
Berjalan di tengah lebatnya badai salju, Aurora terus melangkah membelah lautan salju yang menumpuk sangat tebal. Tubuhnya bisa saja dengan mudah terkubur oleh lebatnya salju yang tidak pernah berhenti menerpa. Beruntung sekali ia bersama tupai ajaib yang selalu hinggap di atas pundak kanannya. Entah apa yang dilakukan oleh tupai putih itu, sebuah gelembung transparan muncul dan melindungi tubuh Aurora ketika berjalan, sehingga gadis berambut putih itu dapat dengan mudah berjalan di tengah badai salju yang sangat ganas.
"Hei, kita sudah bersama lebih dari 24 jam, tetapi aku belum mengetahui siapa namamu?" tanya Aurora, sembari terus melangkah, membuka tumpukan salju setinggi perut yang ada di sepanjang jalan depannya.
Tupai yang tampaknya asyik bersembunyi di balik rambut putih Aurora itu kembali menampakkan diri, berjalan dengan langkah kecilnya di atas pundak Aurora dan menjawab, "aku adalah bagian dari dirimu, Aurora. Jadi aku tidak memiliki nama, atau ... bisa juga ... namamu adalah namaku, atau sebaliknya."
"Namamu adalah namaku, atau sebaliknya ...?" gumam Aurora tampak bingung, namun tidak menghentikan langkahnya.
Tupai itu dengan santainya tertawa dengan suara kecil yang menggemaskan, "tidak usah dipikirkan, Aurora! Semakin dipikirkan semakin membuatmu berpikir."
"Atau ... mungkin ... kamu bisa memberiku nama panggilan agar mempermudah komunikasi kita?" lanjut tupai itu, memandang wajah cantik Aurora dari samping dan tampak besar--karena tubuhnya yang mungil.
"Hmm," Aurora bergumam, berpikir, memikirkan nama apa yang cocok untuk si tupai. Ia sempat menoleh, menatap tupai berbulu putih itu. Tubuhnya mungil, kecil, dan tampak lucu serta menggemaskan sekali.
"Kamu itu jantan atau betina?" cetus Aurora, menghentikan langkahnya sejenak, menoleh dan melirik tupai yang berdiri di atas pundak kanannya.
"Tidak perlu bertanya seharusnya kamu tahu, Aurora. Aku adalah bagian dari dirimu, jadi menurutmu aku ini apa?" sahut tupai itu dengan intonasi serta ekspresi tampak sedikit kesal--tetapi justru tampak sangat menggemaskan.
Aurora tertawa kecil mendengar serta melihat ekspresi kesal tersebut. Ia kembali lanjut berjalan di tengah-tengah badai salju yang sangat amat mengganas itu, sembari menentukan nama yang cocok untuk si tupai yang bersamanya.
Sepanjang langkahnya membelah salju-salju tebal yang menutupi jalannya, Aurora masih belum menemukan nama yang cocok untuk si tupai berwarna putih itu. Bukan karena dirinya tidak memiliki ide untuk nama, akan tetapi justru di dalam kepalanya terlalu banyak ide nama menggemaskan yang sulit untuk ia pilih.
"Lala? Nunu? Ruru? Yui?" ucap Aurora menyebutkan keempat nama yang menarik baginya, "bagaimana menurutmu? Kamu suka yang mana?"
Tupai itu tampak tersenyum senang, melangkah kecil dan berdiri di atas lengan kanan milik Aurora sembari berkata, "terserah kamu, Aurora. Kamu yang menentukan!"
__ADS_1
"Baiklah!" seru Aurora tersenyum lebar, "kamu aku namai Ruru saja! Aku merasa Ruru adalah nama yang cocok untukmu, karena kamu sangat menggemaskan!" lanjutnya, sudah menentukan nama untuk si tupai.
"Ruru? Tidak buruk!" sahut Ruru memasang senyuman kecil pada wajah mungilnya.
***
Benua Tengah. Beberapa utusan dari Kerajaan Victoria dan Kerajaan Lagarde berkumpul di Kerajaan Zephyra, atau lebih tepatnya di Istana Zephyra, ibu kota kerajaan. Di pertemuan yang dilaksanakan petang hari dihadiri oleh Ratu Victoria bersama Pangeran Azura, dan Ratu Freya bersama dengan Pangeran Xavier. Mereka berempat juga datang dengan membawa pasukan yang kurang lebih seribu orang. Pasukan dengan seragam serta ciri-ciri yang berbeda itu disebarkan serta disuruh berjaga di wilayah Selatan dari luar ibu kota.
Raja Aiden bersama Ratu Caitlyn dan Pangeran Welt, berkumpul dengan keempat orang penting dari kerajaan sahabat di dalam ruang pertemuan yang sangat amat luas dan megah. Di tengah ruangan tersebut terdapat meja bundar yang sangat amat besar dan lebar.
"Seperti apa Pasukan Kegelapan itu?" tanya Ratu Victoria kepada Raja Aiden dan Ratu Caitlyn yang duduk sekitar tiga meter di hadapannya.
"Mereka membawa panji-panji hitam, semuanya serba hitam. Tidak hanya dari Bangsa Iblis, namun mereka juga membawa prajurit-prajurit manusia." Raja Aiden menjawab pertanyaan tersebut berdasarkan pemantauan dari banyak matanya yang sudah terpasang di beberapa titik perbatasan selatan.
"Kurang lebih seperti itu, karena tidak ada lagi kerajaan selain Kerajaan Mystick yang berdiri serta berkuasa di Benua Selatan," sahut Raja Aiden kembali menjawab kebingungan tersebut.
Ratu Freya juga tampak bingung, begitu pula dengan Pangeran Xavier yang duduk di sebelahnya. Laki-laki tampan berambut pirang bermata biru itu tampak bersandar pada kursinya, dan melipat kedua lengannya sembari bertanya-tanya, "apakah ini ada hubungannya dengan permasalahan internal dari Kerajaan Mystick yang tidak kita ketahui?"
"Aku rasa ... aku sependapat denganmu, Xavier." Azura mendukung asumsi dari Xavier yang menerka-nerka hal tersebut.
"Tetapi apakah permasalahan mereka juga melibatkan para iblis itu?" tanya Ratu Caitlyn, bingung.
"Kemungkinan besar seperti itu, Caitlyn. Semuanya sudah jelas dengan pergerakan pasukan mereka yang mulai memasuki perbatasan selatan Tanah Zephyra." Ratu Freya dengan sikap tenangnya berbicara menanggapi apa yang dikatakan oleh Ratu Caitlyn.
"Apa yang dipikirkan oleh Raja Aarav?" gumam Raja Aiden, mengerutkan dahinya, melipat kedua lengannya dan bersandar pada kursinya.
__ADS_1
"Maaf, tetapi sepertinya bukan beliau," sahut Pangeran Xavier, menyangkal apa yang diucapkan oleh Raja Aiden sembari lanjut berkata, "kalau boleh menuduh, maka mungkin aku akan lebih menuduh Pangeran Asta sebagai tersangka dari permasalahan ini."
Semua mata kini langsung tertuju kepada Xavier, termasuk Azura yang tampak sepemikiran dengannya. Laki-laki bernama Xavier itupun mulai menjelaskannya berdasarkan apa yang ia lihat serta ketahui soal Asta.
"Dari kecil ketika ada kompetisi antar kerajaan yang dihadiri oleh aku, Azura, Cedric, dan Altezza. Pangeran Asta hampir selalu tidak menampakkan dirinya. Sekalinya dia menunjukkan diri, selalu membawa aura yang tidak sedap, rata-rata membawa suasana gelap yang mengerikan."
"Berkaca dari pesta dansa yang diadakan Zephyra akhir tahun kemarin, Pangeran Asta rupanya sempat menempelkan sihir kutukan kepada perempuan yang bersama Altezza yaitu Bianca. Altezza sendiri yang sempat bercerita kepadaku melalui surat setelah pesta kembang api di tengah malam itu selesai," lanjut Xavier, mengingat-ingat sejenak memori soal pesta tersebut.
Ratu Caitlyn tampak tidak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh Xavier, "apakah kau benar-benar yakin dengan apa yang kau katakan?"
"Iya, dari dahulu pun Asta tidak pernah lepas dari gerak-gerik mencurigakannya, seperti bukan manusia biasa," sahut Xavier.
"Aku sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Xavier," timpal Azura.
Situasi lengang sejenak, hening untuk beberapa saat. Semuanya sama-sama berenang di dalam benak mereka yang dipenuhi dengan berbagai macam asumsi. Akan tetaoi, ancaman nyata di depan mata, dan tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja.
"Baiklah, apa keputusan Zephyra, Aiden?" tanya Ratu Freya, menatap Raja Aiden dengan kedua mata birunya.
"Zephyra akan menindak tegas segala bentuk pelanggaran yang telah dilakukan oleh Kerajaan Mystick, terlebih mereka telah menggerakkan pasukan ke Tanah Zephyra tanpa izin. Dengan begitu, kami akan menanggapi pernyataan perang dari Pasukan Kegelapan." Raja Aiden berbicara dengan penuh kewibawaan serta ketegasan, dan mengambil keputusan.
"Lagarde akan masuk bersama Zephyra," ujar wanita berambut pirang yakni Ratu Freya, kemudian menoleh menatap Ratu Victoria.
Wanita cantik berambut pirang itu menatap kedua mata Ratu Freya dan mengangguk, "Victoria juga akan turut ikut serta!" ujarnya, berpindah menatap kepada Raja Aiden.
"Setelah ini akan ku hubungi Flowring, Arandelle, dan Neverley mengenai hal ini," ujar Raja Aiden, juga berniat menyatukan tiga kerajaan lain yang berada di luar dari Benua Tengah untuk membantu.
__ADS_1