Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Sihir Tingkat Atas #37


__ADS_3

Kenan tidak bisa tenang sedari tadi. Pandangan laki-laki itu sempat terangkat menatap betapa cerahnya langit biru siang ini. Matahari juga sudah perlahan berada di atas kepala. Namun belum ada tanda-tanda kedatangan dari Altezza dan tiga ahli sihir kerajaan yang sebelumnya ia kirimkan.


Pelabuhan Ormos sangat ramai dengan aktivitas masyarakat di siang ini. Namun di area Kenan saat ini berdiri ramai dengan penjaga yang berjaga di tempat atau lokasi kejadian perampokan kemarin malam. Tidak ada warga sipil di sekitarnya, jadi tidaklah terlalu ramai.


Tidak bisa diam, berjalan mondar-mandir, itulah yang dilakukan oleh salah satu kesatria terbaik yang dimiliki oleh Kerajaan Zephyra, sekaligus berperan sebagai pengawal pribadi pangeran kedua yakni Altezza. Matahari sudah benar-benar di atas kepala, namun belum ada tanda-tanda kemunculan atau kedatangan pangeran itu kembali.


"Mengapa lama sekali?!" gumam Kenan, masih tidak henti-hentinya untuk terus menggerakkan kedua kakinya, berjalan mondar-mandir di tempat yang sama.


Tidak berselang lama, kedua mata Kenan tertuju ke arah langit Utara dan melihat fenomena yang secara tiba-tiba saja terjadi. Dari arah Utara terlihat banyak sekali burung-burung beterbangan secara rombongan, dan hingga menimbulkan suara-suara kicauan yang nyaring, tidak merdu sama sekali. Burung-burung itu terlihat terbang secara terburu-buru seperti menghindari sesuatu yang ada di arah Utara sana.


Bukan hanya Kenan saja yang perhatiannya tertuju kepada rombongan burung yang sangat ramai baru saja melintas di atas kepalanya, namun para prajurit yang berjaga serta orang-orang di pelabuhan juga menyaksikan fenomena yang aneh tersebut. Fenomena seperti ini biasanya terjadi ketika atau sebelum sebuah bencana datang, dan tentu hal tersebut cukup menciptakan kecemasan setiap orang di pelabuhan yang menyaksikannya.


Tatapan Kenan terpaku ke arah Utara, dan teringat kalau pangerannya yakni Altezza memacu kudanya ke arah sana. Melihat reaksi alami hewan-hewan itu, seketika langsung membuat pikiran kesatria muda itu kemana-mana. Namun tidak ingin berpikir terlalu panjang, ia segera bergegas menuju kuda hitam miliknya sembari menunjuk beberapa prajurit serta ahli sihir yang ada di sana sembari berkata, "kalian segera tunggangi kuda kalian, dan ikut aku sekarang juga!" titahnya tegas dan lugas sembari naik ke atas pelana serta kuda miliknya.


Berjumlah sepuluh orang yang terdiri dari lima orang prajurit berkuda ahli pedang, dan lima orang lagi adalah penyihir kerajaan. Kenan memacu kuda hitam miliknya secepat mungkin, melaju keluar dari wilayah pelabuhan ke arah Utara, diikuti oleh sepuluh prajurit yang ditunjuknya tadi.


Sejauh kurang lebih enam ratus meter, melalui hamparan rumput hijau yang sangat luas tanpa adanya pohon sedikitpun. Kedua mata Kenan terkejut melihat sebuah angin topan berukuran sangat besar yang berasal dari sebuah hutan yang berada masih jauh di depannya. Dari kejauhan saja angin tersebut sudah terlihat menyeramkan, mengamuk dan sangat ganas, menerpa serta mengangkat apa saja yang ada di sekitarnya. Sekali lagi, itu masih dilihat dari kejauhan, angin raksasa itu sudah sangat mengerikan, belum dilihat dari dekat. Bahkan kedua mata Kenan juga beberapa kali melihat banyak sekali pohon-pohon besar yang ikut terangkat dan terbawa oleh angin itu.


"Yang Mulia, apa yang sebenarnya anda perbuat?" gumam Kenan, bertanya dengan sendirinya. Ia beserta sepuluh orang prajurit yang bersamanya terus memacu kuda ke arah angin yang sudah sangat mengganas. Takut, tentu perasaan tersebut dirasakan oleh beberapa dari prajuritnya, terlihat dari mata mereka. Namun mereka tetap memacu kuda mereka, berlari ke depan, dan akan menghadapi angin tersebut meskipun risikonya adalah terbawa angin serta terhempas puluhan kaki di atas permukaan tanah.

__ADS_1


***


"Selama kalian berada di dekatku, maka kalian akan baik-baik saja," ucap Altezza kepada tiga orang penyihir miliknya. Laki-laki itu kembali menarik pedang miliknya, dan kemudian menancapkan mata pedang tersebut ke tanah. Angin di sekitarnya sangat ganas, menyapu apa saja yang menghalangi, bahkan beberapa dari bandit itu ada yang kewalahan hingga terhempas terbawa angin dan membentur banyak bebatuan serta pepohonan.


Hanya Altezza, dan di sekitar pangeran itu yang aman alias baik-baik saja, tenang seolah tidak sedang terjadi sesuatu. Bahkan kuda-kuda yang berhenti tidak jauh dari mereka berempat terlihat tenang sekali, seakan tidak sedang terjadi apapun, meskipun Altezza telah menciptakan angin sebesar dan seganas itu.


Tentu ini kesempatan yang amat baik bagi mereka berempat, karena dengan angin yang sekencang dan sebesar ini, enam orang bandit itu tidak dapat bertindak serta melakukan banyak hal. Beberapa kali mereka melawan angin dengan sihir gelap mereka yang dapat meningkatkan kecepatan mereka dalam bergerak. Namun sayangnya hal tersebut percuma, karena sihir yang digunakan oleh Altezza lebih ganas dan mengerikan daripada sihir yang mereka gunakan.


Tidak hilang akal, para bandit itu menyerang dari jarak jauh, menggunakan belati serta beberapa senjata tajam yang mereka miliki. Lebih dari puluhan belati serta senjata tajam lainnya berhasil melesat menembus angin yang sedang mengganas, mengarah ke arah Altezza dan ketiga penyihir kerajaan.


Tiinngg ...!!!


"Hei, kau! Apakah kau menguasai elemen air dan api?" cetus Altezza, menoleh dan menatap ke arah ahli sihir yang bersamanya, dan dia terlihat membawa tongkat sihir panjang berwarna hitam.


"Tentu saja, Yang Mulia. Namun saya tidak yakin apakah energi sihir saya cukup untuk menggunakan dua elemen yang berbeda," jawab laki-laki tersebut.


"Jangan lupakan bahwa aku ada di sini! Serahkan saja pada ku!" sela seorang ahli sihir laki-laki lain, yang menciptakan lingkaran sihir berwarna kuning keemasan yang saat ini berada di bawah pijakan kaki keempat orang tersebut dan masih menyala-nyala.


"Gunakan mantra dasar saja, ciptakan api dan buatlah reaksi elemen dengan angin milikku!" ucap Altezza, memberikan perintah.

__ADS_1


Perintah tersebut mendapat sedikit penundaan karena laki-laki yang ia perintah terlihat ragu. Angin bercampur dengan api, maka hasilnya api akan semakin besar dan membakar semuanya, apalagi mengingat api adalah salah satu elemen yang bisa menjadi ganas serta sulit dikendalikan jika skalanya semakin membesar. Tentu hal tersebut menjadi pertimbangan.


"Lakukan saja! Jangan khawatir, kita tidak akan terkena oleh kobaran api tersebut. Jangan cemaskan juga soal lingkungan di sekitar sini, biar aku yang mengurusnya nanti!" lanjut Altezza, meyakinkan laki-laki itu untuk menggunakan sihir dengan elemen api.


Penyihir laki-laki itu pun percaya dengan apa yang dikatakan oleh Altezza, dan mengikuti perintahnya. Ia merapalkan mantra dasar elemen api, dan menciptakan sebuah bola api di atas salah satu telapak tangannya, sebelum kemudian ia mengulurkan bola api tersebut ke depan dan melesatkannya ke arah angin yang sedang mengamuk di sekitarnya.


Hanya dalam satu detik. Seketika seluruh angin yang dikendalikan oleh Altezza bereaksi dengan elemen api yang diluncurkan, dan langsung membuat angin sebesar itu berubah menjadi jingga kemerahan. Kobaran api yang sungguh besar dan dahsyat, dan secara otomatis membakar apapun serta siapapun yang diterpa olehnya.


"Siapkan yang berikutnya, dan tunggu perintah ku selanjutnya!" titah Altezza kemudian, terlihat serius mengendalikan angin sebesar itu agar tidak kehilangan kendali meskipun hanya menggunakan satu tangannya yang selalu terulur ke depan sepanjang angin tersebut masih mengganas.


"Baik!" sahut penyihir kerajaan itu, dan langsung merapalkan mantra dasar dari sihir elemen air, hingga menciptakan sebuah bola air yang melayang tepat di atas salah satu telapak tangannya.


***


Kuda-kuda yang ditunggangi oleh Kenan dan sepuluh orang prajurit secara terpaksa harus terhenti ketika baru sampai di pinggir hutan hujan tersebut. Kobaran api yang tiba-tiba saja muncul, dan sangat mengganas karena kobaran api tersebut sebesar angin yang juga sedang mengamuk. Hutan hujan yang sebelumnya sangat rindang dan lebat, seketika berubah menjadi lautan api, di mana di tengah-tengah hutan tersebut masih tercipta sebuah pusaran angin dan api yang sungguh besar serta bertiup sangat kencang melibas semua yang menghalangi.


"Apakah ... ini ... benar-benar sihir yang dimiliki oleh Yang Mulia Pangeran Altezza ...?" gumam Kenan, kemudian terdiam seribu bahasa, menatap kagum peristiwa mengerikan yang ada di depan kedua matanya. Sihir yang sungguh kuat dan hebat, serta memiliki skala yang cukup besar, bahkan dengan skala tersebut mungkin sudah dapat meratakan satu desa dalam sekejap. Selama Kenan menjadi seorang kesatria, dan seorang pengawal dari seseorang yang terhormat yakni Altezza. Namun baru kali ini, di detik ini, salah satu kesatria terbaik milik kerajaan dibuat kagum dan melihat salah satu dari sekian banyaknya sihir tingkat atas.


Tidak hanya Kenan, namun sepuluh orang yang ikut bersamanya juga hanya bisa dibuat diam, terpaku membisu seribu bahasa, dan menatap angin sebesar itu yang sedang bereaksi dengan elemen api di depan mereka. Tidak ada yang bisa mereka perbuat, dan tidak ada yang sanggup menghentikan sihir sebesar itu, bahkan sekelas ahli sihir kerajaan pun tidak bisa melakukannya. Sekali lagi, mereka hanya bisa menatap, diam di atas kuda-kuda mereka yang sudah berhenti bergerak tepat di depan hutan, dan pasrah menunggu serta berharap semuanya cepat mereda.

__ADS_1


__ADS_2