laki berambut hitam di sebelahnya karena rasa penasaran.
Selesai membuka pembicaraan, Legolas melemparkan topik pembicaraan ini kepada rekannya, seorang laki-laki Elf berambut cokelat kehitaman panjang terurai ke belakang. Laki-laki itu langsung memperkenalkan siapa dirinya di hadapan para pengembara, terutama Altezza.
"Namaku Caelum, dari Bangsa Elf sama seperti Legolas, akan tetapi Legolas sedikit lebih tua dari diriku, dia berusia 150 tahun sedangkan aku baru saja menginjak usia yang ke 125 tahun."
Keempat pengembara yang mendengar berhasil dibuat tercengang dalam diam dengan apa yang dikatakan oleh Elf tersebut. Alaia sempat bergumam dengan intonasi rendah dan berbisik, "itu bukan 'baru' lagi, nggak sih ...!?"
__ADS_1
Aaron mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh adiknya, "benar, tetapi itu sudah sewajarnya karena mereka adalah Elf," ucapnya singkat, sama-sama menggunakan intonasi rendah berbisik-bisik.
Lanjut dalam pembicaraan, Caelum langsung saja menjelaskan beberapa hal yang perlu diperhatikan dari makhluk yang sedang tertidur pulas di belakangnya.
"Makhluk-makhluk ini sangatlah tangguh, dan yang paling ditakuti adalah ia dapat menggunakan sihir api kelas atas," jelas Caelum, langsung pada inti pembicaraan mengenai makhluk di belakangnya.
"Kelemahannya terletak pada bagian perut dan punggung, terdapat sebuah pertama berwarna hitam di sana. Dengan menghancurkan permata tersebut, makhluk ini akan mati dan musnah," lanjut Caelum, selesai berbicara tentang hal-hal penting yang perlu ia sampaikan.
Setelah laki-laki Elf itu selesai berbicara, Aaron kemudian angkat bicara dengan bertanya, "setelah mengetahui kelemahannya, mengapa tidak dibunuh saja makhluk yang ada di belakang mu?"
"Justru itu, kami mengetahui kelemahannya setelah kami menangkap makhluk ini, dan diteliti," sahut Legolas menjawab pertanyaan tersebut.
"Selain itu kami memiliki rencana untuk membuat jebakan dari satu ekor yang ada di belakang ku ini," imbuh Caelum.
...
Hari tidak terasa sudah berubah menjadi sore. Kelompok pengembara itupun beranjak pergi dari gudang tersebut bersama Legolas dan Caelum. Mereka meninggalkan makhluk besar yang sedang tertidur di dalamnya, dan membiarkannya dijaga oleh beberapa penjaga desa yang juga dari golongan yang sama seperti mereka berdua, yaitu Bangsa Elf.
Altezza dan ketiga temannya kembali menyusuri jalanan di tengah desa, bersama Caelum dan Legolas. Dirinya sempat melewati beberapa orang yang kebetulan sedang melakukan aktivitas di luar ruangan. Beberapa warga desa yang dilaluinya kurang lebih sama seperti Legolas dan Emily, mereka dari Bangsa Elf dan Manusia Setengah Binatang.
"Ini pertama kalinya aku bertemu dengan kalian, apakah kalian memang jarang menampakkan diri di dunia luar?" tanya Altezza kepada Legolas dan Caelum.
__ADS_1
Pertanyaan tersebut sempat menjadi pusat perhatian dari ketiga rekannya yang merasa pertanyaan itu sangat sensitif. Akan tetapi pertanyaan Altezza segera mendapat jawaban dari Legolas yang tampak tersenyum dan berkata, "semenjak perang besar satu abad yang lalu, kami memutuskan untuk tidak terlalu terlihat di dunia ini."
"Mengapa?" tanya Altezza kembali.
"Karena kami tidak ingin menimbulkan kesenjangan di antara bangsa kami dengan bangsa kalian," jawab Legolas, sembari berjalan di sebelah Altezza menuju ke gerbang depan desa.
"Selain itu setiap bangsa dari kalian saja memiliki ideologi nya masing-masing, begitu pula dengan kami," imbuh Caelum yang berjalan di depan mereka berlima, memimpin jalan.
Pembicaraan selesai sampai di situ. Mereka terus berjalan menuju gerbang desa, dan bertemu dengan salah satu penjaga desa yang tampak berjaga di dekat gerbang. Seorang pria tampan berambut hitam dengan kedua telinga serta ekor serigala tampak berdiri gagah, terus menggenggam tombak besi yang selalu ia bawa. Sekilas pria itu tampak seperti manusia biasa layaknya Altezza dan ketiga temannya, namun setelah dipandang dari dekat ia memiliki ciri-ciri yang kurang lebih sama seperti Emily si pelayan kedai.
Legolas menemui pria tersebut dan berkata, "padamkan api menara, sudah menjelang sore perketat penjagaan di setiap sudut desa!"
"Baik," sahut pria tersebut, kemudian bergegas beranjak pergi dari sana.
Caelum membuka gerbang desa yang terbuat dari kayu itu, membukanya lebar-lebar. Altezza dan rekan pengembaranya berdiri di ambang gerbang desa, serta dibuat terpukau dengan pemandangan senja yang tampak sangat indah.
Langit senja berwarna jingga cerah, ditambah dengan pemandangan matahari terbenam yang dapat disaksikan hanya dari gerbang desa. Matahari sudah berada di kaki langit sebelah Barat, tepat di antara bukit-bukit yang sempat dilewati oleh para pengembara itu. Perbukitan hijau tampak sangat luas, ladang-ladang pertanian yang ada di atas beberapa bukit itu juga dapat disaksikan dari gerbang desa.
Legolas menunjuk ke arah salah satu puncak bukit yang ada di kejauhan dan berkata, "makhluk yang ada di gudang akan kita pindahkan dan kita segel dia di atas bukit itu."
"Mengingat mereka adalah hewan yang hidup secara berkelompok, maka tentu saja mereka tidak akan membiarkan temannya sendiri," imbuh Caelum menambahkan.
__ADS_1
Legolas kemudian menoleh, menatap para pengembara yang berdiri di sampingnya. Laki-laki berambut pirang itu tampak ramah, tersenyum kepada mereka dan berkata, "kalian berisitirahatlah di penginapan sampai waktu perburuan kita tiba ...! Penjebakan dan perburuan kita akan dimulai beberapa jam matahari terbenam."
"Tenang saja, kalian tidak perlu memikirkan biaya penginapan dan konsumsi, semuanya akan ku tanggung! Itu juga sebagai salah satu tanda terima kasih ku pada kalian karena sudah mau membantu desa ini," lanjut Legolas, tersenyum lebar. Laki-laki Elf itu sama sekali tidak terlihat 150 tahun, justru lebih mirip seperti Altezza dan teman-temannya yang masih remaja.