
Menjelang sore, berjalan untuk kembali menuju ke istana. Sepanjang jalan Kenan terus bertanya soal apa alasan Altezza meminta informasi mengenai pendaftaran petualang dari serikat petualang. Namun sayangnya pertanyaan-pertanyaan itu tidak mendapatkan jawaban dari pangeran tersebut yang lebih banyak diam atau mendiamkan pengawalnya, hingga benar-benar sampai di istana.
"Saya masih bingung dengan anda, Yang Mulia. Sepanjang jalan anda hanya diam, tidak memberikan kejelasan dan alasan mengapa anda sangat menginginkan informasi mengenai pendaftaran petualang itu. Saya merasa dipermainkan jika seperti ini." Kenan berbicara, berjalan melalui gerbang, dan di antara taman bunga yang ada di halaman depan istana yang sungguh luas.
Altezza menghentikan langkahnya, menghadap Kenan dan berkata, "aku akan memberikan penjelasan padamu nanti, Kenan. Orang-orang di istana pun tidak ada yang tahu, bahkan raja dan ratu juga, jadi tidak ada permainan di sini karena memang aku tidak bercerita apapun dengan siapapun selain diriku serta angin milik ku sendiri."
Pangeran itu kemudian tersenyum, menatap wajah Kenan yang terlihat kecewa dengannya, "terima kasih untuk informasinya, dan kau boleh beristirahat."
Kenan menganggukkan kepalanya, menundukkan kepalanya tetap memberikan rasa hormat kepada laki-laki tersebut dan kemudian berkata, "baik, Yang Mulia," sebelum kemudian beranjak pergi menuju gerbang utama istana.
Ketika di ambang gerbang tersebut, Altezza menghentikan langkah Kenan dengan berkata, "Kenan, temui aku di ruang kerjaku nanti malam, aku ingin berbincang denganmu malam ini."
Kenan menoleh kembali ke belakang, mengangguk dan menjawab, "baik, saya akan temui anda setelah makan malam," sebelum akhirnya lanjut berjalan keluar dari area istana.
Altezza menghela napas berat setelah semua itu, merasa dirinya akan menghadapi hal yang berat. Ia segera kembali masuk ke istana, mengingat hari perlahan menjelang sore, dan kemudian menuju ke taman samping istana untuk mencari peliharaan kesayangannya. Namun tidak ada tanda-tanda dari Shiro di sana, berkali-kali pangeran muda itu sudah mondar-mandir bahkan memeriksa area pepohonan di taman tersebut, tetapi tetap saja hasilnya nihil.
Merasa lelah dan sedih, pangeran muda itu duduk di gazebo yang menjadi tempat pertama Shiro diobati oleh Ratu Caitlyn. Sudah satu hari tanpa adanya tanda-tanda keberadaan Shiro yang tiba-tiba saja menghilang tanpa kejelasan, dan tentu hal tersebut membuat Altezza bingung.
"Ibu kira kamu ke mana tidak ikut mengantar sahabat-sahabat mu ke Pelabuhan Ormos tadi, rupanya kamu di sini," cetus suara perempuan yang terdengar sungguh lembut, mendekat dari belakang Altezza. Caitlyn berjalan mendatangi putra bungsunya yang sedari tadi memandang ke bawah dengan raut wajah muram, "ada apa ini? Apa yang membuat putra ibu gundah?" lanjut wanita itu.
"Shiro menghilang," jawab Altezza, singkat, menoleh dan menatap Caitlyn yang sudah duduk di sebelahnya dengan tatapan sendu.
__ADS_1
"Bagaimana bisa?" sahut Caitlyn, turut sedih mendengar kabar tersebut.
Altezza kembali menundukkan pandangannya, sebelum kemudian pangeran muda itu mulai bercerita mengenai menghilangnya Shiro yang sangat tiba-tiba, bahkan mungkin tanpa alasan atau kejelasan yang jelas, dan selain sedih juga membuatnya bingung.
"Aku saja tidak tahu, dia menghilang begitu saja secara tiba-tiba, dan ini sudah dari kemarin sore." Altezza menjawab pertanyaan tersebut.
"Apakah kamu sudah benar-benar mencarinya?" tanya Caitlyn kembali.
Altezza menghela napas berat dan menjawab, "sudah, dan memang tidak ada tanda-tanda darinya."
Ratu Caitlyn kemudian merangkul putra bungsunya dengan penuh kasih sayang layaknya anak-anak, tidak peduli meskipun Altezza sendiri berusia 18 tahun, namun kesan anak-anak tetaplah tidak pernah hilang dari pandangan Caitlyn sebagai ibundanya.
"Mungkin saja ... Shiro terbang kembali ke rumah asalnya? Atau ... dia pergi sejenak untuk bertemu keluarganya, dan suatu saat bisa saja dia kembali lagi?" ujar Caitlyn, menoleh dan menatap hangat putranya dengan senyuman lembut yang selalu terpampang.
Caitlyn tersenyum dan mengangguk, menjawab dengan berkata, "kamu menemukannya di alam liar, bukan? Sebelum kamu bawa ke istana, pada dasarnya dia adalah hewan liar yang pasti memiliki rumah atau tempat asalnya sendiri, maka tidak menutup kemungkinan dia pergi ke tempat asalnya."
Apa yang dikatakan oleh Ratu Caitlyn tidaklah salah, dan hal tersebut membuat Altezza termenung sejenak. Shiro ia temukan di alam liar, dan kemungkinan dia kembali ke alam liar bisa saja benar.
"Jangan khawatir! Shiro elang unik, dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri," lanjut Caitlyn, dengan intonasi yakin.
"Elang yang unik ...?" gumam Altezza, tampak memikirkan sesuatu soal elang putih itu.
__ADS_1
***
Perpustakaan Istana, petang ini sebelum waktu makan malam tiba. Altezza berada di perpustakaan tersebut, sendirian--lebih tepatnya hanya ada dirinya dan penjaga perpustakaan yang kebetulan jadwal Adelia untuk berjaga. Pangeran itu berada di ruang baca yang sangat luas sendiri, menempati salah satu meja panjang, dan tampak sedang membaca sebuah buku tua yang cukup tebal.
Beberapa halaman telah ia baca dengan cepat seperti sedang mencari tahu sesuatu. Hingga pada akhirnya kedua matanya terhenti ketika melihat sebuah gambar atau lukisan dua ekor elang berwarna hitam dan putih yang tampak sedang bertikai di salah satu halaman yang ia baca. Salah satu tangan Altezza mengusap gambar elang putih yang posisinya berada sedikit di bawah elang hitam.
"Sebuah legenda tua yang berasal dari Benua Utara pernah sangat terkenal satu abad yang lalu, tentang adanya sebuah kekuatan gelap dari Utara yang mengancam kedamaian dan sebuah keajaiban alam yang berusaha melawan kekuatan tersebut serta mempertahankan kedamaian."
Tulis sebuah kalimat yang berada tepat di bawah gambar kedua elang yang sedang terlibat dalam pertikaian di udara. Hanya satu artikel yang tertulis tepat di bawah gambar tersebut, tidak ada kalimat atau penjelasan lain karena halaman itu hampir memenuhi satu halaman.
Di tengah Altezza sangat serius mendalami serta membaca artikel yang tertulis di sana. Adelia tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingnya dan kemudian berkata, "ini adalah cerita atau legenda yang sangat terkenal, bahkan ketika saya masih berusia enam tahun, saya hampir selalu diceritakan tentang legenda tersebut sebelum tidur."
Altezza menoleh dan langsung bertanya, "apakah kau mengetahui makna dari gambar kedua elang ini?"
Adelia perlahan mengambil alih buku tersebut dengan sedikit menggeser agar berada tepat di depannya, sebelum kemudian membalikkan halaman buku tersebut ke halaman berikutnya, membaca serta mencari sesuatu di antara tulisan-tulisan yang memenuhi halaman buku.
"Makna elang hitam itu menggambarkan kekuatan kegelapan yang mengancam kedamaian, sedangkan elang putih ...." Adelia tiba-tiba saja terhenti dari bacaan, karena memang tulisan pada buku tersebut sudah sangat pudar dan tidak jelas hingga tidak bisa dibaca.
Rasa penasaran Altezza seketika meningkat, dan kembali mengambil alih buku tersebut untuk membaca tulisan-tulisan yang ada di sana. Beberapa saat setelah membaca berbagai kalimat mengenai legenda soal gambar kedua elang tadi. Pangeran muda itu menemukan sebuah kalimat yang terlihat sudah sedikit pudar dan usang, dan cukup menarik perhatiannya.
"Legenda ini berasal dari Benua Utara telah terjadi berbagai revisi serta berbagai versi, banyak versi yang menyatakan elang hitam itu adalah peliharaan setia pangeran kegelapan, namun banyak juga versi yang menyatakan elang hitam tersebut hanyalah perumpamaan dari kekuatan gelap yang sedang mengancam kedamaian yang terjadi satu abad yang lalu."
__ADS_1
Namun artikel tua itu tidak membuat Altezza puas setelah membacanya. Tidak ada keterangan atau kejelasan mengenai keajaiban alam yang ia baca di kalimat pertama tepat di bawah gambar elang hitam dan putih di halaman sebelumnya. Tidak ada pernyataan serta keterangan juga mengenai seekor elang berwarna putih yang ada di gambar sebelumnya.
"Asal Benua Utara? Kekuatan gelap? Kegelapan ...? Keajaiban alam ...?" batin Altezza, melipat kedua lengannya, bingung dan berpikir, setelah membaca banyak kalimat serta artikel dari buku tua tersebut, "kegelapan ...? Alam ...? Utara ...? Apa maksudnya?" batinnya kembali.