Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Lanjut! #98


__ADS_3

Beberapa waktu telah berlalu, dan Altezza menghabiskan untuk bersama dengan anak-anak serta para biarawati Gereja Vesperin. Ia tidak bisa berlama-lama lagi berada di sana, dan memutuskan untuk segera berpamitan dengan Keiza, Alia, dan Arthur sebelum melanjutkan perjalanannya.


"Terima kasih sudah menyelamatkan Arthur," ucap Alia ketika berdiri di depan gerbang desa bersama Keiza, Arthur, dan Lulu.


Gadis kecil bernama Lulu itu sedikit menengadahkan kepalanya, menatap Altezza dan berkata, "terima kasih Kak Pengembara sudah membantu Kak Arthur," dengan intonasi kecil yang menggemaskan.


Altezza tampak tersenyum mendengar semua ucapan terima kasih tersebut. Arthur melangkah sedikit dekat dengan dirinya, menengadahkan kepalanya untuk menatap Altezza sembari bertanya, "apakah kita bisa bertemu lagi, Kak Pengembara?"


"Tentu saja, suatu saat kita akan bertemu lagi, Arthur." Altezza tersenyum dan langsung menjawab pertanyaan tersebut.


"Hati-hati selama perjalanan, semoga Tuhan selalu menjagamu," ucap pastur perempuan bernama Keiza sembari tersenyum lembut menatap sosok Altezza.

__ADS_1


Tidak ingin mengulur waktu lebih lama lagi, Altezza segera melanjutkan perjalanannya. Ia melangkah pergi secara perlahan, menjauhi desa tersebut dan hendak menuju kembali ke hutan.


"Hati-hati, Kak Pengembara!" seru Arthur, berdiri di samping Lulu dan Alia, dan melambaikan tangannya ke arah Altezza yang sudah beberapa langkah pergi, "dadah!!" timpal Lulu berseru, juga melambaikan kedua tangannya dengan antusias dan sikapnya yang sungguh riang. Altezza sempat menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang, dan melambaikan tangannya, sebelum akhirnya lanjut melangkah pergi.


Melanjutkan perjalanan kembali, itu yang dilakukan oleh Altezza. Tentunya dirinya tidak bisa menetap di satu tempat saja, karena bukan seperti itu seorang pengembara. Berjalan melewati hutan kecil yang berada dekat dengan desa, sebelum akhirnya dirinya menemui kembali hamparan luas rerumputan berwarna hijau. Altezza berjalan ditengah padang rumput tersebut, di bawah pemandangan indah langit jingga yang dipenuhi coretan putih awan yang menjadi pertanda bahwa cuaca sedang baik saat ini. Hembusan angin juga dapat dirasakan, cukup kencang namun terasa lembut, menerpa tubuh pengembara.


Negeri Lagarde rupanya tidak kalah indah dengan Negeri Zephyra sebagai sama-sama negeri dengan iklim subtropis. Memiliki banyak sekali wilayah pegunungan, perbukitan, rerumputan, dan hutan. Semuanya terlihat indah, dan menyejukkan untuk dipandang sekaligus dinikmati. Pemandangan alam yang masih sangat asri di banyak lokasi serta wilayah.


Ketika baru saja masuk ke dalam hutan, seekor elang putih bernama Shiro tiba-tiba saja terlihat terbang di atas sana, sebelum akhirnya mendarat dan hinggap pada salah satu lengan milik Altezza. Shiro datang dengan membawa dua gulungan surat yang ada di pergelangan kaki kanannya. Altezza menghentikan langkahnya sejenak, dan mengambil surat sekaligus membaca surat tersebut.


Pada gulungan pertama terlihat logo elang emas milik Kerajaan Zephyra di sudut bawah kertas, sepertinya itu adalah surat dari istananya sendiri. Sedangkan di gulungan kertas kedua hanyalah kertas biasa, namun dengan gaya tulisan yang sangat rapi, dan di akhir surat ditulis siapa yang menuliskannya.

__ADS_1


Altezza diam sepanjang ia membaca kedua surat tersebut, dan sempat dibuat tersenyum-senyum sendiri ketika sedang membaca surat yang ditulis dari orang-orang yang sudah pasti ia rindukan.


Selesai membaca, pengembara laki-laki itu tampak mencari-cari sesuatu, menoleh ke sana kemari namun tak menemukannya. Benar saja, dirinya tak membawa alat tulis yang bisa digunakan untuk membalas kedua surat itu. Akan tetapi Altezza tampaknya tidak kehabisan akal. Dirinya mencari dua buah helai daun yang memiliki ukuran satu telapak tangannya, dan kemudian mengambil ranting pohon kecil yang memiliki ujung runcing.


Di atas sebuah batu yang ada di dekat pohon, Altezza perlahan namun pasti mengukir tulisan pada permukaan daun tersebut dengan sangat hati-hati agar tidak tembus dan rusak. Hal itu juga ia lakukan di lembaran daun kedua. Shiro tampak duduk manis menunggu tuannya selesai di atas batu yang sama, tepat di depan Altezza.


"Shiro, sampaikan ini kepada mereka, ya ...?" setelah selesai, Altezza menggulung perlahan serta sangat hati-hati, dan kemudian mengikatkannya pada ikatan yang sudah ada di cakar kanan milik Shiro.


Shiro berkicau layaknya burung biasa, sebelum kemudian melebarkan kedua sayapnya dan mulai terbang kembali meninggalkan Altezza, membawa dua surat tersebut untuk disampaikan kepada dua orang yang menuliskan kedua surat awal. Altezza terlihat tersenyum sejenak, memandangi Shiro yang mulai meninggi dan menjauh, sebelum kemudian melanjutkan kembali perjalanannya.


***

__ADS_1


__ADS_2