Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Pengirim Surat #85


__ADS_3

Elang berwarna putih itu mendarat dan hinggap tepat di atas lengan kanan milik Altezza. Liam sempat terkejut di awal, ketika menyaksikan elang dewasa berukuran besar itu hinggap di tangan milik Altezza. Namun perlahan pria itu dibuat kagum dan tercengang, karena ternyata hewan karnivora pemuncak rantai makanan itu terlihat jinak ketika berada di dekat Altezza.


"Tenang saja, dia tidak ganas dan berbahaya," ucap Altezza, kemudian beranjak ke teras samping rumah, dan duduk di atas lantai kayu rumah tersebut.


Shiro Altezza turunkan dan biarkan berdiri di atas lantai kayu itu, sedangkan dirinya mencari secarik surat dan pena untuk membuat sebuah surat. Ketika dirinya hendak pergi dan mencari barang barang yang diperlukan, Liam yang mengajukan diri dan menyuruhnya untuk menunggu saja dengan tatapan takutnya melihat seekor elang raksasa yang kini mampir ke rumahnya.


"Maaf kalau merepotkan," ucap Altezza, terlihat tidak enak hati.


"Ti-tidak apa, kau tunggu di sini saja bersama peliharaan mu," ucap Liam, sebelum kemudian beranjak pergi.


Tak membutuhkan waktu lama, Liam kembali dengan membawa secarik kertas dan pena dari sebuah bulu putih yang cukup besar beserta tinta hitamnya. Altezza segera mengambil pena tersebut, sedikit mencelupkannya pada tinta hitam yang ada di sebuah cangkir kecil, dan kemudian mulai menuliskan kalimat yang ingin ia sampaikan kepada pihak Kerajaan Lagarde.


Selama Altezza menulis surat, pandangan serta perhatian Liam terus melirik dan melihat ke arah elang putih yang tampak berdiri manis diam di samping Altezza.


"Siapa namanya?" tanya Liam penasaran, meski terlihat sedikit ketakutan dengan sosok elang tersebut, takut jika predator raksasa itu tiba-tiba saja bertindak liar.


Altezza tersenyum dan menjawab, "namanya adalah Shiro."


"Jantan atau betina?" tanya Liam kembali.


"Dia adalah elang jantan," jawab Altezza kembali, menghentikan sejenak menulisnya, sebelum kemudian lanjut kembali setelah memberikan jawabannya.


"Papa, kamu di man--"

__ADS_1


Terdengar suara Aria yang berjalan dengan riangnya dari ruang tamu, mencari ayahnya yang sedang duduk bersama Altezza di teras samping rumah. Anak perempuan itu terdiam dan terkejut ketika melihat adanya seekor elang berwarna putih yang tampak sedang ikut duduk bersama dua laki-laki itu.


"Itu apa ...?" tanya Aria dengan polosnya, rasa penasarannya terlihat sangat tinggi. Ketika ia berjalan mendekati Liam, perhatian Aria tak bisa lepas dari Shiro yang hanya diam manis di samping Altezza yang tengah menulis.


"Oh iya, kamu belum pernah melihat elang secara langsung, ya?" ujar Liam, duduk bersila, dan kemudian memangku putri bungsunya.


"Besar banget!" cetus Aria, menatap kagum dan terkesima oleh betapa gagahnya sosok elang putih bernama Shiro itu. Seperti mengerti dirinya sedang diperhatikan dan mendapatkan pujian, Shiro tiba-tiba saja menoleh, menatap Aria dan kemudian mengembangkan kedua sayapnya yang berukuran sangat besar, bahkan saking besarnya mungkin tubuh kecil Aria bisa dengan mudah tertutupi oleh kedua sayap tersebut.


Melihat reaksi tersebut, Aria semakin riang. Gadis kecil itu menatap kepada Altezza dan bertanya, "apakah aku bisa menyentuhnya?"


Perhatian Altezza terhenti sejenak untuk menatap kertas dan tulisannya yang belum selesai. Ia menatap kepada Aria dan menjawab, "tentu saja, kamu mau menyentuhnya?"


"Sini ...!" pinta Altezza, mengulurkan satu tangannya untuk meraih Aria, "Shiro tidak nakal, kok!" lanjutnya.


"Shiro? Shiro! Hai, Shiro!" Aria perlahan mendekat, ia melangkah semakin dekat kepada Altezza, dan kemudian salah satu tangannya perlahan meraih tubuh Shiro. Liam yang melihat tampak sangat khawatir, namun perasaan khawatir tersebut tertimbun oleh perasaan lega ketika melihat reaksi Shiro yang terlihat sangat jinak.


"Shiro lucu!" seru Aria kemudian disusul oleh tawa riangnya, masih asyik mengelus Shiro dengan salah satu tangannya.


Tak menunjukkan layaknya predator pemuncak rantai makanan, Shiro justru bertingkah manja bahkan hingga mendengkur layaknya seekor kucing ketika mendapatkan belaian dari majikannya. Hal tersebut tentu menarik perhatian Aria, dan Liam yang melihatnya. Tak hanya mereka berdua, namun ternyata diam-diam Iris melihat dari ruang tamu ketika membereskan beberapa piring di sana.


"Kakak, lihat! Aria bermain dengan burung raksasa!" cetus Aria ketika melihat kehadiran Iris yang datang menghampiri. Iris hanya tertawa kecil, dan berakhir dengan senyuman, melihat adiknya tampak sangat senang ketika bisa dekat dengan elang berwarna putih itu.


Selesai menulis surat, Altezza mengambil Shiro yang kemudian hinggap di atas lengan kanannya. Ia memberikan surat yang dilipat menjadi segi panjang itu, dan digigit oleh Shiro menggunakan paruhnya yang kuat. Meski digigit menggunakan paruhnya yang termasuk paruh burung tertajam, Shiro tak terlihat melubangi kertas surat yang ia bawa dan sengaja menurunkan kekuatan paruhnya.

__ADS_1


Altezza beranjak sedikit menjauh dari teras rumah, kembali ke halaman samping rumah. Laki-laki itu sempat berbicara, "kau tahu letak dari Istana Kerajaan Lagarde, bukan? Terbanglah cepat ke sana, dan berikan surat ini kepada pangeran di istana tersebut, satu-satunya pangeran Kerajaan Lagarde."


Shiro terlihat sedikit mengangguk dengan menatap Altezza, sebelum kemudian melebarkan kedua sayapnya yang berukuran besar, dan mengepakkan. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja, elang berwarna putih itu sudah terbang tinggi ke angkasa dengan membawa surat tersebut.


"Apakah dia tidak akan tersasar?" tanya Iris berdiri di samping Altezza, dan terlihat sedikit menaruh rasa cemas ketika melihat Shiro yang sudah sangat mengecil karena sudah terbang sangat jauh.


Altezza tersenyum yakin, "dia bisa diandalkan, tenang saja!"


Di saat yang bersamaan Olivia datang dengan wajah kebingungan melihat keempat orang itu berkumpul di teras samping rumahnya, "kalian sedang ngapain? Apakah ada yang seru-seru?" tanyanya.


"Mengirim surat," jawab singkat Liam, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.


"Surat? Bagaimana caranya? Kalian saja hanya berdiam di sini," sahut Olivia, berdiri di atas lantai kayu dan teras samping rumah, dan berkacak pinggang.


"Pakai elang," jawab singkat Iris, ikut masuk ke dalam rumah.


"Elang ...?" Olivia mengerutkan dahinya, terlihat benar-benar heran dan bingung.


"Iya! Dia sudah terbang sangat tinggi!!" timpal Aria tersenyum riang, membentangkan kedua tangannya, dan kemudian berlari kecil menuju ke ruang tamu dengan menirukan gerak-gerik seperti mengepakkan sayap.


Altezza tertawa kecil, apalagi melihat Olivia tampak kebingungan dengan maksud dari semua perkataan tersebut. Wanita paruh baya itu menghela napas, sebelum kemudian berkata kepadanya, "Nak Altezza, sebentar lagi malam, kamu menginap di sini malam ini, ya ...!?" ucapnya.


"Maaf, sepertinya akan lebih merepotkan jika seperti itu," jawab Altezza, tentu sangat sungkan dengan tawaran tersebut.

__ADS_1


"Sudahlah, aku sudah mempersiapkan kamar untukmu! Ada kamar tamu di bangunan belakang rumah, tenang saja ...! Kamu bisa berisitirahat di sana," sahut Olivia, kemudian mengajak Altezza masuk ke dalam karena sebentar lagi akan memasuki waktu makan malam.


Altezza tak menolak tawaran yang sudah dengan sangat baik diberikan kepada dirinya, ia tersenyum dan mengucap, "terima kasih."


__ADS_2