Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Mengembalikan Buku #21


__ADS_3

"Jika anda meminta saran kepada saya, maka saran yang dapat saya berikan kepada anda adalah ajak saja gadis yang terakhir anda temui serta ajak bicara."


"Anda tahu maksud saya, 'kan?" lanjut Kenan sembari berjalan di aula utama istana bersama dengan Altezza, sembari ia memberikan saran sesuai dengan janji yang telah ia buat sebelumnya. Namun ketika saran tersebut ia ungkapkan, Altezza justru terlihat cukup terkejut tidak percaya, "haruskah aku mengajaknya?" cetusnya, menghentikan langkahnya di ambang pintu aula yang terhubung ke lorong menuju ke depan istana.


"Ya, sepertinya dia adalah gadis yang cocok untuk anda ajak ke pesta dansa itu," sahut Kenan, tersenyum tipis.


Altezza terlihat sedang diam berpikir. Tidak ada perempuan lain selain gadis yang dimaksudkan oleh Kenan. Selain itu, dirinya juga tidak mengenal serta memiliki teman wanita lain. Merasa tidak ada pilihan lain, pangeran muda itupun memutuskan untuk mengambil saran yang diberikan oleh pengawalnya. Ia tiba-tiba berbalik haluan, kembali ke aula utama, dan kemudian menuju ke tangga naik ke lantai dua istana.


"Apa yang anda lakukan? Bukankah seharusnya anda segera pergi menemuinya, dan ajak dia ...?" tanya Kenan, mengikuti langkah Altezza yang cukup cepat menaiki anak tangga menuju lantai dua, dan kemudian berjalan di lorong.


"Tidak mungkin aku tiba-tiba datang dan langsung mengajaknya tanpa basa-basi, 'kan? Pasti akan terasa sangat canggung dan aneh," sahut Altezza.


Seolah memiliki ide brilian yang tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya. Altezza berjalan kembali ke kamarnya, dan kemudian meraih sebuah buku cerita yang tergeletak di atas meja. Buku cerita yang ia bawa itu adalah buku cerita yang ia pinjam dari perpustakaan kerajaan. Kenan menatap bingung apa yang dilakukan oleh pangeran tersebut, dan hanya memilih diam mengikuti langkah Altezza yang kembali turun ke lantai satu istana, melalui aula utama yang masih ramai dengan para pelayan istana, kemudian keluar dari istana tersebut.


Ketika sampai di tengah-tengah halaman depan istana yang amat luas itu. Altezza tiba-tiba saja menghentikan langkahnya, dan memasang ekspresi ragu, "tetapi bagaimana kalau dia tidak menerima ajakan ku?" celetuknya bertanya kepada Kenan.


Kenan tertawa mendengar keraguan serta pertanyaan tersebut. Ia merasa tidak menyangka seorang pangeran tampan dan berbakat seperti tuannya akan tetap memikirkan serta mencemaskan sebuah penolakan yang bisa saja terjadi.

__ADS_1


"Kurasa presentase untuk terjadinya penolakan itu sangatlah kecil, jadi ... percaya dirilah, Yang Mulia!" ucap Kenan dengan sangat lugas, "kalaupun tidak diterima, anda pasti akan dapat penggantinya dengan cepat dan segera, percayalah!" lanjutnya.


Pangeran muda itu terlihat cukup mempercayai apa yang dikatakan oleh Kenan, "baiklah ...!" ujar Altezza, menghela napas, dan terlihat cukup gugup, tidak tenang seperti biasanya.


Altezza pun segera beranjak pergi dari istananya, hanya seorang diri, tidak bersama dengan Kenan, karena dirinya ingin menghadapi rintangan ini sendirian. Dengan pakaian formalnya seperti biasa, ia menyusuri jalanan menuruni bukit kecil istananya, menuju ke perempatan kota kerajaan, dan kemudian berbelok ke kiri mengarah ke perpustakaan kerajaan. Di tangan kanannya ia membawa sebuah buku cerita yang ia pinjam beberapa waktu lalu dari perpustakaan tersebut.


Suasana petang yang cukup tenang, tidak terlalu ramai. Seperti biasa, setiap ia berjalan melewati beberapa rakyatnya, mereka selalu dengan ramah menundukkan kepala dan menyapa dirinya dengan penuh hormat. Altezza hanya melempar senyuman tipis, dan sempat menyapa kembali mereka semua. Hal yang sudah biasa baginya melihat pemandangan tersebut.


Langkah demi langkahnya tak lama kemudian membawa dirinya ke bangunan megah berwarna putih bertuliskan Perpustakaan Kerajaan. Ia kini berdiri tepat di depan bangunan megah itu, dan melihat terdapat banyak sekali orang yang akan menghabiskan waktunya di perpustakaan.


"Selamat malam, Yang Mulia." Beberapa orang baik laki-laki ataupun perempuan yang berjalan melewatinya, bahkan melihatnya, menyapanya dengan ramah bahkan dengan senyuman mereka. Altezza kembali bersikap ramah seperti biasanya, sebelum kemudian segera melangkah masuk ke dalam perpustakaan, mencari seseorang.


"Se-selamat malam, Yang Mulia. Ada yang bisa saya bantu?" cetus Bianca, terlihat cukup terkejut dengan kehadiran seorang pangeran yang tiba-tiba saja berdiri di hadapannya.


Altezza berdiri di depan meja resepsionis yang di mana di sana cukup ramai dengan orang-orang. Beberapa petugas perpustakaan yang lain serta pengunjung yang kebetulan ada di meja resepsionis tersebut, mereka langsung memberikan hormat seperti biasa dan menyapa pangeran muda itu.


"Aku ingin mengembalikan buku ini," ucap Altezza, kemudian memberikan buku yang sempat ia pinjam kepada Bianca. Kedua matanya beberapa kali melirik ke sekitarnya, terlihat masih cukup ramai.

__ADS_1


"Oh, baik, saya terima bukunya, terima kasih sudah meminjam, Yang Mulia," ujar Bianca tak memudarkan senyuman manisnya, menerima buku cerita tersebut, dan kemudian langsung sibuk mencatat sesuatu pada buku catatan tebal yang ada di meja resepsionis menggunakan sebuah bulu dengan tinta di ujung.


"Selain itu, kira-kira ... kapan kau memiliki waktu luang? Aku ingin berbincang denganmu," cetus Altezza, terlihat begitu tenang seperti biasanya.


Bianca sungguh terkejut dengan tatapan seolah tidak menyangka dengan apa yang baru saja ia dengar. Wajahnya sedikit merona, serta tatapannya tidak bisa lepas menatap Altezza dengan tatapan kosong, seolah sedang berpikir memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.


"Tu-tunggu! Be-berbincang dengan saya ...?!" tanya Bianca, terlihat cukup kikuk ketika bertanya untuk memastikan.


"Ya, kira-kira bisa atau tidak?" jawab laki-laki itu dengan intonasi yang sungguh datar, tenang, dan dengan tatapan santainya.


"Y-ya, tentu! Um, tetapi ... saya masih ada jam kerja," sahut Bianca, terlihat sangat canggung dan salah tingkah, saking salah tingkahnya ia sampai menutup buku catatan tebal yang belum selesai ia periksa sepenuhnya.


Altezza mengangguk paham, dan tersenyum tipis, "baiklah kalau begitu, aku akan menunggu mu," ucapnya, kemudian beranjak pergi dari meja resepsionis tersebut, menuju ke dalam perpustakaan.


"Bianca, kamu beruntung sekali! Kapan lagi Yang Mulia Pangeran ingin berbincang denganmu secara empat mata? Jangan sia-siakan kesempatan itu!" cetus seorang petugas perpustakaan lain yang tiba-tiba saja berdiri di belakang Bianca. Seorang wanita paruh baya itu berbicara dengan sedikit berbisik kepada Bianca.


Bianca hanya tertawa kecil, memegangi leher kanannya dengan tangan kanannya, dan dengan tatapan yang masih tidak bisa fokus. Kedua matanya kembali tertuju pada buku catatan tebal miliknya yang sudah tertutup dengan tatapan kembali terkejut, "astaga, aku belum selesai mendata semua bukunya!" cetusnya, kembali membuka buku tebal tersebut, membolak-balikkan halaman dan mencari halaman terakhir yang ia kerjakan.

__ADS_1


Rekan kerjanya terlihat tertawa kecil melihat tingkah Bianca yang terlihat sangat gugup, "jangan salting begitu, dong! Santai saja ...!" ucap rekan wanitanya yang kini berdiri tepat di samping Bianca, membantu gadis itu kembali mencari halaman terakhirnya. Rekan wanitanya tidak henti-hentinya tertawa kecil melihat tingkah Bianca yang terlihat lucu ketika sedang gugup.


Altezza terlihat berjalan di antara rak-rak buku yang tinggi menjulang, melihat-lihat buku yang jumlahnya menyentuh angka ribuan. Tampaknya laki-laki itu telah berhasil mencuri perhatian Bianca, yang sedari tadi meliriknya, memastikan keberadaannya, dan menyimpan rasa tidak enak hati karena melihatnya menunggu.


__ADS_2