Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Petunjuk #161


__ADS_3

Langit malam yang sangat pekat, gelap, tak ada cahaya bintang ataupun bulan sedikitpun. Malam ini. Benteng Istana Kerajaan Zephyra dijaga sangat ketat, tak hanya prajurit dengan pedang, tombak, dan busur saja yang berjaga di setiap sudut serta menara. Namun kerajaan tampaknya juga menurunkan personel ahli sihir untuk berjaga, mereka mengisi setiap menara pengawas yang ada di benteng kokoh tersebut, dan siap menggunakan sihir mereka kapanpun untuk melindungi benteng dan istana.


Pangeran Welt berjalan melewati gerbang istana yang dijaga oleh dua orang kesatria gagah dengan zirah berwarna perak, memasuki halaman istana yang tampak terang oleh beberapa lampu kristal yang tertanam di antara rerumputan. Sepi, tidak terlalu banyak orang di istana tersebut, bahkan ketika ia melewati aula utama istana yang biasanya dijadikan tempat untuk berkumpul atau mengadakan pesta. Dirinya hanya bertemu dengan beberapa dayang, pelayan pria, dan prajurit-prajurit kerajaan yang terus berpatroli.


Laki-laki berambut hitam itu segera menaiki anak tangga yang diselimuti oleh karpet merah, menuju lantai dua, melewati lorong panjang dan luas, dan sampai di kamar milik sang Raja dan Ratu.


Tok ... Tok ...!!


Mengetuk pintu pualam tersebut dua kali, sebelum kemudian Welt membukanya secara perlahan. Terlihat sang raja masih terbaring di atas ranjangnya namun dalam keadaan kedua mata sudah terbuka. Tepat di sisi sang raja tampak Ratu Caitlyn yang setia menemaninya, duduk di sebelah ranjang tersebut, dan tampak enggan untuk melepas genggamannya dari tangan milik Raja.


Raja Aiden tampak membaik, meski ia masih belum bisa menggerakkan kedua kakinya. Beberapa luka terbuka juga tampak sudah sembuh, kembali tertutup dan tanpa bercak darah yang sudah dibersihkan. Di balik membaiknya kondisi Raja, terlihat wajah lelah Ratu Caitlyn dengan napas sedikit tersengal. Sepertinya Ratu telah menggunakan banyak sekali sihir penyembuhan demi menstabilkan kondisi suaminya.


"Welt, mereka ... bukanlah ... pasukan biasa," ujar Raja Aiden, langsung berbicara dengan intonasi terdengar cukup gemetar. Pria berambut hitam pekat tanpa mahkota itu berbicara mengenai apa yang ingin ia sampaikan, tanpa berbasa-basi.


Welt berdiri tepat di sebelah sang ibunda, dan siap menyimak setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya.


"Iblis Astaroth, bersama satu iblis berjubah pendamping setianya, memimpin pasukan yang berisikan prajurit manusia dari Kerajaan Mystick dan pasukan iblis dengan wujud tak lazim."

__ADS_1


"Kekuatan kedua petinggi pasukan mereka sangat berbahaya, terutama Astaroth, dia dapat mengendalikan iklim di sekitarnya menjadi dingin ataupun membara panas. Namun berbeda dari kedua petinggi itu, pasukan atau prajurit-prajurit yang mereka bawa cukup lemah dengan sihir. Tetapi tetap saja, mereka tidak boleh diremehkan."


Raja Aiden langsung angkat suara, memberitahu putra sulungnya mengenai siapa yang akan dihadapi dalam pertempuran. Pangeran Welt tampak sangat serius, diam, dan mendengarkan dengan saksama setiap kata yang keluar dari mulut sang raja.


Lengang sejenak, Raja Aiden tampak sedang mengatur napasnya setelah berbicara cukup panjang.


"Lalu apa yang harus ku lakukan?" tanya Welt dengan pandangan ke bawah, tampak tidak percaya diri.


"Ini bukan hanya perang biasa, Welt. Kemungkinan besar ini akan menjadi perang sihir," jawab Raja Aiden, memandang putranya meski masih dalam kondisi berbaring.


"Astaroth tidak bisa dikalahkan seorang diri, Welt," ujar Raja Aiden, menatap serius dan tajam laki-laki yang berdiri di sebelah Ratu Caitlyn itu, "kerahkan setiap ahli sihir yang kita miliki, dan lindungi mereka," lanjut sang raja, memberikan petunjuk untuk putra sulungnya.


...


"Ini bukan hanya perang biasa, Welt. Kemungkinan besar ini akan menjadi perang sihir."


"Astaroth tidak bisa dikalahkan seorang diri, Welt."

__ADS_1


"Kerahkan setiap ahli sihir yang kita miliki, dan lindungi mereka."


Beberapa kalimat tersebut terus berenang dalam benak Welt ketika ia berjalan melewati halaman istana, dan hendak kembali ke gerbang utama benteng kerajaannya. Sang pangeran tampak tidak bisa tenang--tidak setenang sikap serta ekspresi yang hampir selalu terlihat dingin.


Pangeran berjubah putih itu berjalan pelan di tengah ibu kota. Sangat sepi tidak seperti biasanya, semua orang memilih untuk mengurung diri di dalam bangunan, di sisi lain jam malam telah diberlakukan dan tidak sembarang orang dapat bepergian. Namun ketika sampai di sebuah persimpangan jalan, langkah Welt berhenti, ia menoleh ke kiri dan memandangi sebuah bangunan megah berwarna putih yaitu Perpustakaan Kerajaan. Tak jauh dari perpustakaan besar itu, terlihat seorang gadis berseragam pustakawan yang tidak asing di matanya tengah berjalan menuju ke arahnya.


"Malam, Yang Mulia." Bianca menyapa Welt ketika berjalan dan berdiri di persimpangan tersebut, di dalam dekapannya terdapat beberapa buku tebal.


"Mengapa kau bepergian jam segini, Bianca? Bukankah pengumuman tentang jam malam sudah disebar ke seluruh ibu kota?" tanya Welt kepada perempuan berambut cokelat kemerahan dan berseragam berwarna biru muda.


Bianca menundukkan kepalanya, "maaf, Yang Mulia," mengangkatnya kembali dan lanjut berkata, "direktur perpustakaan memberikan saya tugas untuk mengamankan beberapa dokumen, naskah, dan buku-buku penting lainnya yang ada di perpustakaan."


"Lalu buku apa yang sedang kau bawa?" tanya Welt, tampak cukup tertarik melihat beberapa buku tebal yang ada dalam dekapan Bianca.


"Buku-buku sejarah Negeri Zephyra, Yang Mulia." Bianca menjawab pertanyaan tersebut, dan menunjukkan buku-buku tersebut padanya.


Welt menerima salah satu dari keempat buku yang dibawa, membuka, dan membacanya. Halaman pertama buku tersebut berjudul 'Sejarah Perang Zephyra'. Ia dibuat terdiam, dan berpikir.

__ADS_1


__ADS_2