Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Akhir Musim Dingin #75


__ADS_3

Banyak waktu telah dihabiskan oleh Altezza, dan momen serta hari yang sangat ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Akhir musim dingin. Raja Aiden juga telah membuat sebuah keputusan untuk dirinya, dan hasil dari keputusan membuatnya sangat puas serta merasa senang. Pria itu memberikan izin untuk putranya berkelana. Altezza juga telah menunjuk seseorang yang dapat ia percaya untuk menggantikan dirinya di istana dan kerajaan selama dirinya pergi.


Untuk kesiapan, siang ini Altezza tampak memilih senjata yang akan menemaninya berkelana di halaman belakang istana. Masih di hari yang bersalju, namun salju-salju yang ada tidak setebal sebelum-sebelumnya. Tidak sendirian, pangeran muda itu ditemani oleh seekor elang putih yang sangat aktif sekali, beterbangan kesana-kemari.


"Yang Mulia, anda serius dengan keputusan ini?" cetus Kenan, berjalan mendekati Altezza yang tengah duduk di sebuah bangku panjang, dan terdapat dua buah pedang dan satu buah busur di sana.


Kenan datang dengan membawa sebuah kertas yang merupakan surat resmi pemindahan tugas untuk dirinya. Surat tersebut berisikan keputusan yang dibuat oleh Altezza untuk pengawal setianya, dan ditandangani serta disetujui oleh Raja Aiden.


"Ya, aku akan berkelana sendirian," jawab Altezza kemudian menoleh, menatap wajah sedih Kenan dan berkata, "aku membutuhkan dirimu di istana."


Altezza membuat suatu keputusan yang cukup mengejutkan Kenan, yaitu memindah tugaskan meja kerja Kenan yang biasanya hanya mengawal dirinya, kini akan mengisi posisi dari meja kerja yang dimiliki oleh pangeran tersebut. Bukan menggantikan kedudukan pangeran kedua, namun Kenan akan mengerjakan segala tugas yang biasanya dikerjakan oleh Altezza.


"Lalu bagaimana dengan anda?" tanya Kenan tampak khawatir, berdiri di samping pangeran tersebut.


Altezza memahami kekhawatiran yang dirasakan oleh Kenan. Laki-laki tersebut beranjak berdiri dari bangkunya, tersenyum kepada Kenan dengan tatapan yakin dan tajamnya ia berbicara, "aku bisa jaga diri, Kenan. Kau tahu alam akan selalu bersamaku, bukan?"


Angin tiba-tiba saja berhembus dengan sangat lembut menerpa mereka berdua, tepat setelah Altezza berbicara pada kalimat terakhirnya, dan berhasil membuat Kenan merasa jauh lebih tenang.

__ADS_1


"Apakah Shiro akan ikut bersama anda?" tanya Kenan, kemudian menoleh dan sedikit menengadahkan kepalanya, menatap Shiro yang asyik terbang dan berputar-putar di bawah langit biru yang indah.


"Entahlah, kalau Shiro tergantung bagaimana alam merestuinya," jawab Altezza, tersenyum, memandang ke arah yang sama dengan Kenan ketika menjawab pertanyaan tersebut.


Kenan kembali menurunkan pandangannya, dan menatap wajah tampan pangeran itu sembari bertanya, "kapan anda akan berangkat?"


"Dalam waktu yang sangat dekat, dan setelah salju-salju ini mencair," jawab Altezza, terlihat begitu bahagia ketika memikirkan soal petualangan.


***


Di sore hari yang cerah dan pemandangan langit jingga yang sangat amat indah. Ratu Caitlyn tampak sedang menghabiskan waktu santainya bersama putra bungsunya di taman samping istana, di gazebo favorit mereka berdua. Bunga-bunga dan berbagai tanaman di taman tersebut masih terselimuti putih salju yang lembut, belum terlihat mencair.


Altezza mengangguk yakin menjawab, "sudah! Aku akan pergi ke Timur."


Benua Timur tampaknya menarik perhatian pangeran kedua Kerajaan Zephyra, apalagi ia telah membaca-baca banyak soal legenda Oasis Terkutuk yang ada di sana. Ratu Caitlyn terlihat sangat mendukung putra bungsunya untuk berkelana, terlihat dari ekspresi bahagianya ketika melihat Altezza juga bahagia, apalagi ketika sebuah keputusan dari Raja Aiden telah turun dan memperbolehkan dirinya untuk berkelana.


"Apa yang membuatmu tertarik ke sana?" tanya Caitlyn terlihat cukup penasaran.

__ADS_1


"Legendanya," jawab singkat Altezza.


Caitlyn tampak sedikit bingung, dan lanjut bertanya, "memangnya ada legenda apa?"


"Ibunda, nggak tahu soal Oasis Terkutuk?" sahut Altezza, sedikit memiringkan kepalanya dan menatap penuh tanya Ratu Caitlyn yang duduk di hadapannya.


Caitlyn tampak berpikir sejenak, sebelum kemudian membulatkan kedua iris mata hitamnya dan menjawab, "oh, legenda itu!"


"Yang ibu ketahui, oasis tersebut dihuni oleh Basilisk yang memangsa manusia, targetnya kebanyakan adalah para pengembara yang putus asa di tengah luasnya samudera pasir itu," lanjut wanita itu berbicara.


"Apa lagi yang ibu ketahui soal oasis itu?!" sahut Altezza, terlihat sangat antusias, mendekatkan parasnya kepada Caitlyn dengan kedua tangan menopang di atas meja.


Caitlyn sedikit terkejut dengan reaksi putranya yang tiba-tiba sangat antusias dan bersemangat. Wanita cantik dan anggun bermahkota ratu itu kemudian tersenyum, sebelum kemudian beranjak dari tempat duduknya sembari berkata, "entahlah, ibu sudah lama tidak membaca-baca soal legenda itu."


"Bagaimana kalau ibu tunjukkan sebuah buku tentang seluruh benua padamu? Tentunya buku yang ibu miliki lebih kompleks daripada buku tentang benua yang disimpan di perpustakaan istana," lanjut Caitlyn tersenyum kepada putranya.


"Mau!" sahut Altezza, ikut beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


Ratu Caitlyn bersama dengan putra bungsunya berjalan kembali masuk ke dalam istana. Altezza terlihat tidak sabar untuk mengetahui seperti apa buku yang dimiliki oleh ibundanya, apalagi kata Caitlyn sendiri buku tersebut lebih kompleks daripada buku yang disimpan di perpustakaan istana.


__ADS_2