
Kapal layar yang ditumpangi oleh Altezza perlahan memasuki area pelabuhan terbesar di Benua Timur. Pelabuhan Beladon, satu-satunya pelabuhan utama yang dimiliki oleh Kerajaan Neverley. Hampir sama dengan Pelabuhan Aetheria, Pelabuhan Beladon adalah sebuah kota yang cukup besar dan luas dengan penduduk yang padat. Kota Beladon, kota dengan desain lebih maju, hampir semua bangunan di sana yang terbuat bebatuan kokoh--bukan kayu lagi. Setiap orang yang hidup di kota atau pelabuhan tersebut bermatapencaharian sebagai nelayan dan pedagang.
Altezza segera menuruni kapal setelah kapal tersebut telah berlabuh dengan tenang di dermaga, dan para kelasi juga sudah mulai menurunkan barang-barang dagangan yang mereka bawa di kapal setelah terguncang hebat oleh badai. Pakaian yang dikenakan oleh Altezza juga tidak membutuhkan waktu lama untuk kering karena bahannya yang tahan air. Ia bersama laki-laki berambut pirang bernama Eugene, berjalan keluar dari pelabuhan menuju ke kota.
"Kota yang ramai dan indah, dengan penataannya yang rapi serta estetik." Eugene berbicara dengan sendirinya dengan ekspresi gembira, tidak berhenti tersenyum, dan terus memandangi sekitarnya yang selalu ramai dengan orang yang beraktivitas.
Altezza dan Eugene berjalan di trotoar, melihat berbagai jenis kereta kuda yang melintas di jalanan utama. Mereka berdua juga melewati berbagai jenis toko seperti butik dan kedai. Benar-benar kota yang padat, dan di antara kedapatan aktivitas masyarakat selalu terlihat banyak penjaga dengan seragam merah bercorak oranye yang selalu berpatroli. Dilihat dari seragam yang dikenakan oleh para penjaga itu, mereka benar-benar orang dari Kerajaan Neverley.
"Apakah kau mengetahui filosofi dari seragam yang dikenakan prajurit-prajurit itu?" tanya Eugene asyik sendiri setelah melintasi beberapa prajurit.
Altezza tersenyum dan hanya menanggapinya, "memangnya apa?"
"Warna merah mengartikan keberanian, sedangkan corak oranye menggambarkan sinar atau cahaya dari matahari yang sangat kuat menyinari dunia setelah kegelapan." Eugene berbicara dengan ekspresi yang benar-benar seperti seorang bocah laki-laki yang ahli dalam pelajaran sejarah.
Selain soal seragam para prajurit dari Kerajaan Neverley yang dibahas sejarahnya oleh Eugene, dirinya juga membahas soal asal-usul dari Kota Beladon. Altezza sudah seperti seorang turis yang menyewa pemandu untuk menjelajahi kota tersebut ketika Eugene berbicara asyik tentang Kota Beladon.
"Beladon, kota ini menjadi saksi dari lahirnya angkatan laut Kerajaan Neverley ketika perang besar melawan Bangsa Iblis satu abad yang lalu. Dahulu Kota Beladon tidak sebesar dan se-estetik ini, dan belum ada pertokoan seperti yang kita lewati, semuanya yang ada di sini masih berkaitan dengan militer."
__ADS_1
"Semuanya mulai berubah menjadi lebih modern dan lebih estetik semenjak Ratu Aqilla memimpin Kerajaan Neverley,," lanjut Eugene, menjelaskan singkat tentang sejarah dari Kota Beladon di masa lalu.
Altezza hanya diam dan tersenyum kecil ketika mendengarkan Eugene berbicara banyak hal, tidak hanya sekadar membahas soal sejarah dari tempat-tempat yang mereka lewati. Setelah melalui beberapa hari berkelana sendirian. Laki-laki berjubah hitam berambut hitam itu tampak tidak keberatan sama sekali dengan sikap Eugene yang tidak bisa diam, hampir di setiap langkah ia selalu berbicara atau mengajaknya berbicara. Justru ia tampak merasa senang karena mendapatkan seorang teman seperti Eugene.
Setelah berjalan cukup lama, melewati hiruk-pikuk perkotaan. Langkah Eugene terhenti di sebuah perempatan, begitu pula dengan Altezza yang juga ikut menghentikan langkahnya. Laki-laki berambut pirang itu tampak kebingungan menentukan arah, beberapa kali menoleh ke kanan dan kiri, serta memandang lurus.
"Ada apa?" tanya Altezza, berdiri di tepi jalan bersama Eugene.
Eugene mengerutkan dahinya, menghela napas dan menjawab, "seharusnya mereka akan menunggu di sini, tetapi kenapa tidak ada, ya?"
Eugene mengangguk, tersenyum, "ide yang bagus!" sahutnya.
...
Sebuah pasar raya yang sangat ramai. Banyak sekali kios-kios yang menjual berbagai macam benda. Kebanyakan benda-benda yang dijual adalah benda-benda antik yang memiliki sejarah serta nilai yang cukup tinggi. Selain kios-kios yang menjual barang antik, di pasar raya tersebut juga menghadirkan banyak kios yang menjual berbagai macam makanan tradisional khas Timur.
Altezza lebih tertarik terhadap banyak kios yang menjual makanan-makanan tradisional yang jarang ia lihat di kerajaannya. Laki-laki itu memutuskan untuk menghampiri salah satu kios yang sedang memasak makanan yang kelihatannya sangat enak. Seorang pria paruh baya dengan pakaian serba putih layaknya tukang masak tampak sedang sibuk memasak sesuatu. Altezza dapat melihat adanya beberapa potong ikan laut yang dibalut oleh tepung serta sayuran, dan dimasak ke dalam wajan dengan minyak yang sudah panas. Suaranya cukup nyaring ketika makanan yang masih mentah itu masuk ke dalam minyak. Namun tak lama kemudian aroma sedap perlahan terasa, dan mengundang perut keroncongan.
__ADS_1
"Apakah anda mau membelinya, tuan?" tanya pria paruh baya itu sembari memasak, ia melihat kehadiran Altezza yang berdiri di depan etalasenya.
"Berapa harganya?" sahut Altezza langsung tertarik.
Pria paruh baya itu tersenyum ramah dan menjawab, "tiga koin perak untuk tiga potong."
"Baiklah!"
...
Berbeda dari Altezza, Eugene justru memilih untuk berpisah. Laki-laki berambut pirang itu lebih tertarik dengan berbagai kios yang menjual berbagai macam barang antik yang berhasil menarik perhatiannya. Wajah Eugene terlihat sangat senang ketika melihat benda-benda bersejarah yang dijual di pasar raya tersebut.
Eugene berjalan melewati banyak kios barang antik dengan pandangan tidak bisa diam untuk melihat satu per satu barang-barang antik tersebut. Langkahnya berhenti pada satu kios yang menjual beberapa lonceng antik dengan bentuk yang unik dan bermacam-macam.
"Lonceng kapal Deavour! Kapal penjelajah dan penemu Benua Timur," ujar Eugene berbicara sendiri, terkagum melihat salah satu lonceng kapal antik yang dapat ia saksikan di salah satu kios di sana. Sebuah lonceng berukuran besar berwarna perak dan tampak mengkilap, serta terukir nama Deavour pada permukaan lonceng tersebut. Penampilannya yang sangat klasik dan sederhana tampaknya berhasil menarik perhatian Eugene yang melihat.
Akan tetapi wajah ceria dari laki-laki berambut perak itu seketika pudar ketika melihat harga yang tertera di atas meja tepat di bawah benda atau lonceng yang ia sukai. Harganya cukup fantastis, tidak heran karena itu adalah salah satu lonceng dari sebuah kapal penjelajah legendaris yang menemukan Benua Timur. Eugene hanya menghela napas berat, dan melangkah pergi dari kios itu dengan ekspresi serta perasaan kecewa karena tidak bisa memiliki lonceng legendaris itu.
__ADS_1