
Welt dan ketiga rekannya terlihat sibuk memilih-milih suvenir yang hendak mereka beli. Mereka dihadapkan oleh banyak sekali pilihan sulit, ada beberapa gantungan kunci berbentuk hewan yang terbuat dari kristal, koin-koin berwarna emas dengan ukiran seekor elang yang sangat gagah di tengah-tengah, dan masih banyak lagi. Gadis penjaga toko bernama Alya itu juga mengeluarkan beberapa suvenir yang sering diburu oleh para kolektor suvenir dari gudangnya. Sebuah kardus berisikan banyak sekali ukiran serta pahatan permata dan kristal, berbentuk singa dan elang, indah dan gemerlap ketika tersorot oleh cahaya.
Namun semua hal itu tidak ada yang bisa membuat Altezza tertarik. Pangeran kedua Zephyra itu justru tertarik pada sebuah pahatan batu permata berwarna putih berbentuk elang sebesar telapak tangan orang dewasa yang diletakkan di etalase setelah pintu masuk toko. Warnanya benar-benar putih seputih susu, dan sangat mengkilat cantik, gagah dengan bentuk elang yang seperti hendak terbang dari sebuah ranting dengan melebarkan kedua sayapnya. Altezza sangat dibuat terkesan ketika menatap kerajinan tangan itu dari dekat, memperhatikan setiap lekukan bahkan ukiran bulu-bulu pada sekujur tubuh elang tersebut, sangat detail.
"Apakah anda tertarik dengannya? Saya bisa memberikan satu untuk anda, Yang Mulia." Alya tiba-tiba saja berbicara, dan sudah berdiri tepat di samping Altezza.
Altezza tersenyum mendengar kebaikan tersebut, menggeleng dan menjawab, "tidak perlu, terima kasih atas kebaikannya."
Dari kejauhan Welt hanya memperhatikan gerak-gerik adiknya yang terlihat merindukan sesuatu ketika memandangi ukiran elang permata di etalase itu. Sedangkan Azura dan dua rekannya, mereka bertiga terlihat sibuk untuk memilih suvenir mana yang sebaiknya ia beli di antara banyaknya suvenir cantik dan mengesankan di toko tersebut.
Beberapa menit telah berlalu, dan mereka bertiga tampak sudah membawa masing-masing tas jinjing dari toko tersebut. Tampaknya mereka bertiga sedikit membeli lebih dari satu suvenir sebelum pulang kembali ke kerajaan mereka masing-masing. Xavier terlihat asik memandangi sebuah gantungan kunci dengan ukiran seekor elang dan pedang berwarna perak dan emas. Azura juga ikut melakukan hal yang sama, asyik memandangi sebuah pahatan permata berbentuk elang yang sedang melebarkan kedua sayapnya di dalam salah satu genggamannya.
"Benar-benar permata asli," gumam Azura, mengangkat figur elang kecil itu ke langit, dan melihat betapa cantik nan gemerlapnya bahan permata tersebut.
"Iya, kira-kira bagaimana caranya, ya? Batu permata dipahat dan dibentuk, bahkan sedetail ini," sahut Xavier, juga memandangi salah satu gantungan kunci yang ia beli dan berbahan dasar batu permata berwarna bening.
__ADS_1
"Sayangnya tadi nenek yang membuat semua kerajinan itu sedang tidak ada di toko," ucap Welt, berjalan bersama ketiga pangeran itu dan adiknya berkeliling distrik perbelanjaan.
"Kau mengenal pemilik toko itu?" cetus Altezza bertanya, datar tanpa ekspresi, bahkan ia tidak menoleh sedikitpun kepada Welt yang berjalan tepat di sampingnya.
"Tentu saja, beberapa dekorasi di akademi adalah hasil karya beliau dan gadis tadi," jawab Welt.
Jalan menuju ke penginapan yang diakomodasikan untuk para tamu kerajaan kebetulan satu jalur melewati pusat perbelanjaan tersebut. Ketika mereka berlima menemui sebuah persimpangan jalan, dan salah satu persimpangan tersebut adalah jalur menuju ke serikat petualang. Altezza melihat sosok Kenan yang tampak sedang berbincang dengan beberapa orang di serikat itu, yang tampaknya orang-orang tersebut adalah para petualang--dapat terlihat dari cara berpakaian dan pedang yang bergelantung di pinggang mereka.
"Sepertinya aku harus berpisah terlebih dahulu di sini, nanti aku akan bergabung lagi untuk perjalanan mengantar ke pelabuhan," cetus Altezza kepada Welt dan ketiga rekannya, menghentikan langkahnya ketika sampai di persimpangan tersebut.
"Oke, tidak apa, terima kasih, Altezza!" ucap Azura dilanjut oleh Cedric berkata, "sampai jumpa nanti, Altezza."
Altezza terlihat cukup ragu untuk memberikan jawabannya dan hanya berkata, "ada sesuatu yang penting, dan ini personal."
Welt mengangguk tersenyum, "baiklah."
__ADS_1
Altezza sempat melirik dan tersenyum kecil ke arah Xavier yang berdiri di belakang Azura dan Cedric, sebelum kemudian beranjak pergi dari sana, berpisah di persimpangan jalan tersebut. Xavier sendiri terlihat masih asyik memandangi betapa cantiknya suvenir yang baru saja ia beli, dan baru sadar setelah beberapa menit Altezza pergi, "loh, Altezza ke mana?" cetusnya bertanya ketika sudah beberapa langkah berjalan mengikuti teman-temannya. Bukannya jawaban yang ia dapatkan, justru gelak tawa dari sahabat-sahabatnya.
***
Serikat petualang, terletak di pusat ibu kota yang sangat ramai. Dari kejauhan Altezza melihat sosok Kenan berdiri di depan pintu serikat petualang, dan tampak selesai berbicara dengan seorang perempuan berambut pirang berpakaian pelayan di sana. Beberapa saat setelah pelayan perempuan itu kembali masuk ke dalam kedai serikat tersebut, Altezza datang menghampiri Kenan.
"Saya mendapat--" Kenan belum selesai berbicara, Altezza sudah menyela lebih dahulu dengan berkata, "ayo, kita cari tempat untuk berbicara," berjalan pergi dari sana. Karisma serta sosoknya sebagai pangeran tentu sangat lekat dan mencolok, dan hanya dalam hitungan detik dirinya berhasil menjadi pusat perhatian orang-orang di serikat tersebut.
Altezza berjalan melalui jalanan kota, berbelok ke kiri di perempatan pertama yang ia temukan, dan kemudian menuju ke sebuah taman ibu kota. Siang hari yang mendung dengan cuaca yang terasa cukup dingin, membuat taman kota yang biasanya hampir selalu ramai kini menjadi cukup lengang akan pengunjung.
"Apa yang kau dapatkan dari sana?" tanya Altezza, berjalan melalui jalan bebatuan taman yang ada tepat di samping sebuah danau taman yang cukup besar dan luas.
Tidak berbasa-basi, Kenan menjawab langsung pada inti pembicaraan, "saya mendapatkan informasi mengenai pendaftaran petualang baru yang kabarnya akan dibuka pekan depan saat musim dingin dimulai."
"Pekan depan?" gumam Altezza, terus berjalan menyusuri tepian danau tersebut.
__ADS_1
Kenan mengangguk dan kemudian berkata, "saya juga menerima informasi bahwa pendaftaran yang akan dibuka pekan depan akan sangat terbatas, mengingat musim dingin akan segera tiba, dan untuk meminimalisir terjadinya insiden yang menimpa petualang serta mengharuskan pihak serikat turun tangan di saat salju turun dan cuaca yang ekstrim."
Altezza terlihat diam, seolah sedang berpikir setelah menerima semua informasi tersebut yang sesuai dengan keinginannya. Berbeda dengan pangeran itu, Kenan justru terlihat bingung, menoleh dan menatap pangerannya sebelum akhirnya melemparkan pertanyaan, "memangnya untuk apa dan siapa anda sampai memerlukan informasi ini, Yang Mulia?"