Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Pembasmian Hama #131


__ADS_3

"Kita tidak boleh kalah dari Altezza!" seru Eugene, menarik dan menghunuskan pedangnya, berlari tanpa takut ke arah salah satu anjing berkepala tiga yang berada tidak jauh darinya.


Namun langkah dari si ahli sejarah itu seketika terhenti. Pedang yang sebelumnya terhunus ke depan perlahan turun, dan kedua lututnya gemetar, ketakutan ketika berhadapan dengan makhluk mengerikan tersebut. Dengus napasnya terasa garang, ketiga kepala anjing itu menatap Eugene kecil yang ada di hadapannya.


Kepala yang berada di tengah membuka mulutnya lebar-lebar, memperlihatkan gigi dan taringnya, sebelum kemudian sebuah bola api berwarna biru tercipta. Tak berselang lama, bola api itu melesat ke arah Eugene yang berjarak kurang lebih 15 meter.


"Eugene, jangan berhenti bergerak!!" teriak Aaron, mengambil langkah cepat segera mendekati Eugene. Namun tidak sempat.


DUAARR ...!!!


Ledakan yang cukup besar tidak terelakkan, dan membuat langkah Aaron terhenti dengan tatapan tidak menyangka akan melihat temannya meledak tepat di depan mata.


"A-aku tidak apa-apa!" seru suara Eugene dari balik asap tebal tersebut, membuat Aaron sedikit terkejut.


Ketika kepulan asap hitam itu terurai, tampak sebuah penghalang berwarna emas yang melindungi tubuh Eugene dari serangan magis monster di depannya. Tidak jauh darinya ternyata berdiri sosok Alaia yang tampak berkeringat kelelahan memegangi tongkatnya.


"Terima kasih, Alaia," ujar Eugene.


"Berterima kasih nanti saja, fokus di depanmu, Eugene!" tegas Alaia tampak kesal, sekaligus lelah setelah menciptakan penghalang dadakan untuk menyelamatkan temannya.


"Baiklah!!" seru Eugene.


Tiga orang pengembara itu sudah saling berdekatan, dan tampak siap dengan formasi segitiga. Aaron berdiri bersebelahan dengan Eugene di depan, sedangkan Alaia mengambil posisi di belakang mereka berdua sembari merapalkan suatu mantra dengan tongkat emas yang selalu bersamanya.


"Jangan khawatir akan kehabisan energi, aku akan mendukung kalian dengan sihir peningkatan!" ujar Alaia dengan tersenyum yakin setelah berhasil membuat lingkaran sihir berwarna emas tepat di bawah kedua kakinya.

__ADS_1


"Serahkan yang monster ini pada kami!" tegas Aaron.


Makhluk besar yang ada di hadapannya masih berdiam, dan tampak hendak melancarkan serangan yang sama lagi. Sebelum serangan tersebut terjadi, ketiga pengembara itu lebih dahulu mengambil kesempatan yang ada untuk melawan. Aaron tampak mengaliri kedua belatinya dengan kekuatan magis berwarna putih, dan bergerak dengan sangat cepat, secepat kilat maju ke depan. Eugene juga tak mau ketinggalan, ia berlari dengan gerakan yang juga tak kalah cepat, terlebih tubuhnya tampak terlapisi oleh aura berwarna kuning keemasan.


Kedua laki-laki berambut pirang itu bergerak di antara kaki-kaki makhluk berukuran besar tersebut, dengan sangat cepat, berkali-kali menebas serta melukai anjing berkepala tiga itu hingga terjatuh dan batal melepaskan serangan. Pergerakan mereka sangat kompak, ditambah dengan dukungan Alaia yang tampak tidak pernah melepaskan konsentrasinya untuk merapalkan sihir demi teman-temannya.


Di sisi lain, Altezza bergelut dengan lima ekor lebih makhluk yang sama dengan tubuh yang masih melayang berkat kekuatan anginnya. Ia tidak sendirian karena ada Legolas dan Caelum yang membantu dari darat dengan memanfaatkan ketrampilan serta keahlian mereka. Ledakan sempat terjadi beberapa kali, dan menyebabkan kebakaran lokal di lereng bukit-bukit kecil tersebut. Namun dari sekian serangan dan ledakan, tidak ada yang sampai melukai tubuh Altezza atau kedua Elf itu sedikitpun.


Di sela-sela pertarungan tersebut, laki-laki berambut hitam berjubah hitam itu sempat menoleh dan dibuat tersenyum kecil ketika menyaksikan kekompakan teman-temannya yang juga turut membantu meski hanya bisa menghajar satu per satu.


"Altezza, Legolas, bersiaplah karena aku akan mulai menyegel mereka dalam waktu bersamaan!" teriak Caelum dari darat, kepada Altezza yang melayang di atasnya.


"Baik!" ucap Legolas, mempersiapkan busurnya dengan anak panah berapi jingga di ujungnya.


Sebuah lingkaran sihir berwarna emas perlahan tercipta di dalam kubah angin yang diciptakan oleh Altezza. Lingkaran sihir tersebut memiliki diameter sekitar 200, sangat besar dan menampung kurang lebih delapan anjing berkepala tiga. Rantai-rantai tajam berukuran besar perlahan bermunculan dari dalam lingkaran sihir tersebut, mengikat serta membekukan pergerakan makhluk-makhluk tersebut hanya dalam sekejap.


Dengan busurnya Legolas menarik sebuah anak panah dengan ujung yang dibakar oleh api berwarna jingga, dan melepaskan anak panah tersebut ke arah kubah angin yang dibuat oleh Altezza. Ketika anak panah tersebut melesat masuk ke dalam kubah, dalam sekejap kubah angin tersebut bereaksi dengan api dan membakar semua yang ada di dalamnya.


Lolongan berkali-kali terdengar, disusul dengan suara mengerang kesakitan dari para monster berkepala tiga itu. Mereka tampak sangat tersiksa dengan api yang terus melahap membakar tubuh mereka. Pemandangan yang sebenarnya mengerikan, namun apa boleh buat hal tersebut harus dilakukan.


"Mereka sudah seperti hama," gumam Legolas, menyaksikan makhluk-makhluk itu menggeliat terbakar di dalam kubah angin.


"Apa selanjutnya?" tanya Altezza, sudah menginjak rerumputan, berdiri di antara Legolas dan Caelum.


Caelum menoleh, melihat ke arah tiga pengembara yang masih terlibat pertarungan dengan seekor anjing berkepala tiga di puncak bukit dan berbicara, "sepertinya tinggal satu itu yang tersisa."

__ADS_1


"Kurasa mereka bisa menyelesaikannya," timpal Legolas kemudian lanjut berbicara, "sementara itu kita selesaikan yang di sini terlebih dahulu, jangan lupa untuk menghancurkan permata yang ada pada tubuh mereka."


"Apa kalian yakin api bisa membuat mereka lumpuh?" tanya Altezza.


"Makhluk-makhluk iblis itu tercipta dari api di neraka, dan akan termakan juga oleh elemen yang sama." Legolas menoleh, menatap Altezza dan lanjut berkata, "seperti contohnya asal-usul manusia yang terbuat dari tanah, jika dilempar oleh gumpalan tanah juga akan terasa sakit."


"Terima kasih atas bantuanmu, Altezza. Kau bisa berisitirahat atau membantu teman-teman mu, biar kami selesaikan yang di sini," ujar Caelum kemudian.


Altezza mengangguk, dan memutuskan untuk beranjak pergi menuju teman-temannya yang tampak akan selesai dengan satu ekor anjing besar di sana. Pertarungan mereka terlihat sangat sengit dan seru, dengan Aaron dan Eugene sebagai penyerang, ditambah Alaia yang berperan sebagai pendukung mereka dari belakang.


Di tengah ia berjalan, tiba-tiba saja tanah bergetar hingga menyebabkan gempa. Hal tersebut cukup membuat Altezza terkejut dan menghentikan langkahnya yang padahal tinggal beberapa meter lagi dekat dengan teman-temannya. Mereka yang selesai dengan satu ekor monster itu juga tampak terkejut dan bingung, memandangi bukit yang dipijak.


"Apa yang terjadi?" cetus Aaron bertanya-tanya, melangkah mendekat kepada Eugene.


"Gempa bumi?" gumam Eugene berpendapat.


Tanah pada bukit tersebut terus berguncang bingga perlahan retak. Tepat setelahnya, suara teriakan dari belakang Altezza terdengar, dan suara itu adalah suara Legolas yang memperingati, "AWAS DARI BAWAH KALI--"


Belum selesai Legolas berteriak kepada sekelompok pengembara itu. Seekor anjing besar berkepala tiga yang memiliki ukuran dua kali lipat lebih besar dari yang lainnya tiba-tiba saja muncul dari dalam tanah hingga menyemburkan banyak sekali tanah ke luar.


Aaron dan Eugene spontan berteriak, "Alaia, belakang mu!" sembari cepat-cepat berlari menuju kepada Alaia, karena jarak Alaia yang paling dekat dengan makhluk raksasa itu.


"CEPAT LARI DARI SANA!" teriak Aaron sekencang-kencangnya.


Namun ketika gadis berambut kelabu itu hendak melangkahkan kakinya untuk berlari menjauh, makhluk besar itu langsung menyerang dengan menyemburkan napas api berskala besar berwarna biru ke arah gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2