
Malam hari yang sangat gelap telah tiba. Altezza tentu saja akan menemui malam di tengah perjalanannya. Berada di tengah hutan yang sangat gelap, dan cukup asing baginya. Laki-laki itu mencari tempat untuk beristirahat di dalam hutan tersebut, di antara banyaknya vegetasi lebat di hutan yang ia lalui saat ini. Ketika ia menemukan tempat yang ideal untuk bermalam, meski di tengah gelapnya hutan tersebut. Altezza langsung menciptakan sebuah penghalang angin yang mengitari tempatnya saat ini. Setelah penghalang tersebut tercipta, transparan bahkan tidak mengusik dedaunan di sekitar, Altezza langsung membuat perapian sementara untuk dirinya berisitirahat.
Udara malam yang sangat dingin terasa, namun Altezza beruntung mengenakan jubah yang bisa membuat hangat tubuhnya meskipun bahannya terasa tipis. Api unggun kecil juga telah ia ciptakan, dan kemudian mulai memasak bekal mentah yang dibawa di dalam ransel miliknya. Laki-laki itu membersihkan sebuah ranting pohon yang diruncingkan, sebelum kemudian menusukkan beberapa potongan daging ke ranting tersebut dan memanggangnya.
Berisitirahat di tengah hutan yang sangat gelap, menikmati beberapa potongan daging yang ia bawa sebagai bekal. Benar-benar suasana yang belum pernah dirasakan oleh Altezza di sepanjang hidupnya. Sendirian, tidak ada yang menemaninya saat ini selain alam. Benar-benar suasana yang menenangkan.
Selesai makan, Altezza ingin tidur, namun tidak bisa. Perasaan waspada selalu menyelimuti dirinya meski sebuah sihir penghalang sudah tercipta, karena memang ia tidak tahu apa yang ada di hutan ini. Hutan yang sangat asing, jauh dari tanah kelahirannya, dan dirinya tidak tahu-menahu apa saja hewan-hewan buas yang hidup di hutan tersebut.
Altezza mematikan perapiannya, membawa tasnya, dan memutuskan untuk memanjat sebuah pohon yang cukup tinggi dengan mudahnya, kemudian duduk di sebuah dahan pohon yang cukup besar. Ketenangan yang selalu menjadi hal yang sangat ia sukai, malam ini sangat terasa, di bawah langit malam yang cerah, terlihat bulan bersinar terang di atas sana.
Angin berhembus dengan sangat lembut, menerpa tubuhnya, namun membawakan suasana hangat, "sudah merindukan rumah?"
Altezza tertawa kecil dan tersenyum mendengarkan suara yang ia kenal tiba-tiba saja terdengar di kedua telinganya, "aku akan berbohong jika aku menjawab 'tidak'," jawabnya sambil tersenyum. Angin mengajaknya berbicara, dan membuatnya merasa tenang karena ada yang selalu menemani dirinya di kala ia membutuhkan.
Perasaan semangat dan antusias tampaknya cukup menggebu, semakin membuat dirinya tidak bisa tidur malam ini di tengah hutan. Namun ia harus cepat-cepat berisitirahat, karena besok petualangan yang sebenarnya akan dimulai.
__ADS_1
"Tidurlah, Altezza. Aku akan selalu ada menjagamu, dan dalam sepanjang tidurmu, jangan khawatir." Suara lembut bak seorang bidadari kembali terdengar, berbicara kepada Altezza, diikuti oleh terpaan angin yang terasa lembut dan hangat memutari tubuhnya.
Altezza tersenyum dan merasa tenang, "terima kasih, selamat malam."
Laki-laki itu bersandar santai di batang pohon tersebut dengan mendekap tas ransel miliknya, masih berada di atas dahan pohon. Ketika hendak memejamkan matanya, ia terpikirkan satu hal yang membuatnya bertanya, "ngomong-ngomong selama 18 tahun kita bersama, bisakah aku mengetahui siapa namamu? Bagaimana aku harus memanggilmu?"
"Aku tidak memiliki nama atau sebutan, Altezza. Dan begitulah alam."
Altezza tampak berpikir sejenak sembari memandang ke arah rembulan yang tampak indah dari balik sela-sela dedaunan lebat pohon tempatnya berada, "bagaimana kalau aku memberimu sebutan atau nama? Agar aku bisa lebih mudah manggil mu ketika kita sedang berbincang."
Altezza tampak diam sejenak untuk berpikir, sedang mengumpulkan ide-ide tentang nama di kepalanya hingga tercetuslah satu ide nama, "suaramu sangat lembut begitupula dengan angin mu, membawakan ketenangan, serta keindahan yang dapat menyejukkan hati, dan selalu bisa membuat perasaan yang menyenangkan."
"Sepertinya nama Aerin cocok untukmu? Dari beberapa sumber buku yang ku baca, Aerin diartikan sebagai angin yang indah atau angin yang menyenangkan, juga memiliki arti kebebasan, dan dapat membawakan ketenangan serta kebahagiaan. Selain itu ada beberapa buku yang menyebutkan bahwa Aerin juga memiliki arti Sang Peri Angin," lanjut Altezza, berbicara dengan objek yang tak kasat mata, namun dapat dirasakan.
"Peri angin?" terdengar suara tertawa kecil yang terdengar lembut dan kemudian berbicara menanggapi apa yang dikatakan oleh Altezza, "seleramu tidak buruk, Altezza. Aku menyukainya, terima kasih."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu," Altezza terlihat tersenyum senang, "selamat malam, Aerin."
***
Malam yang sunyi dan sepi. Bianca sudah berbaring di atas ranjangnya selama berjam-jam untuk tidur. Namun kedua matanya seperti enggan untuk terpejam dan tidur, karena benaknya yang tak bisa lepas memikirkan seseorang yang selalu lewat di dalam hatinya.
Gadis yang sudah mengenakan dress tidur berwarna merah muda itu beranjak dari ranjangnya, berjalan menuju ke jendela kamar asramanya, dan memandang ke arah rembulan yang terlihat sangat indah serta berukuran cukup besar di langit malam itu.
"Apakah Yang Mulia sudah tidur? Atau jangan-jangan beliau belum tidur?" gumam Bianca, berbicara dengan sendirinya, memikirkan cemas sosok Altezza yang kini sudah tidak berada di kerajaan serta istananya.
Pandangan Bianca kemudian tertunduk secara perlahan, dan bertanya-tanya dengan sendirinya, "mengapa aku jadi tak bisa lepas memikirkannya?"
...
Hal yang sama tampaknya juga sedang dialami oleh seorang Ratu dari Kerajaan Zephyra yaitu Ratu Caitlyn. Wanita cantik nan anggun yang sudah mengenakan gaun tidur berwarna putih itu rupanya masih terjaga hingga tengah malam.
__ADS_1
Caitlyn berdiri di jendela kamarnya yang berukuran sangat besar, memandang ke arah langit malam serta bulan yang tampak bersinar terang di sana, "kira-kira dia akan kesepian atau tidak, ya ...?" gumamnya bertanya-tanya. Pikirannya masih belum bisa lepas dengan sosok putra bungsunya yang ia cintai yang baru saja berangkat berkelana sore tadi.