Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Berusaha #107


__ADS_3

Masih berjibaku dengan badai, kapal layar berukuran besar yang ditumpangi oleh Altezza terus berusaha untuk keluar dari badai hebat tengah laut itu. Sang kapten kapal terus mengarahkan kapalnya ke arah Benua Timur hanya dengan bermodalkan ingatan karena kompas tidak berfungsi di tengah badai yang sangat riuh itu. Jarum dan penunjuk arah Utara yang ada pada kompas di kapalnya terus berputar tanpa ada kejelasan.


Para petualang yang ikut menjadi penumpang kapal itu ikut membantu para kelasi kapal dalam mempertahankan layar, termasuk Altezza. Gelombang kesekian kalinya datang, menghantam dari bagian depan kapal, dan guncangan hebat sempat terjadi. Altezza terhempas ke tepi kapal dengan cukup keras. Tak hanya dirinya, namun beberapa kelasi dan petualang lain juga demikian.


Petir kembali menggelegar, memekakkan telinga. Sebuah kilatan cahaya berwarna biru bercabang melewati gelapnya awan, dan menyambar ke permukaan laut yang tampak sedang murka. Perhatian Altezza tertuju ke arah kilatan cahaya yang dapat disaksikan dengan jelas dari sisi kapal. Ketika kilatan petir itu muncul, kedua iris mata hitamnya menyaksikan siluet seekor ikan berukuran besar melompat dari dalam air dan melayang di antara gelombang pasang dan hujan lebat.


Seolah sedang terkena sihir. Altezza dibuat tertegun ketika menyaksikan bagian atas dari siluet tersebut yang berbentuk kepala manusia dengan rambut yang sangat panjang, dan kedua tangan yang tampak terangkat ke atas. Tidak begitu jelas, semuanya terjadi begitu cepat, makhluk itu kembali tertelan gelombang sebelum kemudian disusul oleh suara petir yang kembali menggelegar memecah Altezza dari lamunannya.


"Hei, jangan lengah! Kau bisa terhempas ke laut jika lengah," cetus seorang pengembara laki-laki berambut pirang yang sempat menolongnya.


Altezza kembali membantu para kelasi kapal untuk mengikat sebuah tali berukuran besar ke sebuah tiang yang ada di tepi kapal. Bersama dengan laki-laki berambut pirang itu, ia berkata, "aku melihat sesuatu yang aneh di antara gelombang itu."

__ADS_1


"Lautan adalah tempat dengan banyak keanehan di dalamnya, jadi jangan terlalu dihiraukan atau kita akan tenggelam!" sahut si pengembara laki-laki berambut pirang itu dengan intonasi yang cukup tinggi seperti berteriak--harus seperti itu karena suara badai jauh lebih keras bahkan akan dengan mudah memendam suara siapapun yang berbicara.


Semua orang yang ada di atas kapal tampak sangat bekerja keras berusaha keluar dari badai hebat itu dalam keadaan hidup atau selamat. Tidak hanya mereka yang ada di atas dek utama kapal, namun banyak kelasi yang juga berperan penting dan bekerja di dalam lambung kapal. Mereka yang ada di dalam terus melakukan perbaikan kapal karena dihantam ombak dengan sangat keras, sekaligus bergotongroyong menguras air yang tergenang di dalam lambung kapal. Sang kapten terus memegang kemudi kapal yang sulit untuk dikendalikan, dan terus berusaha agar kapal tetap berada di arah yang benar sesuai dengan ingatan.


***


Di dalam ruangan hampa yang sangat dingin, Aurora duduk di lantai dan bersandar pada dinding yang keras dengan tatapan putus asa. Tidak ada kekuatan lagi di dalam dirinya, semuanya sudah dirampas paksa oleh Asta. Ditambah seluruh ruangan terbatas atau terselimuti oleh pembatas sihir yang sudah pasti tidak akan bisa dihancurkan atau ditembus hanya dengan kekuatan fisik biasa.


Sadar karena semakin ia panik semakin menipis oksigen yang ada di dalam ruangan tersebut. Aurora kembali duduk, dan berusaha menenangkan dirinya. Keringat mulai membasahi tubuhnya, meski ruangan itu terasa dingin, namun ketakutan dan kepanikan yang ada pada dalam dirinya membuatnya berkeringat dan terasa cukup panas. Dadanya beberapa kali terangkat ketika ia mencoba untuk menarik napas, dan rasanya bukan udara yang ia hirup.


Tidak bisa, ia tidak bisa melakukan apa-apa selain meminta tolong. Aurora bernajak mendekat kepada pintu kayu ruangan yang terkunci rapat, dan berusaha menggedor pintu tersebut sekuat-kuatnya sembari berteriak, "tolong! Tolong, aku tidak bisa bernapas!!"

__ADS_1


Namun tidak ada jawaban ataupun respon, sepertinya tidak ada iblis yang berjaga di depan pintu ruangannya. Perlahan tubuh Aurora tidak kuat untuk berdiri, gadis berambut putih itu semakin lemas dan terduduk kembali di atas dinginnya lantai dengan kepala tertunduk bersandar pintu di depannya.


"Aku ... *uhuk* aku ... tidak bisa bernapas," ujar Aurora dengan intonasi yang sungguh lemah.


Gadis berambut putih itu berkali-kali mencoba untuk menarik gagang pintu, akan tetapi tidak membuatnya terbuka. Pandangannya perlahan buram, dan kakinya rasanya tidak dapat ia gerakkan. Aurora terus mencoba berteriak meminta tolong karena dirinya tidak bisa bernapas. Akan tetapi tidak ada yang mendengarnya, ataupun mempedulikan keberadaannya.


"Tolong ... aku ... siapapun itu ... kumohon ...!" rintih terakhir Aurora, sebelum akhirnya ....


BRuukKk ...!!


Seketika, tubuh gadis berambut putih itu terjatuh, tergeletak dan terkulai sangat lemas di atas lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kedua mata Aurora terpejam, dengan napas yang perlahan semakin menghilang seiring melambatnya detak jantung serta denyut nadi miliknya.

__ADS_1


__ADS_2