Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Lokasi Kejadian #35


__ADS_3

Mendengar laporan tersebut, Raja Aiden segera memberikan tanggapan untuk menangani situasinya. Sang Raja langsung memberikan beberapa perintah kepada prajurit bernama Franz. Selain itu ia juga berniat untuk mengirim regu penyelidik yang akan terjun langsung ke lokasi kejadian, apalagi mengingat laporan terakhir mengatakan kalau masih ada kemungkinan para pelaku berada di hutan yang ada di dekat pelabuhan.


Namun ketika amanah serta titah pembentukan regu itu dibuat oleh Raja Aiden. Pangeran kedua atau putra bungsunya yakni Altezza secara tiba-tiba berdiri di depan Franz yang masih berlutut, dan menyela dengan sebuah permintaan yaitu, "kumohon, izinkan aku untuk pergi ke sana!" ucap Altezza, tiba-tiba saja berdiri di depan Raja Aiden, menatap tajam penuh dengan keyakinan ayahnya.


Tentu hal tersebut membuat Aiden dan Caitlyn terkejut, begitu pula dengan Clara yang walaupun dari awal hanya menyimak semuanya. Tetapi tidak dengan Welt yang terlihat seperti sudah menduga hal tersebut akan terjadi.


"Mengapa aku harus mengizinkan mu? Apa alasanmu?" ucap Aiden, tenang, menatap serius putra bungsunya.


Altezza langsung menjawab pertanyaan tersebut dengan berkata, "ada yang ingin ku pastikan! Mendengar ciri-ciri yang disampaikan oleh Franz, itu mengingatkan ku kepada tiga pelaku pembunuh bayaran yang sempat menyusup ke dalam istana. Ciri-ciri mereka sama."


Raja Aiden terlihat ragu untuk memberikan izin tersebut kepada putranya, meskipun apa yang dikatakan oleh Altezza ada benarnya. Pria itu sempat menoleh dan menatap istrinya, seolah ingin meminta saran kepada wanita cantik itu. Namun Caitlyn sendiri bingung, sekaligus khawatir jika izin tersebut diberikan kepada Altezza.


Keraguan mereka berdua pecah ketika Welt melangkah, mendekati saudaranya, dan kemudian berdiri tepat di sebelah Altezza. Pangeran pertama itu sempat menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat, sebelum kemudian menatap serius Raja Aiden dan berkata, "percayakan saja kepada Altezza, dengan kemampuannya mungkin akan dapat mempermudah kasus ini agar bisa terselesaikan secepat mungkin."


"Tentu saja aku juga tidak ingin tinggal diam," lanjut Welt, sempat sedikit menoleh dan melirik Altezza di sebelahnya, sebelum kemudian kembali menatap Raja Aiden dan lanjut berbicara, "aku juga akan mengirim beberapa ahli sihir kerajaan untuk ikut ke sana, sekaligus mendampingi Altezza."


Keraguan Raja Aiden dan Ratu Caitlyn perlahan redup setelah Welt berbicara di depan mereka dengan lugas. Dengan begitu, mereka berdua pun menyetujui serta memberikan izin tersebut kepada Altezza, namun dengan ketentuan batasan waktu yang wajib ditaati oleh pangeran kedua itu.


"Baik, aku akan mengizinkanmu untuk pergi ke lokasi, namun dengan satu syarat yang wajib kau taati," ucap Raja Aiden kemudian dilanjut oleh Ratu Caitlyn yang menyebutkan syarat tersebut dengan berkata, "kembalilah ketika matahari sudah berada di sebelah barat, Altezza ...!" ucap wanita itu dengan lembut kepada putra bungsunya.

__ADS_1


Altezza mengangguk patuh mendengar apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya, apalagi mengingat tepat malam ini pesta musim gugur akan dilaksanakan, dan akan ada banyak tamu dari berbagai kerajaan yang akan datang.


***


Ibu Kota Kerajaan Zephyra, tempat yang sangat ramai seperti biasanya, dan menjadi pusat di mana semua aktivitas masyarakat. Altezza bersama dengan rombongan prajuritnya berjalan melalui jalan utama menuju ke gerbang utama benteng kerajaan. Sepanjang jalan sudah dapat dipastikan semua perhatian masyarakat yang ada tertuju pada dirinya. Namun Altezza tidak menunjukkan reaksi apapun, cuek, dan hanya diam dengan pandangan ke depan.


Pangeran kedua itu berkuda dengan kuda berwarna putih, bersama dengan pengawal setianya yaitu Kenan yang berkuda tepat di sebelahnya. Mereka berdua bersama dengan rombongan prajurit itu perlahan keluar dari benteng kerajaan, dan langsung saja berjalan mengarah ke wilayah pesisir Negeri Zephyra. Di dalam rombongan itu tidak hanya para prajurit berkuda saja, namun juga ada beberapa ahli sihir kerajaan yang diutus oleh Welt untuk mendampingi. Ahli sihir kerajaan adalah orang-orang terpilih, dan tidak semua orang di kerajaan atau di negeri ini bisa menjadi seorang ahli sihir kerajaan. Dengan begitu tentu kemampuan mereka tidak perlu diragukan lagi.


"Apakah benar mereka yang merampok gudang pangan di pelabuhan ada keterkaitannya dengan tiga orang pembunuh bayaran itu?" tanya Kenan, berbicara dengan nada rendah kepada Altezza ketika berkuda tepat bersebelahan dengan pangeran muda itu.


"Dari ciri-ciri yang disebutkan Franz, mereka sangat mirip dengan tiga orang itu," jawab Altezza, sikapnya datar, tenang, dan dingin.


Perjalanan yang cukup panjang, melalui hamparan rumput yang amat luas. Altezza akhirnya sampai juga di Pelabuhan Ormos, tempat yang cukup besar dan luas. Namun di pagi ini tempat itu terlihat ramai dengan para penjaga dari kerajaan, dan di bagian ujung pelabuhan terlihat dijaga sangat ketat, bahkan tidak semua orang boleh memasuki area tersebut, karena di dalam area itu terdapat sebuah gudang penyimpanan bahan pangan ekspor impor yang menjadi sasaran para pelaku.


"Selamat pagi, Yang Mulia." Seorang prajurit laki-laki dengan logo elang berwarna emas di dada kirinya berjalan menghampiri Altezza dan Kenan yang perlahan berjalan mendekati gudang.


"Mulai kapan tempat ini ditutup?" tanya Altezza kepada prajurit tersebut.


Prajurit itu sempat menundukkan kepalanya sebelum kemudian menjawab, "tepat sebelum matahari terbit, Yang Mulia. Kami juga sudah memeriksa ke setiap sudut pelabuhan mengenai kejadian ini."

__ADS_1


"Bagaimana dengan dua korban itu?" tanya Altezza kembali ketika dirinya dan Kenan di ambang pintu gudang yang terbuka lebar, dan tidak jauh dari dirinya berdiri. Kedua mata milik pangeran itu tertuju ke sebuah bercak darah yang ada di lantai gudang, tepat setelah melewati pintu gudang tersebut.


"Kedua penjaga tewas ditempat, dan jasad mereka telah dievakuasi serta dipulangkan kepada keluarga mereka," jawab prajurit itu dengan intonasi rendah, berduka dengan apa yang terjadi.


Altezza menghela napas berat mendengar hal tersebut, memandang datar ke arah dalam gudang yang tidak terlalu terang, "Kenan, catat dua nama penjaga yang tewas itu! Aku ingin melihat-lihat sebentar," ucapnya.


"Catat juga beberapa laporan dari saksi mata jika memang ada saksi mata yang masih hidup dan melihat kejadian semalam!" lanjut Altezza sembari berjalan masuk, tanpa menoleh sedikitpun ke belakang kepada Kenan.


"Baik, Yang Mulia." Kenan mematuhi perintah Altezza, kemudian beranjak kembali ke kuda miliknya bersama dengan prajurit tersebut untuk mengambil secarik kertas dan bulu bertinta.


Beberapa langkah melewati kotak-kotak kayu yang ada di dalam gudang, semua kotak itu berisikan bahan-bahan makanan yang akan diimpor dari beberapa negeri di luar sana, dan semua bahan makanan itu menjadi salah satu hal yang sangat penting ketika memasuki musim dingin yang sebentar lagi akan tiba.


Ketika berada di dalam gudang, angin perlahan berhembus masuk ke dalam secara lembut dan menenangkan, masuk melalui sela-sela gudang yang bahkan tidak dapat dilewati oleh tikus sekalipun. Angin itu perlahan berhembus menghampiri Altezza, dan berkeliling di sekitar tubuh milik pangeran muda itu. Altezza memejamkan matanya sejenak, kemudian membukanya kembali dan berbicara dengan nada yang sungguh lembut nan pelan, "apakah kau menyaksikan atau mengetahui soal kejadian ini semalam?" ucapnya, seolah sedang berbincang dengan angin tersebut, dan menanyakan hal tersebut.


Angin itu memelankan hembusannya, dan seperti biasa, ia sedang menanggapi serta memberikan jawaban untuk pertanyaan yang dilontarkan oleh tuannya. Entah apa yang mereka bicarakan, namun Altezza kembali melemparkan pertanyaan, "apakah mereka masih ada di sekitar sini?"


Komunikasi masih terus terjalin beberapa detik antara Altezza dengan angin miliknya, hingga pada akhirnya pangeran muda itu mengakhiri perbincangan dengan angin tersebut. Laki-laki berpakaian formal pangeran yang dominan dengan warna putih itu kembali berjalan menuju ke pintu depan gudang. Ekspresinya sungguh datar dan dingin, melangkah yakin menuju ke arah kuda miliknya yang terparkir tak jauh di depan gudang, dan kemudian langsung menungganginya.


Kenan yang sedang mencatat semua laporan dari prajurit sebelumnya, dibuat terkejut ketika melihat gerakan tiba-tiba yang pangerannya lakukan. Ia segera berjalan menghampiri Altezza dan bertanya, "anda mau ke mana, Yang Mulia?"

__ADS_1


"Kuserahkan yang di sini padamu, Kenan! Aku ingin memeriksa serta memastikan sesuatu terlebih dahulu, tenang saja aku akan segera kembali," jawab Altezza dengan sangat lugas, sebelum kemudian ia memacu kuda putih itu berlari keluar dari pelabuhan, meninggalkan para prajuritnya beserta pengawal setianya.


Kenan menghela napas panjang, melihat pangeran muda itu pergi ke arah hutan yang tidak jauh dari Pelabuhan Ormos. Ia tidak ingin tinggal diam. Kesatria kerajaan itu mengambil keputusan untuk mengirim beberapa ahli sihir kerajaan untuk mengejar serta menyusul ke mana Altezza pergi.


__ADS_2