
Sepanjang hari Altezza menghabiskan waktunya di istana, mengerjakan beberapa tugas yang diberikan oleh ibundanya. Suasana istana hari ini sangatlah ramai, banyak sekali pelayan serta pekerja yang bekerja di istana, disibukkan dengan pekerjaan mereka untuk membantu mempercantik dekorasi pesta. Suasana hati laki-laki itu tampaknya sedang baik, bahkan mungkin sangat baik, terlihat dari ekspresinya yang terlihat bersemangat serta antusias ketika mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh Ratu. Kenan hanya tersenyum, dan turut merasa senang, selalu mendampingi ke manapun langkah Altezza pergi.
Setelah memastikan bahwa semua tugas yang dikerjakan berjalan dengan baik, dan memastikan bahwa semua persiapan juga berjalan dengan baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Menjelang sore hari, Ratu Caitlyn memanggil dan mengajak bertemu putra bungsunya di halaman belakang istana, duduk di sebuah bangku taman yang ada di bawah sebuah pohon.
Altezza baru saja datang bersama dengan Kenan, dan melihat dari kejauhan ibundanya sedang asyik bermain dengan Shiro di sana, "kalian akrab sekali, ya?" ucapnya, kemudian duduk tepat di sebelah Caitlyn. Sedangkan Shiro kembali terbang dengan suara-suara nyaringnya, berputar beberapa kali di atas mereka berdua, sebelum akhirnya benar-benar terbang pergi menuju ke pepohonan di belakang istana.
"Shiro memang tidak bisa diam, ya?" ucap Caitlyn, pandangannya mengarah ke pepohonan di belakang istana, melihat beberapa kali elang putih itu terbang dengan lincah di antara ranting serta dedaunan pohon.
Altezza tertawa kecil dan tersenyum, "dia memang seperti itu kalau ada teman bermain," ucapnya.
Caitlyn kemudian menoleh kepada Kenan yang berdiri di sebelah bangku, tersenyum hangat padanya dan berkata, "Kenan, kamu bisa istirahat terlebih dahulu sekarang ...! Aku ingin berbicara santai dengan Altezza."
Kenan menundukkan kepalanya dan menjawab, "baik, Yang Mulia. Saya izin meninggalkan tempat," jawabnya kemudian beranjak pergi dari sana.
Langit perlahan berubah menjadi warna jingganya, sangat cerah dan indah dilihat. Banyak sekali burung-burung beterbangan untuk kembali ke sarang mereka. Di sore ini Caitlyn terlihat memiliki waktu luang, dan ia ingin menghabiskan waktunya bersama dengan putra bungsunya. Selain Altezza, tidak ada lagi, karena Raja Aiden dan putra pertamanya sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Sepanjang hari ini ibu dengar-dengar ada perempuan yang datang ke istana dan bertemu denganmu, apakah itu benar?" tanya Caitlyn, menoleh dan menatap putranya dengan tatapan lembut.
Altezza mengangguk menjawab, "iya, benar, namanya Bianca."
"Sejak kapan kamu berkenalan dengannya? Ibu tidak pernah tahu kalau kamu bisa seakrab itu dengan perempuan, apalagi dia gadis yang manis." Caitlyn berbicara dengan tatapan penasaran kepada putranya, dengan senyuman yang tidak pudar dari paras cantiknya.
"Ibu tahu dari mana?" sahut Altezza menatap bingung ibundanya ketika mendengar kata-kata terakhir pada kalimat yang dikatakan oleh ibundanya.
Caitlyn tersenyum tipis dan berkata, "apa sih yang tidak ibu ketahui di istana ini?"
__ADS_1
Altezza pun menjawab pertanyaan Caitlyn sebelumnya, dan sedikit bercerita mengenai pertemuannya dengan Bianca. Ia juga bercerita tentang kedekatannya dengan perempuan tersebut, serta memberitahu ibundanya bahwa gadis bernama Bianca itu akan menjadi pasangannya di dansa besok.
Caitlyn terlihat senang mendengar hal tersebut, terlebih setelah mendengar semua cerita yang dikatakan oleh Altezza soal keakrabannya dengan gadis bernama Bianca. Pertemuan pangeran kedua dengan perempuan bernama Bianca di halaman depan istana telah menjadi trending topik di istana, dan akhirnya sampai di telinganya. Tentu hal tersebut membuatnya tertarik untuk mengetahui hubungan mereka berdua.
"Apakah dia pernah berdansa sebelumnya, atau memiliki pengalaman dansa?" tanya Caitlyn, setelah mendengar semua cerita dari putranya.
Altezza menggelengkan kepala menjawab, "aku tidak tahu, tetapi sepertinya dia belum pernah berdansa sama sekali. Apakah tidak apa-apa?" lanjutnya, kemudian menoleh kepada ibundanya dan bertanya.
"Tentu saja tidak apa, apakah kamu sudah bilang padanya untuk hadir di istana nanti malam?" sahut Caitlyn, tersenyum lembut pada putranya.
"Sudah, dia akan datang setelah makan malam," jawab Altezza.
"Bagus, nanti kita bisa berlatih terlebih dahulu, sekalian gladi bersih untuk hari esok," sahut Caitlyn, kemudian merangkul putranya.
Beberapa kali Caitlyn dibuat tertawa, dan sulit untuk pudar dari senyumannya, apalagi ketika melihat putranya tengah asyik bermain dengan elang berwarna putih itu. Mereka terlihat seolah sedang beradu ilmu sihir.
***
Makan malam pun tiba, dan seperti biasa Altezza menghadiri makan malam dengan keluarga tercintanya. Hadir di kursinya yang berada di ujung meja makan, seorang Raja dari Kerajaan Zephyra yaitu Raja Aiden. Namun di momen makan malam yang selalu dilakukan ini, pria itu tidak menggunakan mahkota serta jubah raja berwarna merah, ia hadir di sana sebagai seorang ayah bukan seorang Raja. Begitu pula dengan Ratu Caitlyn yang duduk tepat di sebelah Aiden, dan hanya mengenakan pakaian santai tanpa mahkota Ratu miliknya.
Welt dan Clara juga hadir, duduk bersampingan, dan bersebrangan dengannya duduklah Altezza yang bersampingan dengan pengawal setianya yaitu Kenan. Secara garis keturunan, Kenan memang bukan bagian dari anggota keluarga mereka, namun Altezza dan keluarganya selalu mengajak makan malam dirinya bersama. Altezza dan keluarganya seolah sudah menganggap Kenan sebagai salah satu dari anggota keluarga mereka.
Makan malam berlangsung dengan sangat harmonis dan asyik, bukan karena menu makanannya yang enak, melainkan karena tawa dan canda di antara makan malam yang mereka lakukan. Perbincangan mereka sangat santai, bahkan jauh dari kata formal. Kenan juga terlihat asyik serta menikmati waktunya dengan keluarga kerajaan yang sangat terbuka serta menerima kehadirannya.
Raja Aiden juga terlihat jauh dari kata formal, dan jauh dari gelarnya sebagai seorang Raja. Sikap bicaranya, serta intonasi dan pemilihan kosa katanya, semuanya santai bahkan terlihat beberapa kali ia mencetuskan topik-topik yang memancing gelak tawa putra-putrinya dan juga istrinya.
__ADS_1
"Kenan, bagaimana harimu hari ini? Apakah Altezza merepotkan?" tanya Aiden, menoleh dan tersenyum kepada Kenan yang duduk tepat di sebelah Altezza yang terlihat menikmati makanannya.
"Sangat baik, Yang Mulia. Beliau juga tidak merepotkan bagi saya," jawab Kenan tersenyum senang, meskipun makan malam ini bukanlah acara formal bahkan mereka tidak membawa-bawa gelar mereka ketika makan malam. Namun tetap saja, laki-laki itu sulit untuk berbicara non-formal kepada mereka, apalagi kepada seorang Raja.
"Oh iya, Altezza! Ku dengar kamu telah memilih pasangan untuk besok, apakah itu benar?" cetus Clara, menatap adik iparnya dengan tatapan penasaran.
"Apakah itu benar?!" sahut Aiden, terlihat baru mengetahui hal tersebut dari menantunya.
"Iya, Ayah! Bahkan itu menjadi topik pembicaraan satu istana, semuanya membicarakannya," sahut Welt, kemudian melirik adiknya yang duduk tepat berhadapan dengannya, dan tersenyum tipis padanya.
"Kalau begitu mengapa kamu tidak mengundangnya sekalian untuk makan malam bersama kita?" sahut Aiden, setelah menatap Welt, tatapannya berpindah kepada Altezza.
"Maaf, aku tidak kepikiran," jawab Altezza, selesai dengan sepotong daging steak miliknya, dan kemudian lanjut berkata, "tetapi dia sedang sibuk dengan pekerjaannya, jadi sepertinya tidak bisa bergabung dengan kita di sini."
Clara tiba-tiba saja memajukan kepalanya, menatap penasaran Altezza dan bertanya, "apa pekerjaannya?"
Altezza menatap Clara dan menjawab, "petugas perpustakaan."
"Hmm, pasti dia cantik sekali, ya? Hingga menarik perhatianmu," sahut Clara sembari menopang dagunya dengan salah satu tangannya, melirik sinis dan tajam Altezza, dan tersenyum pada adik iparnya.
Pernyataan tersebut didukung langsung oleh Welt yang tiba-tiba saja berkata, "sepengetahuan ku, ada seorang gadis yang bekerja sebagai petugas perpustakaan, dan dia cukup populer di kalangan para pengunjung laki-laki," ucapnya, menatap tajam Altezza dan kemudian bertanya, "apakah dia?"
Altezza tidak menjawab, hanya diam dengan pandangan sedikit tertunduk. Pembicaraan tersebut kemudian disela oleh Caitlyn yang tertawa kecil dan tersenyum ketika menyadari wajah tampan putra bungsunya yang perlahan merona, "sudah, sudah ...! Lihatlah wajah adikmu, sudah merah, tuh!" ucapnya, kemudian tertawa kecil dengan salah satu tangan menutup bibir merah mudanya.
Semuanya kemudian tertawa, sedangkan Altezza hanya menghela napas saja. Kenan yang duduk di sebelahnya juga ikut tertawa melihat pangerannya tak bicara dengan kedua pipi sedikit memerah. Suasana perlahan cair, dan kemudian kembali hangat. Perbincangan terus berlangsung sembari menikmati menu makan malam yang sangat enak.
__ADS_1