
Masih di hari dan di siang yang sama, Ratu Caitlyn berdiri di atas balkon lantai dua istananya dengan perasaan gelisah dan cemas yang saat ini merundung hatinya. Wanita anggun dengan gaun formal kerajaan berwarna putih dengan corak keemasan itu tampak tidak bisa diam, beberapa kali berjalan mondar-mandir di tempat dengan tatapan cemas. Ia tidak henti-hentinya menggigit bibir bawah, dan beberapa kali menatap ke arah langit siang yang tampak berawan.
"Apa yang membuatmu gelisah seperti ini? Apakah karena kejadian kemarin malam?" suara dengan intonasi santai namun tetap terdengar tegas. Raja Aiden berjalan menghampiri istrinya yang tampak tidak bisa diam.
Ratu Caitlyn menghela napas berat yang cukup panjang, sebelum akhirnya menjawab, "apakah Altezza akan baik-baik saja di luar sana? Aku takut kalau pertanda buruk itu diperuntukan kepadanya."
"Kamu bicara apa, sih?! Mana boleh berpikiran negatif seperti itu?" sahut Aiden langsung menyanggah apa yang dikatakan oleh istrinya.
Pria itu kemudian berdiri dan bersandar pada pagar pembatas balkon sembari berbicara, "kamu itu seorang ibu, dan sebaik-baiknya kamu berkata adalah perkataan yang baik. Jangan terpengaruh oleh pikiran negatif, kamu mengerti?"
Ratu Caitlyn berdiri tepat di sebelah lelakinya, menundukkan pandangannya dan menjawab, "iya, aku tahu, tetapi rasanya sulit untuk tidak mencemaskan dirinya."
"Memang, sulit untuk berpikiran jernih, apalagi setelah menyaksikan kejadian Kristal Sihir kemarin malam. Tentu membuat kita berspekulasi banyak hal mengenai kejadian tersebut, bukan?" sahut Aiden sembari tersenyum. Raja tanpa mahkota itu--sebenarnya Raja Aiden memiliki mahkota, akan tetapi ia enggan terus memakainya karena menurutnya itu hanya membebani kepalanya saja--dia tampak tenang dan santai ketika bersama ratu tercintanya.
Pandangan Aiden perlahan menoleh, menatap lembut wanita cantik berambut cokelat muda bergelombang dengan kulit kuning langsat sembari berbicara, "Altezza bukanlah remaja biasa, kamu tahu itu, 'kan?"
"Yakinlah kalau alam akan selalu bersamanya, menolongnya di kala kesulitan, dan melindunginya kapanpun dan di manapun," lanjut Raja Aiden dengan sikap dan intonasi bicara yang tampak sangat santai.
__ADS_1
Berkat sikap yang santai dan tenang itu, Ratu Caitlyn jadi ikut merasa lebih tenang daripada sebelumnya. Ia bisa lebih bernapas dengan teratur daripada ketika cemas. Caitlyn tersenyum kecil, menatap kedua iris mata hitam indah milik sang suami dan berkata, "kau benar ...!"
"Tetapi apakah kita perlu mengirimkan surat padanya mengenai kejadian kemarin malam?" lanjut Caitlyn bertanya.
Aiden memalingkan pandangannya ke arah langit berawan di siang hari itu dan menjawab, "kurasa tidak perlu, kita jangan sampai membuatnya ragu untuk melangkah dalam berkelana karena memikirkan kampung halamannya."
"Selama semuanya masih dan akan baik-baik saja, kita hanya perlu menyuratinya untuk menanyakan kabar dan sebagainya," lanjut Raja Aiden.
Situasi perlahan kembali lengang, membiarkan momen berdua berlangsung tanpa adanya perbincangan di antara mereka. Sama-sama memandang ke arah langit yang sama, bahkan beberapa kali juga saling melirik satu sama lain, dan saling berbicara di dalam hati atau benak mereka masing-masing alias tidak bersuara. Raja dan ratu itu sudah seperti pasangan kekasih yang baru saja jadian beberapa hari yang lalu.
Momen ketenangan mereka terpecah ketika seorang prajurit penjaga istana datang dan memberitahu, "maaf mengganggu waktunya, Yang Mulia. Ada seseorang dari perpustakaan kerajaan yang datang, dan meminta konfirmasi persetujuan atas akan datangnya buku-buku baru."
Prajurit itu menundukkan kepalanya dan menjawab, "baik, Yang Mulia. Izin meninggalkan tempat," sebelum kemudian beranjak pergi setelah Raja Aiden mengizinkan dengan hanya anggukan kepala sebagai jawaban.
"Aku urus persetujuan tentang buku-buku itu dahulu," ujar Ratu Caitlyn kepada lelakinya.
Raja Aiden tersenyum, mengangguk dan berkata, "aku akan ada di ruang kerja jika kamu mencariku."
__ADS_1
"Tahu aja kalau aku nggak bisa lama-lama tanpa mu," sahut Caitlyn dengan senyuman licik menggoda suaminya, sebelum akhirnya keduanya sama-sama tertawa setelah menyadari betapa gelinya momen canggung tersebut.
***
Berada di aula utama istana, Caitlyn melihat sosok yang sangat tidak asing baginya, bahkan mengundang senyuman yang kembali terukir pada paras cantiknya. Bianca berdiri di tengah aula, dan tampak sudah menunggu dirinya sedari tadi. Gadis berambut cokelat kemerahan berseragam biru penjaga perpustakaan itu tampak membawa sebuah papan catatan pada salah satu tangannya.
"Selama siang, Yang Mulia." Bianca tersenyum lembut, segera memberikan salam dan hormatnya dengan sangat sopan ketika menyadari sosok mulia ratu mendatangi dirinya.
"Bagaimana, Bianca?" tanya Caitlyn kemudian, berdiri tepat di hadapan Bianca.
Bianca segera menunjukkan papan catatan yang ia bawa sembari berbicara menjelaskan, "perpustakaan akan segera kedatangan beberapa set buku baru tentang ilmu pengetahuan umum, buku-buku sejarah, buku-buku pelajaran atau akademi, dan beberapa set lain yang juga memiliki kegunaan dalam bidang akademi serta pengetahuan."
Caitlyn menerima papan catatan milik Bianca, dan kemudian membaca beberapa tulisan yang tertulis di sana. Lembar catatan yang ada pada papan tersebut memiliki cap resmi Perpustakaan Zephyra dengan logo elang berwarna emas di bagian kanan atas kertas.
"Kebetulan saya dipercaya oleh direktur perpustakaan untuk menyampaikan ini kepada anda, Yang Mulia. Kami membutuhkan konfirmasi sekaligus persetujuan dari anda atas masuknya buku-buku ini ke perpustakaan," lanjut Bianca, beberapa kali mengangguk, menundukkan pandangannya ketika berhadapan dengan seseorang yang sangat dihormati oleh setiap orang di negeri.
Ratu Caitlyn tampak tersenyum dengan kedua iris mata masih membaca beberapa kalimat terakhir pada catatan tersebut. Kepalanya beberapa kali mengangguk dan tersenyum, "baik," ucapnya, menatap kepada Bianca dan lanjut berbicara, "aku akan segera mengurus beberapa hal akhir yang diperlukan, jangan khawatir, tentu aku memberikan persetujuan mengenai hal tersebut."
__ADS_1
"Apalagi buku adalah sumber ilmu, dan itu pasti dibutuhkan oleh setiap orang yang ada di negeri ini. Pengetahuan adalah harta yang sangat berharga," lanjut Caitlyn.
Bianca menundukkan kepalanya dan berkata, "terima kasih, Yang Mulia."