Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Kegelapan Telah Datang #118


__ADS_3

"Kerajaan ini sudah dilapisi oleh penghalang magis, bagaimana caranya kita bisa keluar dari benteng kerajaan?"


Aurora bertanya-tanya, ia berdiri di balik salah satu sisi benteng kerajaannya yang terletak paling jauh dari istananya. Ibu Kota Kerajaan Mystick sangatlah luas, dan memiliki banyak sisi terpencil yang jarang dijangkau oleh pasukan kegelapan. Sudah satu hari lewat, dan selama satu hari hingga pagi menjelang siang ini Aurora berhasil menjauhi si pangeran jahat itu--semuanya juga berkat tupai ajaib yang selalu hinggap di atas pundaknya.


Benteng kerajaan yang tinggi menjulang dan terbuat dari es yang sangat dingin dan kokoh itu tampak sangat sulit untuk ditembus, ditambah benteng tersebut dilapisi oleh penghalang magis yang sama seperti penghalang yang menyegel ruang isolasi Aurora sebelumnya.


Tupai kecil berbulu putih seputih salju itu berlari kecil melalui pundaknya, turun menuruni lengan dan berdiri di atas telapak tangan Aurora. Benar-benar hewan yang sangat menggemaskan, terlebih ia bisa berbicara dengan suara kecil nan imutnya, "akan ku tunjukkan sesuatu padamu, Aurora."


Tupai kecil itu berdiri dengan dua kaki mungilnya di atas telapak tangan Aurora, sedangkan kedua tangannya terulur ke depan--meskipun juga sama-sama mungil dan pendek. Hanya dalam waktu singkat, hitungan detik saja. Sebuah lingkaran sihir berwarna putih tiba-tiba saja muncul di hadapan Aurora, dan perlahan melelehkan benteng yang terbuat dari es yang sangat amat belas dan kokoh itu. Penghalang transparan yang membatasi juga seolah netral begitu saja ketika terkena sihir tersebut.


Kedua iris mata Aurora menatap kagum keajaiban yang terjadi di depan matanya, "kamu bisa menggunakan sihir?"


"Hehe!" tawa kecil dengan intonasi serta sikap yang seolah bangga atas dirinya sendiri, tupai putih itu berbalik badan dan menatap Aurora sembari melihat kedua tangan kecilnya, "tentu saja, kamu tidak lupa bahwa aku bagian dari dirimu, 'kan?"

__ADS_1


Aurora mengerutkan dahinya, tampak bingung dan bertanya-tanya, "te-tetapi ... bukankah ... Astaroth telah merenggut sihirku?"


"Ah, sudahlah! Lebih baik kita segera pergi, Astaroth sepertinya sudah mulai menyadari bahwa kamu tidak ada di ruang kedap udara itu." Tupai kecil itu sudah lebih dahulu menyela, tidak menjawab pertanyaan serta kebingungan Aurora. Ia memilih untuk berlari kecil melalui lengan Aurora, dan kembali di atas pundak Aurora, bersembunyi di balik rambutnya yang indah berwarna putih.


Benar juga! Aurora memilih untuk segera mengambil langkah besar, dan dengan cepat keluar melalui celah yang ada di hadapannya. Ini adalah pertama kalinya keluar dari benteng semenjak menjadi tawanan atau dikurung oleh pangeran iblis itu, setelah sebelumnya sempat mencoba untuk melarikan diri namun gagal.


***


"Zephyra," gumam Astaroth, kali ini dengan kedua iris mata berwarna biru, memandangi pemandangan hamparan rumput serta bukit-bukit kecil yang sangat amat luas di depan matanya.


Prajurit manusia dan iblis di bawah panji-panji hitam, mereka menyebar luas seperti hama, memenuhi hamparan rerumputan yang sangat amat luas itu. Astaroth berjalan dengan santai dan langkah yang tidak terlalu cepat. Di saat itu juga Baltazhar muncul tepat di sampingnya dari gumpalan abu berwarna hitam yang kemudian berwujud pria dengan jubah hitam menyelimuti seluruh tubuh.


"Maaf, Yang Mulia. Pewaris kekuatan alam itu, dia berada di luar Benua Tengah, cukup sulit bagi saya untuk menyeberangi samudra." Baltazhar berbicara dengan kepala tertunduk--masih dengan wajah yang tidak terlihat, hanya gelap tertutup sempurna oleh tudung yang ia kenakan.

__ADS_1


"Tidak apa, yang penting dia benar-benar tidak ada di tanah kelahirannya, itu akan mempermudah pergerakan kita," sahut Astaroth, masih berjalan diikuti oleh Baltazhar di belakangnya.


Pandangan Astaroth tidak bisa berhenti memandangi luasnya pemandangan alam di negeri yang saat ini ia pijak. Pasukannya juga sudah mulai menyebar luas, dan tidak terlihat adanya perlawanan dari kerajaan setempat. Laki-laki berambut hitam bermata biru itu menghentikan langkahnya, menoleh dan melirik tajam kepada Baltazhar yang kini berdiri di sampingnya, dan kemudian menyampaikan sebuah perintah, "jadilah pengintai ku, Baltazhar. Ubahlah wujudmu menjadi sesuatu yang gesit dan mudah untuk melakukan pengintaian!"


"Apa target intaian saya, Yang Mulia?" tanya Baltazhar.


"Kerajaan Zephyra."


Sesaat setelah mendengar jawaban dari sang pangeran, Baltazhar segera melaksanakan. Tubuhnya langsung lenyap menjadi gumpalan abu berwarna hitam pekat, sebelum kemudian dari gumpalan abu tersebut terciptalah seekor burung berukuran besar berwarna hitam pekat. Baltazhar telah merubah wujudnya dengan sangat mudah menjadi seekor elang berwarna hitam dengan iris mata tajam berwarna merah, sebelum kemudian terbang dengan cepat menjauh ke arah langit Utara yang masih tampak cerah.


Setelah Baltazhar benar-benar pergi, Astaroth berbalik badan memandang ke arah Selatan. Kedua tangannya kemudian terangkat ke arah langit, dengan kedua telapak tangan terbuka lebar seperti memohon sesuatu. Petir seketika menggelegar saat Astaroth melakukan hal tersebut, dan kemudian disusul oleh sebuah sihir penghalang berwarna hitam berskala yang sangat amat besar muncul, menyelimuti Benua Selatan yang dingin serta membatasi perbatasan dengan sihir miliknya.


"Aku tahu kau masih berada di Selatan, Aurora. Aku tidak akan membiarkanmu keluar dari tempat beku itu," gumam Astaroth sesaat setelah dirinya menyegel Benua Selatan beserta segala sesuatu yang ada di dalamnya.

__ADS_1


__ADS_2