Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Berbagai Benua #59


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu paginya untuk berjalan-jalan di wilayah kota, Altezza kembali lagi ke istananya. Kegiatannya hari ini sangatlah minim, bahkan mungkin tidak ada. Pada siang harinya, pangeran muda itu memutuskan untuk membaca beberapa buku di perpustakaan istana. Duduk sendirian di antara banyaknya meja kursi yang ada di aula utama perpustakaan istana, dengan tiga buah buku yang cukup tebal di hadapannya.


Pangeran muda itu tampak serius dan asyik dengan buku-buku yang ia baca, apalagi buku-buku tersebut berisikan tentang pengetahuan umum geografi negeri-negeri yang belum pernah ia sambangi. Salah satu dari ketiga buku tersebut tampak menuliskan banyak sekali tempat yang menyimpan misteri, keindahan, serta pertanyaan.


"Ada apa gerangan, Yang Mulia? Tiba-tiba anda menjadi kutu buku seperti ini," cetus seorang perempuan berseragam merah putih, berjalan melewati belakang tempat duduk Altezza dengan kedua tangan penuh buku-buku menumpuk. Perempuan itu adalah Adelia, yang kebetulan ia mendapatkan jadwal berjaga di siang hingga sore hari.


"Aku tidak ada kegiatan hari ini, jadi waktu luang ku sangatlah banyak," jawab Altezza, tanpa menoleh, pandangannya masih tertuju ke arah buku yang sedang ia baca.


Adelia tampak sibuk menata buku-buku yang ia bawa pada rak buku yang terletak di belakang pangeran tersebut. Beberapa kali perhatiannya cukup tertarik untuk melirik dan memandangi Altezza, karena tidak biasanya pangeran muda itu tampak asyik membaca buku, bahkan buku yang dia baca langsung ada tiga buku di mejanya.


"Bolehkah saya tahu anda sedang membaca apa, Yang Mulia?" tanya Adelia di sela-sela ia sibuk menata buku-buku yang ia bawa sesuai dengan raknya.


"Benua Barat," jawab singkat Altezza, terus melanjutkan bacaannya, fokusnya seolah sulit untuk terpecah oleh hal lain.


Adelia tersenyum kecil secara sembunyi-sembunyi tanpa bisa dilihat atau diketahui oleh Altezza--lagipula Altezza tampak tidak mempedulikan sekelilingnya ketika membaca. Perempuan itu selesai menata beberapa buku, dan kemudian berjalan mendekati pangeran itu sembari berkata, "anda sedang belajar untuk apa memangnya? Maaf saya jadi pengen tahu, Yang Mulia."


"Hanya memperluas pengetahuan," jawab Altezza, singkat dan jelas, tanpa menoleh sedikitpun kepada Adelia yang saat ini berdiri tepat di sebelahnya.

__ADS_1


Adelia hanya tersenyum dan memilih untuk tidak ingin mengganggu pangeran yang sedang asyik membaca buku itu. Ia kemudian beranjak pergi dari sana sembari berkata, "jika anda membutuhkan saya, saya ada di meja depan, Yang Mulia."


"Baik, terima kasih, Lia," sahut Altezza, tanpa melirik sedikitpun ke arah Adelia yang berjalan menjauh darinya.


Benua Barat dan Benua Selatan. Dua buku yang sedikit tebal itu menjadi dua buku yang lebih sering dilirik serta dibaca oleh Altezza saat ini. Sedangkan satu buku lagi terlihat bersampul biru muda, tanpa judul, hanya terdapat logo resmi Kerajaan Zephyra yakni seekor elang berwarna keemasan yang sedang melebarkan kedua sayapnya yang tampak gagah di tengah-tengah sampul depan. Sepertinya buku ketika adalah buku tentang Kerajaan serta Negeri Zephyra.


Banyak sekali hal-hal yang kurang diketahui oleh Altezza sendiri ketika membaca kedua buku tersebut. Benua Barat terkenal dengan keindahan alam serta saljunya, apalagi di saat musim dingin seperti ini. Banyak sekali hal-hal yang belum begitu dieksplorasi, bahkan mungkin semua pengetahuan yang dimuat baik di perpustakaan kerajaan ataupun perpustakaan pribadi istana belumlah lengkap. Apalagi ketika melihat buku yang memuat pengetahuan soal Benua Selatan. Sama-sama tempat yang dingin, bahkan lebih dingin daripada Benua Utara. Namun meskipun memiliki suhu yang ekstrem, kedua benua antara Selatan dan Utara tetaplah ada kehidupan, bahkan ada dua kerajaan digdaya yang menguasai kedua benua tersebut.


Berdasarkan apa yang ditulis pada buku yang dibaca oleh Altezza. Satu kerajaan digdaya yang berkuasa di Utara adalah kerajaan sahabatnya yakni Cedric yaitu Kerajaan Arandelle. Sedangkan satu-satunya kerajaan digdaya yang berkuasa di Selatan adalah Kerajaan Mystick, tempat asal seorang pangeran bernama Asta.


Musim dingin adalah musim yang cukup ekstrem, mungkin hampir sama dengan musim panas yang dapat menyebabkan kekeringan berkepanjangan, musim dingin juga kadang dapat menyebabkan kedinginan yang berkepanjangan. Apalagi bagi bangsa serta kerajaan-kerajaan yang berada di Benua Tengah seperti salah satunya adalah Kerajaan Zephyra, yang pada dasarnya semua manusia yang hidup di sana lebih terbiasa merasakan hujan dan kemarau daripada musim dingin bersalju.


"Bagaimana dengan Timur?" gumam pangeran muda itu, tampak penasaran sendiri, sebelum kemudian memutuskan untuk beranjak dari mejanya dan mencari buku pengetahuan soal Benua Timur.


Sebuah buku dengan judul Benua Timur, Altezza menemukannya di rak yang tak jauh dari meja yang ia gunakan untuk membaca. Tanpa berbasa-basi dan karena penasaran, pangeran muda itu langsung mengambil dan membawanya kembali ke meja.


Buku dengan sampul menggambarkan padang pasir yang luas serta hamparan rumput dan gunung-gunung tinggi. Benua Timur, benua yang luas sama seperti keempat benua lainnya, namun berbeda karena memiliki iklim yang cenderung panas meskipun tak jarang juga mengalami curah hujan yang cukup tinggi.

__ADS_1


Selain padang pasir yang terkenal sangat luas bagaikan samudera. Benua Timur juga memiliki sisi hijau yang indah, hamparan rumput dan perbukitan serta pepohonan yang menjadi wilayah kekuasaan suatu kerajaan di sana. Hanya ada satu kerajaan digdaya bernama Kerajaan Neverley yang berkuasa di Benua Timur, berkuasa di atas kerajaan-kerajaan kecil lainnya.


Ketika sampai di halaman pertengahan buku. Perhatian Altezza tampak cukup tertarik dengan sebuah gambar yang ada. Gambar tersebut menampilkan pemandangan oasis yang indah, namun dengan makhluk yang sangat besar dan mengerikan yang seolah muncul dari tengah danau oasis tersebut. Tepat di bawah gambar oasis itu tertuliskan "Oasis Terkutuk".


"Sebuah legenda serta mitos yang terkenal di kalangan manusia Benua Timur, terdapat sebuah Oasis Terkutuk yang konon akan menggoda pada pengembara tersesat di tengah padang pasir. Mereka akan mendekati oasis tersebut karena kesejukan serta air danaunya yang segar. Namun di saat yang tepat, sebuah ular raksasa akan muncul dari dalam danau, dan memberikan kutukan terlarang kepada siapapun yang mendekati oasis nya, sebelum kemudian ia akan memakan mangsanya."


Sebuah kalimat yang cukup menarik perhatian Altezza, kalimat berisikan legenda serta mitos tentang Oasis Terkutuk itu. Di tengah Altezza serius membaca tentang Oasis Terkutuk dan makhluk misterius yang menghuni oasis tersebut. Sosok Adelia tiba-tiba saja sudah berdiri tepat di sebelahnya dan berkata, "legenda yang mengerikan," dan cukup membuat pangeran muda itu terkejut.


Altezza bersandar pada kursinya, menghela napas sejenak dan berkata, "bisakah kau beritahu kalau berada di samping ku?!"


Adelia hanya tertawa dan kemudian berbicara, "maaf, Yang Mulia, saya tidak ingin mengganggu anda."


"Baru saja kau telah menggangguku," sahut Altezza, melirik tajam gadis penjaga perpustakaan yang berdiri tepat di sebelahnya. Namun perempuan itu hanya tertawa kecil melihat bahwa dirinya telah membuat pangeran itu terkejut dan kesal.


Adelia kemudian tersenyum dan bertanya, "bolehkah saya bergabung?"


"Terserah, asalkan jangan menggangguku ketika sedang membaca!" sahut Altezza, kemudian lanjut membaca buku tentang Benua Timur itu.

__ADS_1


__ADS_2