
Arcadia, wilayah yang sungguh indah dan menyejukkan meski di bawah terik matahari yang panas. Altezza bersama dengan rekan-rekannya berjalan melewati beberapa bukit kecil yang di atasnya dijadikan ladang-ladang pertanian oleh penduduk setempat. Sepanjang melangkah ia dan ketiga temannya tidak melihat adanya orang di sekitar lokasi, suasananya tampak sepi dan tenang.
"Ada yang aneh, tak seharusnya sepi seperti ini," ujar Eugene tampak paling tahu soal lokasi tersebut.
"Mereka menyalakan api di puncak menara desa!" seru Alaia yang sudah lebih dahulu beberapa langkah di depan, dan berdiri di puncak salah satu bukit sembari menunjuk ke arah danau serta pedesaan yang terlihat dari atas situ.
Altezza, Eugene, dan Aaron kini berada di dekat Alaia. Mereka berempat memandangi sebuah pedesaan yang berjarak cukup jauh, pedesaan yang berada di tepi danau, dan sebuah menara kayu tertinggi di desa tersebut dinyalakan menggunakan api. Hal tersebut tentu mengundang berbagai asumsi Altezza dan rekan-rekannya ketika melihat puncak menara itu terbakar.
"Apakah sedang terjadi sesuatu di sana?" tanya Aaron.
"Mungkin saja ada acara adat lokal yang sedang berlangsung?" ujar Alaia.
Eugene menggeleng dan berkata, "kegunaan menara itu seperti menara lonceng di kerajaan-kerajaan, yang digunakan sebagai peringatan tanda bahaya mendekat jika loncengnya dibunyikan."
"Maka jika menara itu terbakar, itu berarti sama seperti lonceng yang dibunyikan?" gumam Altezza berpendapat.
"Tetapi bahaya apa yang sedang mendekat? Sejauh ini kita tidak melihat atau merasakan sesuatu yang janggal," sahut Alaia, kemudian memalingkan pandangannya ke arah lain, memandangi situasi lengang alam di sekelilingnya.
"Satu-satunya cara agar kita mendapatkan jawabannya adalah dengan mendekat ke desa itu," cetus Aaron.
Setuju dengan keputusan Aaron, mereka berempat pun segera lanjut berjalan, menuruni bukit-bukit tersebut dan mendekati desa yang mereka lihat dari kejauhan tadi. Sangat sepi, tidak terlihat adanya orang ketika Altezza dan teman-temannya mendekat desa tersebut, bahkan gerbang desa yang terbuat dari kayu tampak tertutup rapat.
Namun langkah Altezza dan ketiga temannya seketika terhenti, dipaksa berhenti oleh sebuah anak panah yang tiba-tiba melesat ke arah mereka, dan menancap di atas tanah tepat di depan kaki mereka berempat. Sesaat kemudian terdengar suara pria paruh baya yang berteriak dari balik gerbang dan bertanya, "siapa kalian?! Mengapa kalian bisa sampai sini?!"
__ADS_1
Saling menatap satu sama lain, itulah yang dilakukan oleh sekelompok pengembara itu dengan ekspresi terkejut bercampur bingung. Aaron melangkah satu langkah ke depan dan menjawab, "kami pengembara yang hendak melewati Wilayah Arcadia."
KreekKk ...!!
Gerbang kayu pun terbuka, dan terlihat seorang pria berambut pirang berkulit putih tampak berdiri dengan sebuah busur di salah satu tangannya. Tatapan pria tersebut tajam berwarna biru muda, menatap waspada keempat pengembara yang ada di hadapannya.
Altezza tampak terpaku, apalagi ketika dirinya melihat ciri-ciri yang menurutnya tampak aneh pada pria tersebut. Kedua daun telinga milik si pria di hadapannya memiliki ujung runcing ke atas, dan sangat berbeda dari manusia biasanya--ditambah Altezza belum pernah melihat yang seperti itu sebelumnya.
"Apakah kalian tidak melihat pertanda di menara belakangku?" tanya pria tersebut menatap tajam empat pengembara yang berdiri di ambang gerbang desa.
"Kami melihatnya, akan tetapi kami tidak paham apa yang sebenarnya terjadi, maka dari itu kami memutuskan untuk mendatangi desa ini," jawab Aaron, tampak vokal dibanding teman-temannya.
Melihat satu per satu, dari atas kepala hingga ujung kaki. Pria berambut pirang dengan kedua telinga lancip itu kemudian beranjak cepat ke belakang keempat pengembara tersebut sembari berkata, "cepat masuklah kalian!" dengan tatapan waspada ke arah luar gerbang.
"Di mana orang-orang? Mengapa sangat sepi di siang hari seperti ini?" cetus Alaia bertanya dengan pandangan tampak tidak bisa diam, memandangi rumah-rumah kayu sederhana di sekitarnya yang tampak tutup serta sepi.
Lirikan Altezza sempat tertuju pada sebuah kedai yang berada di ujung pertigaan di depan, dan melihat adanya bayang-bayang orang yang bersembunyi di balik kaca jendelanya, "kalian sedang bersembunyi dari apa?" tanyanya.
Selesai menutup rapat bahkan hingga mengunci gerbang kayu itu menggunakan rantai besi. Pria berambut pirang itu berjalan melalui keempat pengembara tersebut sembari menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, "kalian akan sulit untuk mengerti jika ku jelaskan di sini, maka ikutilah aku, setidaknya kita tidak berbincang di dekat gerbang ...!" pintanya.
Berjalan mengikuti pria berambut pirang dan bertelinga runcing itu. Altezza dan ketiga rekannya berjalan melalui jalanan tanah desa yang sangat sepi. Para penduduk desa bersembunyi di dalam rumah-rumah mereka, tidak ingin terlihat. Kebanyakan dari mereka tampak hanya mengintip dari balik gorden dan jendela rumah mereka untuk melihat kehadiran sekelompok pengembara yang datang ke desa mereka.
Beberapa kali Altezza melihat berbagai keunikan di desa yang baru pertama kali ia kunjungi. Kedua matanya menangkap sosok-sosok unik dan aneh dari sebagian penduduk desa, yang belum pernah ia lihat serta temui sebelumnya. Mereka sama seperti manusia, namun memiliki ciri-ciri tubuh yang agak sedikit berbeda dari manusia pada umumnya.
__ADS_1
"Masuklah, tenang saja, kami sebenarnya cukup menyambut hangat kehadiran pengembara, kok! Hanya saja kalian datang di situasi yang tidak tepat," ujar pria berambut pirang itu ketika sampai di kedai pertigaan, dan membuka pintu kedai yang terbuat dari kayu.
"Selamat datang," ujar seorang gadis dengan sikap serta intonasi yang sangat lembut dan hangat.
Di dalam kedai, sekelompok pengembara disambut baik oleh seorang gadis cantik berambut kelabu berpakaian pelayan. Akan tetapi kedua mata Altezza berhasil dibuat tercengang dan terkagum melihat apa yang saat ini berdiri di hadapannya. Seorang gadis cantik namun dengan telinga layaknya kucing di atas kepalanya, dan ekor kucing berwarna abu di bagian belakang. Perwujudan yang hanya bisa ia bayangkan melalui buku-buku dongeng yang dibacakan oleh ibundanya sebelum tidur, kini perwujudan itu benar-benar berdiri serta tersenyum kepadanya tepat di depan kedua matanya.
"Altezza, ayo duduk! Jangan bengong!" ujar Alaia berbisik kepada Altezza hingga menarik salah satu tangan laki-laki itu untuk duduk di salah satu meja kedai.
"Emily, bikinkan tamu-tamu kita ini minuman, ya ...!" ujar pria berambut pirang itu dengan intonasi baik kepada gadis pelayan.
Gadis pelayan bertelinga serta berekor kucing itu menundukkan kepalanya, tersenyum dan berkata, "baik, minuman akan segera tiba ...!" dengan intonasi lembut dan ramah.
"Kalian tunggu sebentar di sini, ya ...! Aku ingin mengambil sesuatu dahulu," lanjut pria berambut pirang itu, kemudian beranjak pergi menuju lantai dua melalui anak tangga di ujung belakang kedai.
Sembari menunggu, perbincangan ringan dan singkat di antara sekelompok pengembara itupun terjalin.
"Ada apa, Altezza? Wajahmu terlihat aneh, seperti orang yang baru saja melihat keajaiban," ujar Aaron yang duduk di hadapan Altezza.
"Tidak ada apa-apa," sahut Altezza tersenyum kecil, "hanya saja aku baru melihat yang seperti mereka," lanjutnya dengan intonasi rendah.
Eugene tersenyum lebar dan berbicara, "oh iya, aku belum memberitahumu kalau wilayah ini tidak hanya dihuni oleh manusia biasa seperti kita saja."
"Lagian orang sedang berbicara, Aaron seenaknya memotong, sih!" lanjut Eugene tampak kesal bila mengingat apa yang diperbuat Aaron kepadanya beberapa waktu sebelumnya.
__ADS_1
Aaron hanya terkekeh mendengar hal tersebut, begitu pula dengan Alaia yang juga ikut tertawa meski gadis itu tampak tidak begitu mengerti apa yang sedang dibahas.