Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Hasil Pertempuran Langit #156


__ADS_3

Gemuruh langit terdengar disusul dengan petir berwarna biru yang terus menyambar. Lambat laun awan-awan di langit perlahan semakin pekat, berwarna hitam dengan angin yang berhembus dengan sangat kencang. Kondisi alam yang tampak sangat tidak stabil terlihat di atas langit Zephyra. Pemandangan langit yang sungguh mengerikan, seolah sedang menggambarkan kemarahan alam.


Dari antara pekatnya awan-awan di atas sana, muncul seekor elang berbulu putih, terbang terus ke bawah dan menuju ke Istana Zephyra. Pergerakannya tampak sangat lemah, bahkan lebih terlihat jatuh--bukan terbang. Setiap kali ia berusaha mengepakkan kedua sayapnya, sehelai bulu putih miliknya terlepas dan perlahan melayang jatuh. Sosoknya dapat disaksikan oleh siapapun yang berada di ibu kota karena memang keberadaannya sangat mencolok dengan bulu berwarna putih yang terbang di antara gelapnya awan.


Melintas tepat di atas Ibu Kota Zephyra dengan pergerakan tak seimbang, sebelum akhirnya Shiro menjatuhkan tubuhnya yang lemah itu tepat di halaman istana.


BruukkKk ...!!!


"Shiro!?"


Ratu Caitlyn yang pada saat itu ada tepat di depan pintu istananya dikejutkan oleh seekor makhluk berbulu putih cantik yang tiba-tiba saja jatuh tepat di depannya, terlebih ia mengenali makhluk tersebut. Bergegas, wanita cantik itu melangkah mendekati Shiro untuk melihat kondisinya.


"Yang Mulia, menyingkir! Siapa tahu ini adalah kiriman musuh!" tegas dua orang prajurit dengan tombak, menghunuskan tombak mereka ke arah tubuh Shiro yang sudah tak bergerak di atas paving halaman.


"Apa yang kalian lakukan?! Turunkan senjata kalian! Aku mengenal elang ini!" sahut Ratu Caitlyn tampak marah, dan langsung memerintahkan dengan sangat tegas kedua prajurit itu untuk tidak menghunuskan mata tombak mereka ke arah Shiro.


Ratu Caitlyn sedikit berlutut di dekat Shiro, dan melihat tubuh elang berbulu putih itu yang tampak dipenuhi oleh bercak darah serta luka. Wanita cantik berambut cokelat muda itu kemudian menggendong dengan lembut dan perlahan tubuh Shiro yang terkulai.


"Maafkan kami, Yang Mulia," ujar kedua prajurit itu merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, kembalilah ke pos kalian ...!" ujar Ratu Caitlyn dengan intonasi lembut, meski di awal ia sedikit bernada kasar dan tinggi, sebelum kemudian ia beranjak pergi dari sana kembali masuk ke dalam istana.

__ADS_1


Sang ratu membawa Shiro benar-benar dengan cara menggendongnya, layaknya ia sedang menggendong seorang bayi, dan sangat hati-hati. Memilih taman samping istana, dan menjadikan gazebo tempat kesukaannya, dan perlahan meletakkan tubuh Shiro di atas meja keramik yang ada di sana.


Bulu-bulu yang tampak acak-acakan, bahkan beberapa sudah tak menempel lagi pada tubuhnya. Salah satu kaki tampak cedera hingga berdarah, luka gores yang cukup dalam di kedua sayapnya, dan jambul yang terpotong. Tubuh putih milik Shiro juga terlihat diwarnai oleh beberapa bercak darah yang entah itu darimana--karena ada beberapa titik bercak di mana tidak ditemukan luka di sana.


"Mengapa kamu bisa sampai seperti ini, Shiro? Apa yang terjadi?" gumam Ratu Caitlyn ketika ia membersihkan beberapa bercak darah dengan ujung dari gaun putihnya. Ia tampak tak peduli kalau gaun indahnya akan kotor.


Setelah itu, sang ratu tampak mengulurkan kedua tangannya kepada Shiro, dan perlahan mulai merapalkan mantra. Sebuah cahaya berwarna kuning keemasan muncul dari kedua telapak tangannya, yang kemudian cahaya tersebut perlahan menyelimuti tubuh Shiro secara keseluruhan. Kekuatan magis digunakan oleh Ratu Caitlyn, membuat beberapa luka terbuka pada tubuh elang itu tertutup dan kembali seperti semula. Namun mantra dan sihir tersebut memberikan efek samping padanya.


"Uhuk!!" Ratu Caitlyn batuk beberapa kali, ia menutupinya dengan salah satu telapak tangannya, dan terlihat sedikit bercak darah pada telapak tangan tersebut.


Bernapas dengan cukup berat, sang ratu tampak sedang menenangkan dirinya, "aku terlalu banyak menggunakan sihir," gumamnya, mengingat sebelumnya ia telah menguras sihir penyembuhannya hanya untuk memulihkan sang raja.


"Terima kasih atas niat baikmu, Baginda Ratu."


Di saat yang bersamaan, tubuh Shiro yang masih terkulai lemah di atas meja keramik tersebut mengeluarkan cahaya berwarna hijau, hingga cahaya tersebut terpancar dengan sangat terang dan menyilaukan mata. Ketika kedua mata sang ratu kembali terbuka, sosok tubuh dari elang berbulu putih tersebut menghilang begitu saja, lenyap tanpa jejak sedikitpun.


"Tidak! Apa yang terjadi? Di mana ...?" Ratu Caitlyn berhasil dibuat kebingungan, bertanya-tanya. Ia berkali-kali memeriksa di sekitar, bahkan sampai ke kolong meja keramik tersebut. Akan tetapi ia tak menemukan unggas berbulu putih tersebut. Benar-benar lenyap, menghilang begitu saja seolah tertelan oleh cahaya berwarna hijau itu.


Sang ratu perlahan menghentikan niatnya untuk terus mencari. Ia beranjak dari bangku tersebut, berjalan dan berdiri di tengah taman bunga, dengan pandangan memandang ke arah langit. Tak ada apapun di atas sana selain hembusan angin yang terlihat sangat kencang membawa beberapa ranting pohon, dan awan-awan gelap dicampuri oleh petir yang terus menyambar. Tanpa berbicara sedikitpun, sang ratu hanya terdiam di sana, dengan dialog-dialog pertanyaan yang tak berhenti berlalu-lalang di dalam kepalanya.


***

__ADS_1


Melayang di atas puluhan ribu pasukannya yang terus bergerak menuju dan semakin mendekati Ibu Kota Zephyra. Astaroth sedikit dikejutkan oleh sosok Baltazhar yang tiba-tiba saja muncul dan datang kepadanya, dengan keadaan jubah hitam yang sudah terkoyak-koyak, memperlihatkan wujud aslinya. Iblis dengan rupa layaknya seorang manusia, namun kulit berwarna merah membara, tanduk melengkung ke belakang di atas kepala plontos miliknya, dan kedua iris mata tajam berwarna jingga kemerahan yang terus berapi-api.


"Maafkan saya, Yang Mulia. Untuk yang kedua kalinya saya gagal untuk memenuhi tugas dari anda sepenuhnya." Baltazhar berbicara dengan nada bicara beratnya, namun dengan intonasi rendah sembari menundukkan kepalanya ketika berada di samping Astaroth.


Astaroth tak berekspresi, ia benar-benar terlihat layaknya seorang laki-laki tampan yang memiliki sikap dingin, sosok yang dibuat sempurna dengan kedua iris mata berwarna biru muda yang sudah mirip seperti es.


Baltazhar kembali mengangkat kepalanya dan melanjutkan perkataannya, "salah satu utusan alam yang rupanya tangguh telah menghalangi rencana saya, Yang Mulia."


"Lalu apa yang terjadi dengan langit ini?" tanya Astaroth, memandang ke arah awan-awan hitam yang ada tepat di atas kepalanya. Suasana yang tampaknya lebih keruh daripada sebelumnya, angin benar-benar terasa sangat kencang, petir yang semakin intensif menyambar bahkan beberapa kali hingga menyentuh dan membakar permukaan tanah. Kondisi yang sangat berbeda daripada sebelumnya, terlebih sejauh mata memandang kondisi langit tersebut hampir rata secara keseluruhan di langit Zephyra.


"Kemarahan alam, Yang Mulia. Sepertinya apa yang saya lakukan terlalu cepat, karena telah memancing alam untuk semakin murka," jawab Baltazhar, tampak cukup was-was terhadap langit di atasnya.


Astaroth melihat ketakutan dan kewaspadaan yang semakin meningkat pada salah satu anak buahnya lalu mencibirnya, "apa yang kau takutkan? Kau takut dengan alam? Sungguh lemah sekali dirimu, Baltazhar! Seharusnya kau malu pada wujud aslimu yang sudah terlihat itu."


"Yang Mulia, dengan segala hormat saya ingin berbicara." Baltazhar menundukkan kembali kepalanya kepada Astaroth, sebelum akhirnya ia lanjut angkat bicara, "apapun yang akan kita hadapi, sebaiknya kita tak boleh meremehkan atau memandang rendah musuh kita."


"Tenanglah, Baltazhar ...!" Astaroth dengan mudahnya langsung menyangkal perkataan serta nasihat Baltazhar, "tak ada yang perlu ditakuti, semuanya sudah ada dalam genggamanku, tinggal bagaimana kita mengeksekusinya."


"Memang, semuanya mungkin sudah ada dalam genggaman anda, Yang Mulia. Namun apakah anda bisa menggenggam tumpukan pasir tanpa tumpah sedikitpun?" sahut Baltazhar.


Lirikan tajam diterima oleh Baltazhar, kedua iris mata biru milik Astaroth menyala, dan di saat itu juga sosok garang Baltazhar dibuat mengerang kesakitan memegangi wajah kirinya, "ampun, Yang Mulia. Mohon maafkan kelancangan saya ...!" ucapnya memohon ampunan, memegangi wajah sebelah kirinya yang sudah membeku dan mati rasa.

__ADS_1


"Gerakkan pasukan lebih cepat! Kita akan serang ibu kota malam ini juga ...." Astaroth berbicara dengan intonasi rendah dan sikap yang dingin, tatapannya tajam terus memandang ke depan, melihat beberapa gunung dan bukit yang harus ia dan pasukannya lalui.


__ADS_2