
Sore hari yang cerah, namun tetap saja dengan cuaca yang dingin. Kenan tampaknya baru saja sampai di istana setelah selesai dari Pelabuhan Ormos untuk membantu Ratu Caitlyn pendataan sumber daya makanan yang akan dimanfaatkan sepanjang musim dingin. Istana tidak terlalu ramai, seperti hari-hari biasanya yang selalu terlihat banyak penjaga yang berdiri di setiap sudut benteng istana, serta beberapa pelayan istana yang tampak sedang sibuk membersihkan serta merawat berbagai tanaman di halaman istana.
Setelah tugas mendampingi Ratu Caitlyn selesai, dan semuanya berjalan dengan baik tanpa adanya masalah. Kenan mendapat kesempatan untuk mengambil jam istirahat lebih awal dari biasanya--yang biasanya ia baru bisa beristirahat di malam hari itupun jika Altezza sudah memerintahkan dirinya untuk selesai dari tugasnya sebagai pengawal.
Istana yang sungguh besar dan luas, berada di atas sebuah bukit kecil yang terletak sedikit di pinggir ibu kota, dan dikelilingi oleh benteng-benteng besar tinggi menjulang yang membatasi serta memberikan jarak antara istana dengan rumah-rumah warga. Tata letak yang sungguh ideal untuk berdirinya sebuah istana, karena meskipun dekat dengan rumah-rumah masyarakat, mereka tetap memiliki jarak lebih dari dua ratus meter untuk bisa menyentuh benteng kokoh istana yang dijaga para kesatria di atasnya.
Kenan tampak menikmati waktu sore harinya di halaman sekitar istana, berjalan menyusuri benteng istana, dan merasakan suasana dingin di bawah salju yang masih turun perlahan. Pangeran kedua yakni Altezza masih belum kembali, Baginda Raja juga tidak sedang berada di istana, begitu pula dengan Pangeran Welt beserta istrinya, serta Ratu Caitlyn yang tampaknya masih memiliki kesibukan di luar istana. Keluarga kerajaan sedang tidak berada di istana, tentu menjadi hal yang sedikit lengang bagi salah satu kesatria terbaik kerajaan seperti dirinya untuk bisa berjalan-jalan sejenak, meskipun hanya berjalan di halaman istana saja.
"Kenan, apakah kau sedang luang?" cetus suara laki-laki yang berasal dari atas benteng istana, memanggil Kenan yang tengah berjalan di bawahnya untuk melihat-lihat beberapa bunga di sana.
Kenan mengangkat pandangannya, dan menatap ke arah sumber suara, "kalau memang iya kenapa?" sahutnya, melihat sosok yang tidak asing di kedua matanya.
"Naiklah!" pinta prajurit yang berdiri di atas benteng tersebut.
Kenan pun berjalan menuju ke sebuah anak tangga, dan kemudian naik ke atas benteng tersebut, menghampiri salah satu rekannya. Ia tersenyum lebar sembari menyapa, "apa kabar dirimu, Franz?" sembari menjabat salah satu tangan milik rekannya.
Prajurit pedang milik kerajaan itu turut tersenyum, menghela napas, dan kemudian menjawab, "tentu saja baik, bagaimana denganmu?"
Kenan mengangguk, "sama seperti mu."
"Hari yang indah?" lanjut Franz, memandangi perkotaan yang terselimuti oleh salju dengan aktivitas yang masih masif.
"Ya," jawab singkat Kenan, memandang ke arah yang sama. Namun pandangannya kembali menoleh dan menatap Franz dan bertanya, "ngomong-ngomong, bukankah seharusnya kau berjaga di pelabuhan?"
__ADS_1
Franz tersenyum lebar mendengar pertanyaan tersebut, "aku baru saja mendapat pemindahan tugas dari yang awalnya berjaga di Pelabuhan Ormos ke istana."
"Kesempatan yang berharga, dong! Apakah Baginda Raja yang melakukan pemindahan tugasmu?" sahut Kenan, sudah berdiri tepat di samping Franz.
Franz memandang ke arah pemandangan rumah-rumah di kota sebelum kemudian menggeleng dan menjawab, "Yang Mulia Ratu yang memindahkan ku," sembari tersenyum.
Kenan terlihat sangat senang dengan senyuman yang hampir selalu tersungging ketika bertemu dengan rekannya. Laki-laki berseragam kesatria kerajaan itu tampaknya sangat mengenal sosok prajurit bernama Franz.
"Tidak terasa, bukan? Padahal sudah lima tahun yang lalu kita lulus dari akademi, namun rasanya seperti baru kemarin," ucap Franz kemudian menoleh kepada Kenan yang berdiri di sampingnya.
Kenan melipat kedua lengannya di atas dada, tersenyum dan berkata, "kalau dipikir-pikir iya juga."
"Aku bangga padamu, Kenan! Hanya dalam waktu lima tahun, kau dipercaya oleh keluarga kerajaan, bahkan menjadi pengawal pribadi Yang Mulia Pangeran Altezza," cetus Franz, masih dengan tatapan hangat serta senyumannya kepada Kenan, menggambarkan sekali betapa bahagianya dirinya seperti bertemu dengan seorang sahabat yang sudah lama berpisah.
"Aku sendiri bahkan tidak memprediksi ataupun merencanakan hal ini akan terjadi padaku," sahut Kenan, tersenyum.
***
Malam yang sungguh tenang dan dingin. Salju tak lagi turun, namun pemandangan seisi kota dipenuhi oleh warna putih salju. Altezza baru saja mengantarkan Bianca untuk kembali ke asrama, setelah hari yang panjang dan menyenangkan. Ketika berhenti tepat di depan halaman asrama perempuan yang menjadi tempat tinggal Bianca. Pangeran muda itu turun dari kudanya, dan kemudian membantu perempuan itu turun.
Ketika berada di depan gerbang halaman, seorang wanita paruh baya dengan rambut panjang berwarna hitam, dan dengan pakaian hangat sederhana berwarna hijau tua tampak langsung menghampiri Bianca dan Altezza dari dalam asrama. Bianca tampak cukup terkejut melihat wanita paruh baya yang tampaknya adalah pengurus asrama, mengingat dirinya menghilang selama seharian karena bersama dengan Altezza.
"Yang Mulia?!" cetus wanita paruh baya itu, dan kemudian menundukkan kepalanya memberi hormat. Ia terlihat sungguh terkejut dengan kehadiran pangeran yang sangat jarang terjadi berdiri di depan asramanya.
__ADS_1
"Apakah anda pengurus asrama ini?" tanya Altezza, tersenyum ramah.
"Iya, Yang Mulia! Saya yang bertanggung jawab atas semuanya di asrama ini," sahut wanita paruh baya itu.
Setelah mendengar jawaban tersebut, Altezza tiba-tiba berbicara, "maaf bila Bianca pulang malam seperti ini, karena saya yang mengajaknya bepergian."
"Tidak masalah, Yang Mulia. Saya justru merasa lega karena telah mengetahui bahwa Bianca pergi bersama anda," sahut wanita paruh baya itu, sempat melirik santai kepada Bianca yang sudah berdiri di sampingnya.
Altezza hanya melempar senyum melihat ekspresi lega wanita paruh baya itu, sebelum kemudian menatap ke arah Bianca yang tampak hanya diam serta tersenyum dengan sendirinya, "ya sudah kalau begitu, saya pamit terlebih dahulu," ucapnya kembali menatap ke arah wanita paruh baya itu, sebelum kemudian beranjak kembali menunggangi kudanya, dan benar-benar pergi dari sana.
Bianca dan wanita pengurus asrama masih berdiri di depan gerbang asrama, hingga kuda putih milik pangeran itu tidak terlihat lagi, tenggelam di antara gelapnya jalan karena jauh dari pandangan mata.
"Maafkan aku karena pulang malam," ucap Bianca, merasa tidak enak hati kepada pengurus asrama yang terlihat sungguh mencemaskan dirinya.
Wanita paruh baya itu menghela napas lega, menatap Bianca dengan senyuman hangatnya, dan kemudian berkata, "syukurlah kalau ternyata kamu bersama Yang Mulia Pangeran."
"Ngomong-ngomong, bagaimana bisa kamu mengenal dan terlihat sangat dekat dengannya? Apakah ... kamu ... atau dia ...," ucap wanita paruh baya itu, tersenyum serta menatap curiga hingga membuat Bianca tersipu merona.
"Kumohon jangan membuat asumsi atau dugaan yang tidak-tidak!" sahut Bianca, menyembunyikan wajahnya yang merona itu dengan cara menunduk.
Wanita paruh baya itu kemudian tertawa melihat reaksi lucu dari Bianca, "sudahlah, mari masuk!" ucapnya kemudian bertanya, "apakah kamu sudah makan malam?"
"Sudah," jawab Bianca mengikuti langkah wanita itu.
__ADS_1
"Oh iya, sudah pasti kamu makan malam dengan Yang Mulia Pangeran, ya! Tidak seharusnya aku bertanya seperti itu," sahut wanita paruh baya itu dengan nada menyindir serta berusaha menggoda Bianca.
"Duh!" gusar Bianca, terkuat kesal. Namun lagi-lagi reaksi tersebut mengundang gelak tawa bagi wanita tersebut.