Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Asal-usul Shiro? #73


__ADS_3

Ratu Caitlyn tampak sedang asyik bermain-main dengan Shiro di antara taman bunga serta lampu-lampu taman yang memancarkan cahaya yang indah dan terang. Sedangkan Altezza, dirinya tampak sedikit menjauh dari mereka berdua, dan berbincang dengan kakak kandungnya yaitu Welt di bawah sebuah pohon tepi taman.


Welt melihat dengan kedua mata sihirnya sendiri ketika bertemu dengan Shiro untuk pertama kalinya, dan dapat menyaksikan serta merasakan sesuatu yang tersimpan di dalam tubuh seekor elang berbulu putih layaknya merpati itu. Suatu kekuatan yang amat besar dan hebat dapat ia rasakan, dan kekuatan tersebut sangat mirip dengan yang dimiliki di dalam diri Altezza.


Ingin memastikan apa yang ia lihat, Welt langsung menanyakan serta membahasnya dengan Altezza, "katakan padaku kalau Shiro bukanlah elang biasa, bukan?" ucapnya.


Altezza mengangguk, mengakui hal tersebut tanpa adanya kebohongan atau hal yang ingin ia tutup-tutupi, "benar, aku mengakuinya, dia sangat istimewa dan bukanlah sekadar hewan biasa," jawabnya.


"Bagaimana bisa kau bertemu dengannya? Bisakah kau ceritakan padaku tentang pertemuan kalian?" tanya Welt terlihat sangat penasaran.


Tidak ingin berbasa-basi, Altezza langsung menceritakan pertemuan pertamanya dengan Shiro yang tidak sengaja di sebuah goa di wilayah Utara kerajaan. Dirinya juga menyebutkan kondisi Shiro yang tidak dapat terbang ketika di pertemuan tersebut. Mendengar cerita yang berasal dari mulut Altezza, dan tidak melihat adanya kebohongan dari kedua iris mata berwarna hitam pekatnya, Welt percaya sekaligus merasa tidak menyangka.


"Kurasa itu bukanlah pertemuan yang tidak sengaja antara kalian berdua," ucap Welt berpendapat sembari melipat kedua lengannya di atas dada, "kau tahu soal legenda yang tertulis serta dilukiskan di beberapa pajangan museum bahkan istana kita mengenai seekor elang putih ajaib yang menyelamatkan kerajaan dari kekuatan gelap, bukan?" lanjutnya.

__ADS_1


Altezza mengangguk dan menjawab singkat, "ya."


"Awalnya aku tidak terlalu percaya kepada legenda soal elang tersebut yang bisa saja berupa cerita fiksi yang dibuat-buat hingga melegenda," ucap Welt, dengan tatapan tajam dan seriusnya ia lanjut berbicara, "namun setelah melihat Shiro, aku merasa ... dia adalah ... elang yang ada di dalam legenda tersebut."


Altezza tampak tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh pangeran pertama alias kakak kandungnya, "aku mengetahui legenda serta semua cerita soal itu, dan jujur saja aku percaya soal legenda tersebut," ucapnya kemudian lanjut berkata, "namun ... aku masih belum begitu yakin ... jika Shiro adalah elang yang dimaksud dalam legenda."


"Karena dalam legenda kita tertulis, Kekuatan Alam mengutus elang putih itu hanya ketika bahaya dan kejahatan mengancam. Namun jika itu Shiro, mengapa kini dia kembali di saat dunia sudah dam--" belum selesai berbicara, Altezza tiba-tiba saja menghentikan kata-kata, terlihat mengerutkan dahinya dan berpikir sembari bersandar pada sebuah pohon di belakangnya.


Tatapan Altezza kemudian menjadi kebingungan dan bertanya, "apa yang kau ketahui soal Elang Hitam yang sempat kau tunjukkan padaku di hari sebelum pesta dimulai?"


"Apakah maksudmu itu ada hubungannya?" tanya Welt.


"Siapa yang tahu?" sahut Altezza kemudian lanjut berbicara, "mengingat elang hitam tersebut menyimpan aura kegelapan yang sungguh pekat."

__ADS_1


"Elang hitam yang sempat muncul sudah tidak pernah menunjukkan dirinya lagi semenjak kau menggunakan sihir terlarang," ucap Welt.


Kini keduanya sama-sama terdiam, hanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Welt terlihat masih penasaran tentang Shiro, sedangkan Altezza tampaknya sedang menerka-nerka apakah memang benar Shiro adalah elang putih yang ada dalam legenda kerajaannya.


"Apapun yang terjadi, jangan sampai Shiro diketahui oleh orang luar istana selain orang yang bisa kau percaya ...!" ucap Welt sangat serius dalam hal tersebut, "kita tidak tahu apa yang terjadi jika rakyat tahu kita memiliki elang putih ajaib yang diam-diam tinggal di istana kita," lanjutnya berkata. Altezza hanya mengangguk paham dengan apa yang dikhawatirkan oleh Welt.


Selesai berbicara empat mata. Kedua pangeran itu kemudian kembali mendekati ibunda mereka yang terlihat sangat akrab sekali dengan Shiro. Elang putih itu hinggap di atas lengan kiri milik Caitlyn, dan terlihat memanjakan diri ketika Ratu Caitlyn beberapa kali mengelus lembut dirinya. Jauh dari kata "liar", Shiro justru terlihat seperti hewan yang sudah dilatih selama bertahun-tahun, dan sangat jinak, kehilangan kengeriannya sebagai predator udara tingkat atas ketika sedang dimanja oleh Ratu Caitlyn.


"Aku tidak menyangka ternyata ibunda memiliki kelebihan dalam hal menjinakkan hewan," cetus Welt, tampak tersenyum ketika mendekati ibundanya bersama Altezza.


Ratu Caitlyn tampak hampir selalu tersenyum lembut dengan tangan kanan yang tidak bisa henti menikmati betapa halus dan lembut bulu yang dimiliki oleh Shiro, "Shiro anak yang manja," cetusnya. Seperti paham dengan apa yang dikatakan oleh Ratu tersebut, Shiro jadi semakin manja bahkan beberapa kali menundukkan kepalanya, dan terlihat seperti meminta agar jambulnya juga ikut dielus oleh tangan lembut Ratu Caitlyn.


"Yah, malah keenakan!" cetus Altezza, dengan intonasi menyindir, dan langsung mendapatkan tanggapan dari Shiro yang tiba-tiba saja berkicau girang dengan mengepakkan kedua sayapnya sekali, menciptakan hembusan angin yang membawa salju dan menerpa tubuh Altezza, membuat jubah hangat berwarna putih pangeran itu terkena banyak salju.

__ADS_1


Ratu Caitlyn dan Welt sempat terkejut dengan Shiro yang tiba-tiba menciptakan hembusan angin tersebut menggunakan kedua sayapnya. Namun setelah itu, mereka berdua tertawa dengan apa yang terjadi, begitu pula Altezza yang terkena imbas dari kejahilan Shiro.


__ADS_2