Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Taktik Klise #162


__ADS_3

Masih di malam yang sama, lonceng tengah malam telah berdentang, memecah kesunyian malam ibu kota. Dentang lonceng tersebut juga menjadi pertanda akan cuaca buruk yang perlahan mendekat dari arah Selatan. Awan-awan di sana terlihat sangat pekat di antara langit malam, dan berkali-kali memperlihatkan kilatan berwarna biru. Awan-awan gelap itu terus bergerak, dan perlahan semakin mendekati Kerajaan Zephyra.


Pangeran Welt kembali kepada kedua rekannya yaitu Azura dan Xavier yang masih berada di atas gerbang benteng ibu kota. Di atas sana, ia membawa sebuah kabar soal perubahan formasi untuk pasukannya, dan memberitahukan perubahan tersebut kepada kedua pangeran dari dua negeri sahabat itu.


"Pindahkan para pemanah dan penyihir lebih dekat dengan benteng, posisikan mereka juga di atas benteng ini. Pasukan berkuda tetap di sisi kanan dan kiri barisan, dan di tengah gunakan formasi tameng dan tombak. Untuk prajurit-prajurit berpedang, tempatkan mereka di antara formasi tersebut!" Welt berbicara dengan lugas mengenai rencananya sedikit mengubah formasi dari puluhan ribu pasukan yang saat ini juga masih berdiri gagah memenuhi hamparan rumput di depan gerbang ibu kota.


Azura dan Xavier sempat saling memandang satu sama lain ketika arahan tersebut turun. Mereka berdua juga sempat menatap wajah serta ekspresi serius Welt ketika memberikan arahan tersebut, berbeda sekali dari sebelumnya yang lebih banyak menyimpan keraguan. Pangeran pertama dari Kerajaan Zephyra itu tampak sangat yakin dengan keputusannya, terlihat dari sorot kedua iris mata hitamnya yang tampak tajam.


"Lalu bagaimana saat pertempuran terjadi? Kita tak tahu seperti apa pertempuran yang akan datang, bukan?" tanya Azura, penasaran dan hendak memastikan.


Lirikan mata Welt tajam mengarah Azura dan menjawab, "Pasukan Kegelapan memiliki kelemahan terhadap sihir, maka dari itu aku ingin melindungi serta benar-benar memanfaatkan para penyihir yang kita miliki."


Pandangan Welt kembali mengarah ke depan, memandangi ribuan pasukan yang masih terus terjaga di sana dan lanjut berkata, "kita juga memiliki keunggulan dalam sihir, dan itu tak hanya satu dua orang. Selain itu, ketika pertempuran pecah, koordinasikan pasukan berkuda untuk sedikit melebar dan menabrak dari kedua sisi yang berbeda, mengepung pasukan musuh dan menyerang dalam waktu bersamaan."


Azura hanya diam ketika Welt sedang berbicara. Ia kemudian menatap kepada Xavier yang berdiri berhadapan dengannya, dan mengangguk kepalanya kepada pangeran dari Kerajaan Lagarde itu. Laki-laki berambut pirang itu kemudian bergegas pergi dari atas benteng tersebut, menuruni anak tangga, dan mulai melaksanakan arahan yang diberikan oleh Welt.

__ADS_1


Azura kemudian berdiri tepat di sebelah Pangeran Welt, memandangi langit badai di sebelah Selatan dan bertanya, "apa yang membuatmu terlihat begitu yakin? Apakah Yang Mulia Raja memberitahu sesuatu padamu?"


Welt mengangguk dan berucap, "hanya saja permasalahan kita ada pada Asta atau Astaroth, dan satu pengikutnya yang berhasil melumpuhkan hampir seluruh pasukan kita di Wilayah Mutiara hanya dalam sekejap."


Lengang sejenak, hembusan angin terasa begitu menenangkan. Suasana malam yang sungguh tenang dan dingin, namun dengan pemandangan langit yang jauh dari kata baik. Formasi pasukan perlahan berubah, mereka bergerak, dan mengisi beberapa posisi yang ditentukan oleh Welt. Terlihat Xavier berjalan mondar-mandir, dan tidak berhenti berseru, memberikan koordinasi serta arahan untuk seluruh pasukan yang ada di sana.


"Asta tidak bisa dihadapi sendirian," gumam Welt, termangu dengan pandangan sangat lekat memandangi awan badai di Selatan.


"Siapa yang akan menghadapinya sendirian? Dia adalah musuh kita, dan kita akan menghadapinya bersama!" sahut Azura, tegas atas kata-kata yang terucap.


***


Berjam-jam Astaroth dan Pasukan Kegelapan yang ia pimpin dipermainkan oleh alam, hanya berjalan di tempat dan wilayah yang sama. Akhirnya tepat pada tengah malam, ia dan semua prajuritnya dapat keluar dari permainan yang sungguh menguras emosinya itu. Mereka keluar dari Wilayah Zephyria, dan hanya perlu beberapa puluh kilometer untuk bisa sampai ke benteng Kerajaan Zephyra.


Langit gelap senantiasa berada di atas kepala Astaroth, mengikuti ke manapun langkah pasukannya bergerak. Suara gemuruh petir terus terdengar, disusul dengan kilatan berwarna biru yang terus terlihat di antara gelapnya awan.

__ADS_1


"Pasukan musuh telah siap, mereka memenuhi hamparan rumput tepat di depan gerbang ibu kota, Yang Mulia." Baltazhar tiba-tiba saja muncul, dari gumpalan asap berwarna hitam, kemudian berubah wujud menjadi sosok seorang pria jubah serta pakaian hitamnya yang sudah robek.


"Laporkan apa saja yang kau lihat di sana, Baltazhar!" pinta Astaroth, melirik tajam sosok Baltazhar yang melayang di sebelahnya.


Tidak memerlukan basa-basi, Baltazhar langsung menjawab pertanyaan tersebut dengan mengatakan, "barisan prajurit bertameng, tombak, dan pedang. Pasukan berkuda di sisi kanan dan kiri barisan, serta para penyihir dan pemanah di bagian belakang."


"Kurang lebih hampir sama dengan pasukan yang kita hadapi di Mutiara, Yang Mulia," lanjut Baltazhar, berbicara dengan intonasi beratnya seperti biasa.


"Taktik klise," gumam Astaroth dengan sorot mata tajam berwarna biru muda menyala, "seharusnya pagi ini kita sudah bisa memasuki ibu kota," lanjutnya, tampak sangat optimis dan berambisi akan hal itu.


Derap langkah kaki puluhan ribu prajurit panji hitam terdengar, mereka melangkah secara serempak, membuat tanah yang mereka injak bergemuruh serta bergetar. Tak hanya prajurit manusia dari Kerajaan Mystick saja, namun pasukan tersebut juga diisi oleh prajurit-prajurit yang diberikan oleh Asmodeus. Makhluk-makhluk jahanam dengan bentuk-bentuk yang tak lazim. Selain pasukan darat, tepat di bawah Astaroth terlihat pasukan udara yang berbondong-bondong terbang mengikuti langkah dari pasukan darat. Mereka adalah iblis-iblis kecil bersayap, bertanduk, dan bertaring tajam.


"Yang Mulia, ada pesan!" Baltazhar tiba-tiba saja berbicara, dan di pundak kirinya terlihat hinggap seekor kelelawar berwarna hitam pekat.


"Si pemilik kekuatan alam sudah sampai di Benua Tengah, tepatnya di wilayah yurisdiksi Kerajaan Lagarde. Dia juga sepertinya sudah tahu situasi yang sedang terjadi di negerinya." Kelelawar itu rupanya bisa berbicara dengan nada cempreng, dan menyampaikan sebuah pesan untuk didengar oleh Astaroth. Setelah menyampaikan pesan tersebut, kelelawar itu tiba-tiba saja melebur diri menjadi abu berwarna gelap, dan menghilang tertiup angin.

__ADS_1


Raut wajah Astaroth seketika berubah, yang awalnya optimis dan berambisi untuk peperangan yang akan terjadi, seketika berubah menjadi kebingungan. Ia kemudian menoleh, menatap Baltazhar dan berkata, "ambil beberapa pasukan bersamamu, Baltazhar, pergilah ke Lagarde dan bunuh si pemilik kekuatan itu!" titah Astaroth, tegas, langsung mengambil keputusan.


__ADS_2