Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Pengetahuan Dasar Sihir Angin #50


__ADS_3

Angin yang membawa api biru tersebut berkeliling di sekitarnya, seketika menyebar dan berhembus kencang dari belakangnya mengarah ke arah siswa berseragam putih itu. Tanpa merapal mantra, pangeran itu mengendalikan angin miliknya yang perlahan dibuat mengganas, bertiup sangat kencang bercampur dengan elemen api di lapangan tersebut.


"Sial!" Ray tidak siap dengan serangan tersebut, sempat membuat sebuah pelindung dari elemen air, dan tabrakan antara air dan api sempat terjadi. Namun sayangnya elemen air miliknya berhasil ditembus oleh sebuah angin yang berhembus kencang dan tajam layaknya tombak, sebelum kemudian disusul oleh hembusan api berwarna biru yang berusaha untuk menabrak dirinya.


Tidak bisa berbuat apa-apa lagi, merapalkan mantra pun juga tidak akan sempat. Ray hanya bisa diam pasrah menatap api berwarna biru yang awalnya dapat ia kendalikan, sekarang berbalik menyerang dirinya sendiri layaknya senjata makan tuan. Akan tetapi, tepat sebelum api tersebut menghantam tubuhnya, sebuah pusaran angin tiba-tiba saja muncul mengelilingi dirinya dan melindunginya dari api yang kemudian menghantam serta menciptakan sebuah ledakan yang cukup besar.


"Apa yang ... terjadi ...?" gumam siswa-siswi yang menyaksikan. Mereka bingung karena lapangan itu diselimuti oleh asap tebal berwarna hitam tepat setelah sebuah ledakan berwarna biru terjadi.


Penghalang angin yang sebelumnya ada mengelilingi tepi lapangan, secara perlahan menghilang dan kembali netral, disusul oleh hembusan angin yang cukup kencang menyapu asap tebal tersebut hingga membuatnya terurai.


Terlihat sosok siswa berseragam putih yang hanya bisa terduduk di tanah, dengan sebuah pelindung angin yang masih ada mengelilingi tubuhnya. Ia tidak terluka karena dilindungi oleh pelindung tersebut. Sedangkan Altezza masih berdiri di sana, di posisinya yang dari awal tidak berubah atau beranjak sedikitpun.


Situasi para siswa-siswi yang menonton sempat hening, menatap kagum atas apa yang baru saja mereka saksikan di lapangan belakang akademi.


"Duel dinyatakan selesai, dan Yang Mulia Pangeran Kedua Altezza keluar sebagai pemenang!" seru instruktur wanita yang kemudian berjalan serta berdiri di tengah-tengah lapangan.


Sorak-sorai para siswa-siswi langsung terdengar setelah instruktur menyatakan duel telah selesai, dan menjadikan Altezza sebagai pemenang. Namun suara yang paling mendominasi adalah suara dari para siswi yang seolah tidak lelah untuk meneriaki pangeran muda itu. Welt dan tiga sahabatnya hanya tertawa kecil dan tersenyum menyaksikan duel yang sangat mengesankan.


"Keren!!!"


"Yang Mulia keren sekali!"

__ADS_1


Tidak mempedulikan semua sorak-sorai yang terdengar. Altezza berjalan mendekati siswa peringkat dua akademi dengan tenang. Ia tidak berekspresi, tidak terlihat senang meskipun dirinya menang. Sedangkan Ray terlihat kecewa dengan hasil dari pertandingan yang menyatakan dirinya kalah, namun dalam hatinya merasa wajar.


"Saya kalah, Yang Mulia." Ray berbicara, dan tersenyum kecil meskipun dalam hatinya dirinya tetap kecewa menerima kekalahan tersebut.


Altezza tersenyum tipis berbicara, "masih banyak hal yang bisa membuatmu berkembang lebih dari ini," kemudian mengulurkan tangannya.


Ray sedikit terkejut dengan sikap pangeran itu yang terlihat sangat menghargai lawannya. Ia meraih uluran tangan dari Altezza yang kemudian membantunya untuk kembali berdiri.


"Mengapa anda menciptakan pelindung angin itu untuk saya?" tanya Ray kemudian.


Dengan santainya Altezza hanya menjawab, "aku tidak ingin membuatmu terpanggang."


Altezza hanya mengangguk, tersenyum dan berkata, "aku juga berterima kasih, karena sudah lama sekali aku tidak merasakan atmosfer berduel dengan ahli sihir kerajaan."


***


Selesai dengan uji coba atau duel tersebut. Altezza dan Welt berjalan bersama ketiga sahabatnya, mengajak mereka bertiga berkeliling akademi. Banyak sisi dari akademi tersebut yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Tidak hanya kelas untuk pembelajaran teori, namun lapangan baik di dalam ruangan dan juga luar ruangan juga ada. Kantor-kantor para guru akademi, aula utama, kantin, gudang persenjataan, perpustakaan kecil, taman tengah dan samping, menara, dan masih banyak lagi bagian dari akademi yang menarik untuk dikunjungi.


Altezza dan Welt mengajak tiga tamu terhormat mereka untuk mengunjungi sebuah aula latihan atau lapangan yang berada di dalam ruangan. Waktu telah memasuki jam berlatih bagi para siswa-siswi kelas dasar yang akan dilaksanakan di aula tersebut.


Di dalam aula yang sangat luas, tak kalah luas dari lapangan belakang akademi. Para siswa-siswi kelas dasar tengah menjalani pelatihan pengendalian sihir angin. Kerajaan Zephyra terkenal dengan sihir anginnya, dan hal tersebut yang membuat Azura serta kedua sahabatnya yakni Cedric dan Xavier menyempatkan diri untuk mengunjungi akademi.

__ADS_1


"Elemen angin memiliki sifat seperti elemen api, sulit untuk dikendalikan, namun memiliki tetap perbedaan. Angin identik sekali dengan kebebasan dengan tingkat kesulitan lebih tinggi daripada elemen-elemen dasar lainnya, dan hal tersebut membuat sedikitnya orang-orang yang bisa mahir mengendalikannya." Seorang instruktur atau guru berseragam penyihir kerajaan berwarna hijau muda tampak sedang menerangkan di depan para muridnya, sebelum kemudian guru tersebut mendemonstrasikan sihir angin dasar di depan para muridnya.


Azura terlihat antusias menyaksikan bagaimana sihir angin itu bekerja, begitu pula Cedric dan Xavier. Welt berperan sebagai pemandu mereka bertiga, berjalan perlahan mendekati barisan balik belakang murid-murid itu, hingga berhasil membuat terkejut sang instruktur, apalagi dengan hadirnya Altezza di sana. Murid-murid kelas dasar terlihat antusias dan bersemangat dalam belajar, hingga mereka yang berjumlah lebih dari 20 siswa-siswi itu tidak ada yang menyadari kehadiran orang-orang penting yang kini berdiri di barisan paling belakang mereka.


Tanpa melepas profesionalitasnya dalam mengajar, guru laki-laki itu terus melanjutkan mata pelajarannya, meskipun beberapa kali ia terlihat gugup karena harus mendemonstrasikan sihir angin di depan seorang pangeran yang sangat ahli dalam sihir tersebut.


"Seperti sihir dengan elemen-elemen lain, sihir angin juga bisa digunakan untuk memperkuat persenjataan, melapisi busur serta anak panah, mata pedang, dan mata tombak. Keunggulan peningkatan menggunakan elemen angin akan menambah tingkat akurasi, kecepatan, ketangkasan, dan ketajaman dari senjata-senjata tersebut."


"Selain itu, sihir ini juga bisa kita gunakan untuk menciptakan pelindung serta penghalang."


Guru laki-laki itu terus menjelaskan mata pelajarannya mengenai sihir angin, sembari memainkan sebuah pusaran angin kecil yang berada di telapak tangan kanannya.


"Apakah juga bisa digunakan dalam pertarungan?" cetus anak laki-laki dengan mengangkat satu tangannya, berdiri di antara barisan murid-murid itu.


"Tentu saja! Apalagi angin atau udara memiliki keunggulan untuk dapat beradaptasi serta bereaksi dengan banyak elemen lain, beberapa di antaranya adalah air, api, dan tanah."


"Bagaimana cara bisa menguasainya?!" sahut seorang siswi dengan mengangkat satu tangannya juga, berdiri di antara barisan murid-murid itu.


"Buka buku kalian tentang sihir angin, di sana sudah dijelaskan tata cara menggunakan serta mengendalikan sihirnya."


"Kunci dari pengendalian sihir angin adalah ketenangan hati serta pikiran sang pengguna, ini penting! Karena jika si pengguna memiliki ketenangan yang luar biasa, maka dia akan dapat mengendalikan sihir tersebut dengan mudah."

__ADS_1


__ADS_2