Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Mutiara Telah Jatuh #150


__ADS_3

Warna jingga kemerahan merekah mewarnai langit senja yang terlihat sangat amat cerah tanpa adanya awan, dan matahari sudah berada di bawah garis cakrawala di sebelah barat. Suasana indah dan tenang menyelimuti istana megah Kerajaan Zephyra, namun ketenangan tersebut tak berlaku bagi Ratu Caitlyn yang baru saja mendapatkan sebuah surat tak terduga dari seekor merpati.


Ratu Caitlyn berdiri di atas balkon lantai dua istananya, dan membaca surat yang terbuat dari kain berwarna putih dengan tinta berwarna merah yang tampak sedikit luntur, namun masih dapat terbaca. Kedua iris mata berwarna hitam milik sang ratu tampak dibuat penasaran dengan tinta berwarna merah tersebut, karena tidak begitu asing.


"Darah ...!?" terkejut, Ratu Caitlyn tampak tak menyangka setelah mencium serta mengetahui bahwa tinta merah itu adalah darah.


Selain itu, wanita cantik berambut cokelat muda indah itu berhasil dibuat syok dengan sebuah berita yang dituliskan menggunakan tinta darah tersebut. Tak terlalu panjang, kalimat yang tertulis cukup singkat dan padat menyampaikan inti informasi dengan sangat jelas.


Tanpa berkata-kata, Ratu Caitlyn menggenggam erat kain putih bercorak merah darah itu pada salah satu tangannya, sebelum kemudian ia beranjak pergi dari balkon itu dengan langkah yang tampak cukup terburu-buru. Menuruni anak-anak tangga, melewati aula utama, dan keluar dari halaman istana dengan langkah yang tampak cukup terburu-buru. Para prajurit yang berjaga di sekitar benteng istana hanya melihat sosok ratu itu dengan tatapan terheran-heran.


Ratu Caitlyn terus berjalan menuruni sedikit bukit istananya, dan kemudian berbelok ke kanan. Tak lama kemudian, sang ratu akhirnya sampai di depan sebuah gedung sihir kerajaan. Ia segera memasuki bangunan yang berukuran cukup besar itu, dan menemui putra sulungnya yang tampak sedang sibuk dengan para ahli sihir kerajaan.


Halaman gedung sihir kerajaan dipenuhi oleh penyihir kerajaan yang rencananya akan diberangkatkan ke Wilayah Mutiara, dipimpin langsung oleh Pangeran Welt. Laki-laki berambut hitam itu tampak berdiri di depan barisan penyihir kerajaan. Tak hanya dirinya, namun seluruh prajurit ahli sihir kerajaan dibuat terkejut dengan kehadiran sosok ratu yang secara tiba-tiba memasuki halaman.


 "Ada apa?" tanya Welt kepada ibunda atau sang ratu yang tampak terburu-buru mendekati dirinya.


Menarik salah satu tangan Welt untuk menepi dari lapangan atau halaman tersebut, sebelum akhirnya Ratu Caitlyn memberikan kain putih bernoda merah yang ia bawa kepada putranya, membiarkan laki-laki itu membaca tulisan yang tertulis di sana.


"Darah ...? Siapa yang menulis ini?!" tanya Welt, beberapa kali menyentuh bercak merah yang tampak masih sedikit lembab, dan kemudian terbelalak menatap sang ratu.

__ADS_1


Ratu Caitlyn menggelengkan kepala, tidak tahu, karena memang tidak tertulis di akhir kalimat siapakah penulis atau pengirim surat tersebut. Akan tetapi dirinya percaya dengan informasi yang diberikan, karena surat itu dikirim oleh seekor merpati putih milik kerajaannya sendiri.


"Mutiara telah jatuh, pasukan seluruh pasukan terbunuh. Sampaikan ini juga kepada para sahabat kita agar mereka juga mengetahuinya, dan kerajaan," mulut Welt tak bisa berhenti bergumam ketika membaca beberapa kalimat dan kata yang tertulis dari tinta darah.


"Aku akan pergi menjemput mereka berdua," ujar Welt langsung mengambil keputusan setelah membaca seluruh kalimat yang tertulis pada kain putih tersebut.


Reaksi yang kurang lebih sama seperti ketika Ratu Caitlyn menerima surat tersebut untuk pertama kalinya, langsung dari seekor merpati. Welt segera bergegas kembali berdiri di depan para penyihir kerajaan yang masih berbaris di sana, dan kemudian berbicara, "tugas dan perjalanan menuju Wilayah Mutiara saya batalkan!" dengan tegas.


Hal tersebut tentu menciptakan sedikit polemik di antara para penyihir berseragam putih yang tengah berbaris, mereka tampak berbisik-bisik meski tanpa sedikitpun bergerak dari barisannya.


"Sebagai gantinya, kalian akan berjaga di setiap sisi serta menara benteng kerajaan!" titah kemudian turun dari Pangeran Welt langsung, sebelum akhirnya ia menuju lima orang ahli sihir dan beranjak pergi dari sana bersama sang ratu.


...


Dirundung kegelisahan dan kecemasan yang cukup untuk menenggelamkan hatinya, Ratu Caitlyn hanya bisa menunggu di istana, menanti walau sedikit kabar baik. Selain berharap keadaan sang suami atau raja itu baik-baik saja, dirinya juga menantikan kepulangan sang putra bungsunya yang juga tak memberikan kabar kelanjutan.


"Ya Tuhan, kumohon lindungilah kami di manapun kami berada. Sampaikan dan wujudkanlah harapanku melalui anginmu." Ketika berdiri di depan gerbang halaman kerajaannya, Ratu Caitlyn tampak berdoa dengan mengatupkan kedua telapak tangan di atas dada.


Tak ingin hanya termenung saja, Ratu Caitlyn segera melakukan apa yang disampaikan pada surat tersebut. Ia segera menyebarkan beberapa surat kepada kerajaan tetangga dengan menggunakan merpati, memberitahu mereka berita soal apa yang terjadi di Wilayah Mutiara.

__ADS_1


***


Kerajaan Victoria, seorang pangeran muda tampan berambut hitam dan kedua iris mata berwarna biru muda tampak dikejutkan oleh sebuah surat yang dikirim oleh merpati dari Zephyra. Azura, membaca surat tersebut, sebelum kemudian ia menyampaikannya kepada ratunya yakni Ratu Victoria yang tengah berdiri di balkon lantai tiga istana megahnya.


"Berangkatlah ke Zephyra, Azura ...! Bawa pasukan utama kita bersamamu, dan beri kabar kepada pasukan kedua kita untuk merapat ke Ibu Kota Zephyra!" titah pertama langsung diberikan oleh sang ratu cantik berambut pirang bermata biru itu kepada putra sulungnya.


"Aku akan mengirim surat balasan untuk Caitlyn mengenai pergerakan pasukan kita," lanjut sang ratu cantik itu, sebelum kemudian beranjak pergi dari balkon tersebut.


Azura menundukkan kepalanya dan menjawab, "baik," sebelum kemudian ia beranjak pergi dari istananya dengan membawa sebuah pedang yang bergelantung pada ikat pinggangnya.


...


Hal yang sama kurang lebih juga terjadi pada Kerajaan Lagarde. Laki-laki tampan berambut pirang bermata biru bernama Xavier juga menerima surat dari Zephyra yang informasinya sama dengan yang diterima oleh Azura. Ratu Lagarde atau lebih dikenal oleh rakyatnya dengan nama Freya, ia langsung menurunkan perintah untuk putranya pergi ke Zephyra dengan membawa pasukan utamanya.


"Saat perjalanan, beri kabar kepada pasukan kita yang hampir sampai di Mutiara untuk mundur dan lebih merapat ke Ibu Kota Zephyra ...!" pinta wanita cantik berambut pirang bermata biru itu yang tampak sibuk dengan beberapa lembar penting di atas meja kerjanya.


"Kita juga harus memberi kabar kepada Zephyra soal pergerakan kita ini," sahut Xavier yang berdiri di depan meja kerja sang ratu dengan pakaian formal berwarna biru muda.


Ratu Freya mengangguk, "aku tahu, kau tenang saja, aku akan mengirim pesan untuk Caitlyn."

__ADS_1


__ADS_2